Semenjak perkuliahan tuntas dan segala macam administrasi untuk syarat kepengurusan sselesai, kegiatan saya hanya makan tidur dan sesekali membaca buku maupun artikel untuk mengisi waktu sambil menunggu jadwa wisuda oktober mendatang.
Memang belum semua ringkasan atau hasil bacaan, saya tuangkan dalam tulisan padahal banyak sekali pengetahuan dan informasi baru yang saya dapat dari hasil bacaan, tapi seperti biasa kadang saya bingung nulisnya mulai dari mana. Ya maklum baru belajar nulis Hehehhe. Tapi perlahan saya akan coba terus hingga menjadi kebiasaan, menuliskan hasil bacaan ataupun pengamatan pada kehidupan sekitar.
Di Postingan kali saya coba menuliskan hasil bacaan yang saya peroleh dari artikel kompas berjudul “SARTAM MEMILIH BERDAMAI DENGAN YAKI”. Artikel ini merupakan hasil tulisan tim ekspedisi Wallacea tahun 2019. Dan perjalanan mereka ini akan dipublikasi di Koran Kompas setiap hari senin.
Sudah beberapa kali dipublikasi. Awalnya saya hanya membaca sekilas saja, tidak terlalu tertarik tapi edisi senin kemarin membuat ingin membacanya, karena mungkin ceritanya soal perjalanan mereka di Pulau Sulawesi yang juga kampung halaman saya. Pertama kali membaca judulnya terlintas dipikiran tentang heman endemic di Sulawesi Anoa, Monyet dan Babi Hutan.
Dan benar ceritanya soal Petani di Gorontalo dan Yaki (Monyet:sebutan orang gorontalo/sulut).
(Yaki, Hewan Endemik Sulawesi)
Dikisahkan ada seorang petani yang bernama SARTAM di Desa Puncak Jaya, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, ia seorang transmigran asal jawa tengah, yang memiliki kebun bekas hutan seluas 20 hektare, banyak ditanami tanaman Kakao dan sayur-sayuran. Kebun tersebut ternyata menjadi santapan para hewan Yaki dan Babi Hutan, bagi sartam yaki adalah hama dan musuh yang mesti disingkirkan, berbagai macam cara sudah dilakukan dari memasang perangkap, hingga ia berencana membunuh hama-hama itu, tapi ternyata tidak berhasil, tetap saja hama itu selalu datang untuk memakan tanamanya.
Hingga suatu hari ia merenung dan mengingat cerita awal dibukanya kebun ini, 16 tahun silam sebelum kedatangan transmigran. Kebun itu dulunya adalah hutan, rumah bagi yaki dan hewan-hewan lainnya, disana mereka mencari makan dan bermain. Maka tak heran usaha apapun yang dilakukan Sartam tetap saja kawanan hewan akan terus datang karena rumah mereka hilang dan dirampas.
Dari situlah kesadarannya muncul bahwa percuma ia usir mending berdamai dengan mereka, membiarkan saja kebunnya disantap oleh Yaki, kebunnya luas dan tanamannya banyak, toh tidak mungkin Yaki menyantap semuanya, dan membuat dirinya rugi atau bangkrut lagian Kakao di Desa Puncak Jaya juga sangat berkualitas kalah jauh dibanding daerah lainnya, harganyapun sedikit mahal. dan benar ia menjadi petani sukses, bahkan mendapat ganjaran penhargaan dari pemerintah dan bahkan internasional.
Dari Kisah sartam yang memilih berdamai dengan yaki dengan menyisikan sebagian kebunnya kepada satwa merupakan sikap sangat bijak yang mesti diteladani banyak orang, apalagi ditengah maraknya eksploitasi alam besar-besaran dengan membuka hutan dan merampas hak mahluk hidup lannya.
Bukan kah kita khalifah dimuka bumi yang diberi akal untuk menjaga dan memelihara semesta?




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.