Radikalisme di Kampus UHO

Sebenarnya isu ini sudah basi, sudah dibahas dibanyak media bebera tahum belakangan ini. Tapi karena tadi ada yang posting lagi soal ini. Maka sayapun kepikiran ingin menuliskannya.

Ya lumayanlah itung-itung buat nambah arsip tulisan blog. Hehehe.... Kan sayang kalau dibiarkan kosong terus. Mumpung masing semangat nulis. Heheheh...

***
Kita mulai dengan pertanyaan yang juga mwnjadi judul blog "Radikalisme di UHO" memang ada?
Kalau kita berangkat dari oemahaman banyak orang twrmasuk pemerintah bahwa radikalisme itu adalah paham yangbertenyangan dengan ideologi negara dan itu adalah HTI, menurut saya ada benarnya.

HTI sangat besar di UHO, mereka menguasai semua wacana dan diskursus keagamaan. Hampir setiap hari ada-ada saja keguatan mereka, saya sensiri waktu jama kuliah heran, kok bisa spanduk-spanduk kegiatan mahasiswa semua dari organisasi keagamaan instra kampus dan anggitanya itu masih berafiliasi dengan HTI.

Mereka menguasai mushola-mushola fakultas dan Masjid Besar kampus. Saya ingat setiap mau sholat jumat dimasjid kampus pasti ada selebaran kertas yang kurang kebih 4 halaman timbal-balik berupa buletin yang disimpan diatas kotak amal ataupun ditembok masjid, buletin tersebut gratis buat para jamaah yang ingin mengambil dan membacanya.

(Buletin dakwah HTI)

Dan Saya selalu membaca buletin itu, isinya menarik membahas berbagai macam persoalan bangsa, kaya data dan dalil. Saya sempat berpikir waktu itu, luat biasa organisasi ini mwnhhidupkan literasi ditengah susahnya akses bacaan menarik, dan malasnya mahasiswa membaca buku-buku kuliah.

Tapi ada sedikit juga yang membikin saya agak ganjil dengan tulisan dalam buletin itu, meskipun kaya data dan dalil, pasti diujungnya tuh solusinya adalah KHILAFAH, Tegakkan syariat islam!!!

Dalam pikiran saya waktu itu, emang bisa? Apakah tidak bertentangan dengan sistem negara kita?
Pikiran itu hanya terlintas begitu saja. Kayak angin lalu.

Nanti setelah heboh demo besar soal penistaan agama dijakarta tahun 2017 lalu dan kemudian dikeluarkannya kebijakan pembuaran organisasu HTI oleh pemerintah, diskusi soal KHILAFAH mulai mencuat dipublik, saya langsung teringat HTI di kampus UHO dengan buletinya itu.

Diskusi soal HTI di Televisi mulai marak, semua tokoh dan akademisi angkat bicara, mereka mengatakan bahwa organisasi itu bertentangan dengan ideologi bangsa, HTI mengusung ide akan mendirikan negara transnasional, dan paham radikalisme. Hal seoerti yang diungkapan oleh Kepala BNPT bahwa ada bibit radikalisme pada tubuh simpatisan HTI dalam memperjuangkan ideologinya. Dia lantas memaparkan data yang menunjukkan bahwa ada pelaku aksi teror di Indonesia yang telah tertangkap dan diputuskan bersalah dalam persidangan berasal dari HTI atau setidaknya pernah bergabung dalam organisasi tersebut.

Lalu pertanyaanya, kenapa mereka tumbuh subur dan banyak mahasiswa yang terpapar?

Saya baru baca juga hasil riset yang dilakukan oleh Setara institute tahun 2018 lalu, yang salah satu temuanya menyebut bahwa hal ini karena minimnya kontesrasi dan oengaruh wacana keagaamaan dan gerakan mahasiswa yang mengusung ideologi kebangsaan dikampus senisal NU atau Muhammadiyah.

Memang kalau saya lihat anggota organisasi ekstra semisal HMI ataupun PMII lebih banyak berkegiatan diluar sibuk mengurusi politik ataupun kebijakan oemerintah diluat, lupa dan tidak mengisi diskurus keagamaan dalam kampus, pada akhirnya kajian soal khilafah di UHO tumbuh bak jamur dimusim hujan, mereka menguasai Mushola-Mushola Fakultas dan Masjid Kampus, dan bahkan di Fakultas saya dulu diberikan satu ruangan oleh pihak kampus untuk sekretariat organisasi sayap HTI (Gema Pembebasan). (*)

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.