Tampilkan postingan dengan label Cerita Keseharian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Keseharian. Tampilkan semua postingan

 



Hidup kadang seperti meniti jembatan kabut, kita tahu ada tujuan di seberang sana, tapi jalannya tak selalu terlihat jelas. Begitu pula yang saya rasakan ketika tanggal 9 Januari 2025, nama saya dinyatakan lolos dalam pengumuman akhir CPNS. Bahagia? Tentu. Tapi rasa penasaran masih menggantung di langit pikiran: di mana saya akan ditempatkan? Di mana tapak pertama pengabdian ini akan dimulai?


Jawabannya datang nyaris larut malam, tanggal 21 Mei. Sekitar pukul 23.00 WITA, surat penempatan akhirnya diunggah di situs resmi KPU RI. Saya membuka laman itu seperti membuka amplop nasib dan disana, tertulis jelas: Sekretariat KPU Kabupaten Buton. Seketika dada ini penuh oleh rasa syukur yang tak bisa diucapkan kata-kata. 


Seolah semesta menulis takdir dengan tinta yang ramah: penempatan ini masih dalam wilayah kepulauan Buton, sekitar 1 jam lebih dari rumah di Kota Baubau. Namun saya memilih untuk ngekost, agar saya mengenal lebih dekat dengan masyarakat Kabupaten Buton dan tentu meminimalisir risiko perjalanan ketika harus pulang pergi Baubau - Pasarwajo.


Kami berjumlah 7 orang, kami datang setelah pesta demokrasi Pilkada usai. Orang mungkin mengira kami datang ketika panggung telah dibongkar. Tapi justru di balik layar inilah, peran-peran sunyi tapi penting itu dijalankan. Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB), penataan arsip dan tugas rutin lainnya menjadi ladang latihan kami. Disinilah kami mulai mengasah cangkul pengetahuan, menanam benih pengalaman, agar kelak siap memanen hasil saat pesta besar yang bernama Pemilu dan Pilkada itu tiba.


Lingkungan kerja di KPU Buton tidak terasa seperti kantor pada umumnya. Ia lebih mirip sebuah rumah besar, tempat di mana setiap sudutnya menyimpan canda, nasihat, dan semangat kolektif. Komisioner, sekretaris, para kasubag, hingga para staff senior, semua menyambut kami tanpa jarak. Kekeluargaan bukan sekadar slogan, tapi benar-benar hadir dalam setiap interaksi, secangkir kopi, dan sapaan hangat di pagi hari.


Dalam dua bulan ini, saya merasa seperti seorang pelaut yang baru berlayar, perlahan belajar membaca arah angin, mengenal riak ombak, dan memahami bagaimana kapal ini bekerja. Masih jauh pelabuhan tujuan, tapi dengan awak yang hangat dan tekad yang kuat, saya percaya perjalanan ini akan membawa banyak makna.


Dan inilah awal dari perjalanan itu bukan sekadar pengabdian, tapi juga pencarian jati diri sebagai insan penyelenggara demokrasi. Sebab di tanah ini saya tidak sekadar bekerja. Saya sedang menulis babak baru dalam hidup, satu huruf demi satu huruf, di atas lembar sejarah yang lebih luas.

 



Kadang, hidup mengajari kita tentang sabar dengan cara yang tidak mudah, menunggu dalam diam, bertanya tanpa jawaban, dan berharap tanpa tahu pasti kapan semuanya akan terungkap. Tapi malam tadi, sekitar pukul 23.00 WITA, penantian panjang itu akhirnya berujung pada kepastian.

Saya menerima pengumuman yang selama ini ditunggu, yakni: lokasi penempatan. (Baca file lengkap klik: 👉 DISINI)
Dan nama saya pun muncul, saya ditempatkan di Sekretariat KPU Kabupaten Buton.



Tentu itu bukan sekadar baris informasi, ini adalah titik awal dari cerita baru yang akan saya tulis sendiri. Tempat baru, lingkungan baru, dan tantangan yang juga tentu baru. Ada rasa haru, gugup, tapi juga semangat yang tak bisa dibendung. Karena di balik ketidakpastian, selalu ada ruang bagi harapan.

Memulai hidup di tempat baru bukan hal yang mudah. Tapi saya memilih untuk menyambutnya sebagai anugerah, bukan beban. Di setiap proses adaptasi, saya yakin akan ada pelajaran berharga. Dalam setiap tantangan, tersembunyi potensi yang belum tergali. Dan dalam setiap perjumpaan dengan hal-hal asing, ada kemungkinan untuk menemukan versi terbaik dari diri sendiri.

Saya percaya, tidak ada langkah yang sia-sia jika dijalani dengan niat baik dan tekad yang tulus. Sekecil apa pun pijakan pertama itu, ia bisa menjadi awal dari perjalanan yang luar biasa. Dan saya ingin menjadikan penempatan ini bukan hanya sebagai tugas kerja, tapi sebagai panggilan untuk tumbuh, memberi arti, dan membangun kontribusi.

Semoga perjalanan ini lancar.

 



Sebagai orang Buton, khususnya dari pulau kecil Kadatua, saya tumbuh mendengar cerita-cerita luar biasa tentang pelayaran orang-orang tua. Mereka berlayar menjelajahi nusantara hingga ke negeri asing, menggunakan perahu sope atau kapal boti. Yang mengagumkan, mereka melakukannya tanpa bantuan mesin. Jika arah angin tepat, kecepatan layar mereka bahkan bisa melebihi kapal bermesin.


Pertanyaan besar yang sering muncul di benak saya adalah: bagaimana mereka menentukan arah tanpa navigasi modern? Jawabannya ada pada kearifan lokal, terutama melalui rasi bintang dan "matano kawea," istilah dalam bahasa Buton untuk menunjukkan arah mata angin. Di Kadatua, dikenal 16 matano kawea, namun yang paling umum dan saya ingat ada delapan.


Kenangan ini kembali hidup saat saya duduk di bangku kelas 5 di SDN 1 Kapoa. Pak La Hamuli, guru kelas kami kala itu, saat kelas mata pelajaran IPA, ia mengajarkan delapan matano kawea ini, bukan hanya dalam bahasa Indonesia tetapi juga dalam bahasa lokal. Dari delapan arah itu, salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah "Beteno Pariama," atau arah tenggara.


Dalam bahasa Kadatua, "bhete" berarti pecah atau retak. Namun, arti "pariama" tetap menjadi teka-teki bagi saya hingga beberapa hari lalu saya menemukan postingan tulisan pendek yang ditulis oleh Saleh Hanan, seorang penulis dari Wakatobi. Ia menjelaskan konsep astronomi lokal tentang "bintang pariama" yang terbit di arah tenggara dan menjadi panduan mata angin.


Saleh Hanan menulis:


"Dalam ilmu astronomi Wakatobi, terdapat bintang pariama. Terbit di arah tenggara. Disebut bete na sangia, artinya 'pecah bintang'. Terbitnya menjadi penanda mata angin tenggara, disebut bete'a u pariama. Sifat cahaya bintang ini, saat pertama kali terbit pada bulan Juni, menjadi indikator apakah musim kemarau atau penghujan akan lebih dominan. Pilihan ini menentukan pola mata pencaharian masyarakat, bertani di darat atau melaut."


Kata sangia sendiri adalah tamsil untuk sesuatu yang dianggap suci, penuh berkah, dan dihormati. Dalam kepercayaan masyarakat lokal, bete na sangia tidak hanya menjadi panduan arah tetapi juga menentukan siklus kehidupan masyarakat Buton dan Wakatobi.


Pengetahuan tentang matano kawea dan bintang pariama ini adalah warisan luar biasa dari nenek moyang. Bagi saya, ini bukan sekadar cerita, melainkan refleksi atas kemampuan mereka membaca alam dan menggunakannya untuk bertahan hidup. Keberadaan matano kawea mengajarkan kita tentang harmoni dengan alam, kebijaksanaan lokal, dan penghormatan terhadap tradisi.


 




DNA orang buton itu adalah perantau. Disetiap persinggahan kapal apalagi di Timur Indonesia tidak sulit untuk menemukan mereka. Kantong-kantong orang Buton menyebar dimana-mana khususnya di Pelabuhan, di Pasar maupun kampung nelayan.

Akhir tahun 2022 lalu saya berkesempatan untuk melihat itu semua. Dengan menumpang kapal Pelni saya berlayar ke Ambon, kemudian transit di Banda Naira, dan berakhir di Kepulauan Tanimbar yakni salah satu pulau terluar yang perbatasan laut langsung dengan negeri kanguru Australia. Disana banyak sekali komunitas Buton, disetiap persinggahan selalu ada mereka.

Di Tanimbar, khususnya di Kota Saumlaki dan Larat. Perantau Buton asal Kadatua cukup banyak, seperti perantau Buton pada umumnya disini mereka bekerja sebagai pedagang serta nelayan dan rerata berhasil. Jumlah mereka pun ratusan, dan sudah berdiaspora sejak lama sekitar periode tahun 90an.

Keberadaan mereka yang jauh dari kampung halaman, bukan berarti lupa dengan tanah asalnya. Dikala malam tiba, ketika jualan sudah tutup, atau musim terang bulan saat nelayan libur melaut,  bale bambu (gode-gode) dipesisir dekat tambatan perahu nelayan selalu ramai. Musik daerah Buton kerap diputar. Berada disini serasa dikampung.

Apalagi mendekati momen ramadan atau lebaran, efforia perantau mulai kerasa, obrolan tentang kampung mulai intens dibicarakan. Jadwal kapal mulai dipantau, tujuannya tentu selain ingin melepas rindu dengan sanak famili dan handai tolan juga ingin menikmati hiburan di tanah asalnya. Maklum sepanjang tahun mereka harus bergelut dengan pekerjaan mengumpulkan pundi-pundi.

Jika dilihat, seharusnya disinilah peluang untuk membangkitkan kampung halaman sementara waktu. Bagaimana menjamu perantau ketika mudik yang membawa segepok uang mereka untuk diputar menjadi peluang ekonomi dikampung.

Hiburan adalah satu upaya untuk itu, kita bisa berkaca pada tradisi Maacia di Sampolawa dan Lapandewa.

Suatu ketika saya pernah berbincang dengan salah satu Kepala Desa disana, ia mengatakan pesta kampung Maacia selain upaya merawat tradisi leluhur orang cia-cia, juga sebagai ajang reuni dan nostalgia para perantau. Selama keberadaan para perantau dikampung konon perputaran ekonomi mencapai ratusan juta bahkan miliyaran. Para perantau nyaman disungguhi dengan ragam atraksi dan kegiatan. Tanpa sadar mereka turut berkontribusi, ekonomi warga di kampung pun ikut menggeliat. Warung-warung kecil di desa serta penenun kain buton kena dampak ekonomi.

Turnamen Merantau Cup yang digagas oleh Pemuda adalah salah satu contohnya, kita bisa menyaksikan sendiri dampak dari turnamen ini, selama hampir sebulan kegiatan berlangsung, warga yang menjual disekitar lapangan turut kecipratan, sembari menyaksikan pertandingan penonton berbelanja.

Seharusnya hiburan seperti ini lebih banyak lagi diadakan. Bukan hanya olahraga tetapi juga yang lainnya semisal budaya. Kita punya warisan adat tradisi yang sejak lama mati, hanya upaya kita bagaimana menghidupkan itu semua. (*)


Perahu Nelayan Buton

Suasana Pertokoan Larat Kota

Kios-kios diaspora Buton

Pasar Malam


 


Tak butuh waktu lama untuk memangkas angka putus sekolah di Pulau Kadatua, dalam kurun belasan tahun saja terjadi lompatan besar. 


Adalah kehadiran SMAN 1 Kadatua menjadi salah satu pemicunya yang telah memberi kontribusi terhadap pengembangan manusia kadatua.


Dulu, menjadi polisi, tentara atau bahkan masuk perguruan tinggi hanya cita-cita yang mengawang-awang, sulit untuk diraih. Diraih pun butuh perjuangan extra. Melanjutkan sekolah pasca SMP harus hijrah ke Kota, tinggal dipondokan, rumah keluarga atau ngekost.


Kini tinggal cuss sampe, sekolah ada ditengah-tengah kita. 


Namun seiring perkembangan zaman, tantangannya kian besar pula. Bukan hanya sekedar lulus yang diharapkan tetapi kapasitas keilmuan yang dimiliki mumpuni atau tidak. Apalagi diluar sana persainganan semakin ketat.


Kreativitas guru, serta kebijakan sekolah adalah kunci untuk bagaimana mengembangkan potensi peserta didik.


Salah satunya adalah kegiatan yang bisa memacu semangat siswa datang dan betah di sekolah. Utamanya berkaitan dengan penyaluran minat dan bakat. Disekolah-sekolah maju di kota, hal tersebut bukan barang baru dan boleh dibilang adalah hal yang sangat lazim.


Berbeda halnya di Kampung-Kampung, apalagi di Pulau seperti Kadatua, yang fasilitasnya sangat terbatas. Mau tak mau mindset harus out of the box. Membongkar kebiasaan lama. Mendobrak, mencoba hal baru.


Seperti yang dilakukan oleh salah satu guru SMAN 1 Kadatua, beberapa hari lalu disela-sela kesibukannya mengikuti training disalah satu hotel ternama di kota ini. Ia menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan saya dan beberapa rekan di sebuah kedai kopi.


Ia menyampaikan bahwa kehadiran guru-guru muda telah memberi warna baru. Pola-pola lama telah ditata ulang, kreativitas mulai dibumikan. Kegiatan ekstrakurikuler mulai tumbuh, khususnya kepanduan pramuka dan kesenian (Marchingband).


Dan bahkan salah satu sekolah yang jadi sasaran program budaya "Revitalisasi Tradisi lisan Tambi" yang dimotori balai bahasa sultra tahun ini, adalah SMAN 1 Kadatua.


Mendengar penjelasannya itu saya tecengang. Ah, ternyata Sekolah di desa pun bisa juga bisa melakukan sesuatu. Muda & pikiran segar serta kemauan menjadi kunci.


Mudah-mudahan hal diatas menjadi titik balik untuk melakukan yang lebih, tak hanya terhenti disitu tapi lebih banyak lagi kegiatan ekstrakulier lainnya khususnya disesuaikan dengan konteks kekinian, misal olahraga, kepenulisan, video pendek, dll... Agar nanti pasca lulus siswa memiliki keterampilan dan kreativitas yang bisa dipakai menjadi modal bermasyarakat maupun ketika melanjutkan diperguruan tinggi.



Beberapa kali pulang kampung diwaktu weekend (sabtu-minggu) secara kebetulan selalu berbarengan dengan komunitas traveller dari Kota Baubau yang juga kesana untuk healing atau sekedar ingin menambah nutrisi story di medsos mereka. Katanya alam kadatua eksotis.


Bagi kita yang lahir dan besar di Pulau ini, mungkin akan beranggapan biasa saja tidak ada menarik. 


Namun ternyata bagi sebagian orang, apalagi mereka yang hidup di sesaki ruko dan padat kendaraan, Pulau seperti Kadatua adalah surga. Ketenangan dan healing ada disana.


Memang semenjak dibukanya jalur baru yang sejak lama terisolir ini seperti membuka salah satu tabir. Tak hanya jarak dan waktu yang dipangkas tapi juga harta karun yang sejak lama mengendap itu mulai nampak.


Kalau boleh berimajinasi liar, mungkin bakal menjadi spirit baru kadatua. Ya KADATUA TIMUR!!!


Lima desa yang masuk dalam jalur ini memiliki potensi yang mendukung itu, empat diantaranya adalah kawasan pesisir; Desa Banabungi, Bansel, Kapoa dan Kapoa Barat punya potensi perikanan dan wisata bahari dan Desa Lipu adalah Kampung Tua potensi untuk wisata budaya.


Namun untuk sampai kesana, harus ada infratruktur pendukung, utamanya dimulai dari kesadaran warga untuk menjaga dan melestarikan alam. Pengerukkan pasir untuk material bangunan dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan harus segera dihentikan. Sudah cukup kita keroyok pulau ini dengan cara barbar. 


Selain itu juga peran pemuda, komunitas seperti Pokdarwis, Karang Taruna, dll, harus dihidupkan sebagai wadah pertemuan ide-ide kreatif. Saya yakin banyak ide dari anak-anak muda Kadatua namun masih berserak dan mengendap. Olehnya itu wadah komunitas menjadi penting.


Berikutnya adalah peran pemerintah desa. Sudah berulang kali saya menulis disini, bahwa transparansi dan partisipatif sesuatu yang wajib dilakukan, tanpa itu harmonisasi tidak akan jalan, akan muncul terus kecurigaan dan program akan selalu salah sasaran. Pada akhirnya bukan pembangunan yang dilakukan tapi justru pemubaziran.


Jika hal-hal diatas dilakukan, tak menutup kemungkinan ekonomi akan tumbuh, warga berbondong-bondong membangun pemukiman baru dijalur ini dan bisa jadi kelak membuka gerbang terbentuknya kecamatan baru: KADATUA TIMUR. 

 


Mengitari Pulau Kadatua melalui jalur baru (labulengke-kapoa) ini laksana berada dalam dunia dongeng, disekeliling dimanjakan ragam pemandangan nan elok; sabana, laut dan jingga langit.


Dipertengahan antara dua desa berdiri sebuah patung yang konon adalah manisfestasi dari sosok legendaris di Pulau ini. WA ODE POGO. 


Kisahnya yang samar dan penuh misteri membuat bertanya-tanya. Siapa yang berani mewujudkan wajah yang sudah lama berkalang tanah tanpa gambar dan lukisan itu. Pemerintah setempat ataukah kehendak tukang si pembuat patung?


Entahlah, patung sudah terlanjur berdiri, kembali mempertanyakan itu mungkin akan menjadi hal tabu bagi mereka. Yang masih melanggengkan sifat lawas, alergi pada suara kritis.


Namun, sebagaimana karya seni yang bertujuan untuk membangkitkan memori kolektif, patung selayaknya perlu dihidupkan. Tentu bukan menghidupkan layaknya manusia. Tetapi adalah warisannya berupa budaya dan tradisi.


Dibeberapa tempat di Indonesia, setiap momen yang berhubungan dengan sosok dalam patung sering diadakan ragam kegiatan kreatif. 


Di Kota Malang misalnya, di areal Patung Chairil Anwar, ataupun ditaman-taman kota, untuk memperingati ulang tahunnya setiap tanggal 26 Juli, anak muda/mahasiswa mengadakan ragam kegiatan; drama teatrikal dan pembacaan puisi. Tujuan tentu agar generasi selalu mengenang sosoknya.


Begitupun dengan patung Wa Ode Pogo, keberadaannya tak boleh hanya jadi spot selfie, tapi perlu kegiatan yang bisa menghidupkan sosoknya. Ada banyak momen untuk melakukan hal-hal tersebut, misal hari ulang tahun kecamatan, atau pun HUT Kemerdekaan.


Sudah lama Kecamatan Kadatua senyap dan vakum dalam kegiatan bertajuk budaya, padahal hampir semua Kecamatan di Kab. Buton Selatan selalu ada, olehnya kita tak boleh ketinggalan. Keberadaan patung ini harusnya menjadi titik awal bagi pemerintah, pemuda, dan siapapun untuk turun tangan, mengambil bagian. Agar pulau ini terus hidup.

 


Sebuah kapal besar milik pemerintah dari arah Barat transit di kota kami, petang itu. Memuat dan menurunkan penumpang, lalu akan melanjutkan perjalanan ke Timur. Di negeri rempah sebuah negeri yang berabad-abad silam, bangsa Eropa Spanyol dan Portugis pernah memperebutkannya.


Sekarang negeri itu telah menjelma menjadi ladang Nikel, segala macam manusia dari berbagai penjuru ingin kesana, memupuk pundi.


Disanalah lelaki itu akan menggantungkan asa. Pergi meninggalkan istri dan daerah asal yang pepohonannya pun enggan menghidupi warganya. Tandus dan gersang.


Sembari menunggu bunyi stom ketiga sebuah peringatan untuk lepas tali, ia peluk istrinya kuat-kuat. Suaranya lirih dan isak tangis pun pecah tak terbendung, haru.


Ah, pelabuhan memang sarat akan pemandangan seperti ini, perjumpaan dan perpisahan, bahagia dan sedih.


***


Memasuki bulan kesembilan penanggalan masehi, Pulau kami Kadatua kembali sepi, ditinggal manusianya ke berbagai daerah. Setelah hiruk pikuk lebaran dan bulan kemerdekaan usai. Rumah-rumah kembali dikunci rapat, kosong melompong.


Daerah yang umumnya akan dikunjungi itu adalah daerah yang menjanjikan, yang bisa menghasilkan dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga.


Kawasan Timur adalah tumpuan. Konon, disanalah peluang ekonomi terbentang luas. Weda, di Pulau Halmahera (Malut) adalah salah satunya.


Memang beberapa tahun belakangan semenjak perusahan tambang memporoleh kontrak pengelolaan nikel di daerah Halteng, kemudian disertai dengan dibukanya lapangan pekerjaan. Warga di Pulau Kadatua, tak mau ketinggalan, setiap kapal yang akan mengarah ke Timur, selalu diisi oleh mereka.


Bahkan remaja yang masih mengeyam bangku SMA pun, kalau ditanya mau kemana pasca lulus, beberapa dari mereka akan menjawab; WEDA!


Weda seolah menjadi kata seksi disetiap perbincangan, tak heran memang kisah-kisah keberhasilan sering dijumpai pada postingan diberanda medsos mereka ataupun informasi dari keluarga di kampung. 


Selain kabar yang menggembirakan disisi lain juga kita kerap mendengar kabar yang tentu menyesakkan dada; kecelakaan kerja sering terjadi, karyawan ditindis loder, tabrakan, bahkan perkelahian antar mereka.


Namun begitulah suka duka dalam setiap perjalanan, baik dalam mencari ilmu dan pengalaman, atau mengais rejeki sekali pun, apalagi nun jauh dinegeri orang tentu tidak terlepas dari itu. Intinya kita selalu waspada, tabah dan sabar. (*)

 



Langit mendung tetapi rintiknya enggan turun, cuaca sungguh bersahabat sore itu. Berbagai orang dari segala penjuru desa di Pulau Kadatua berkumpul dalam satu titik. Tak lain, untuk turut menyemarakkan hajatan tahunan bulan agustus yakni HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 77.


Lapangan Desa Kaofe yang menjadi titik kumpul itu seperti disulap, laiknya lukisan abstrak penuh warna warni oleh kostum yang dikenakan peserta.


Jika sebelum-sebelumnya yang dilakukan hanya berkumpul lalu longmarch biasa menuju lapangan utama marawali dengan memegang spanduk kontingen dan bendera kecil, kali ini sungguh berbeda. 


Dibarisan paling depannya terlihat atraksi beberapa orang mayoret yang sedang memainkan tongkatnya, memandu barisan serta mengatur irama musik drumband yang dimainkan oleh sekelompok rekan remajanya. 


Sungguh apik. Baik peserta kontingen maupun warga yang menonton semua berdecak kagum. Tersihir oleh perpaduan ragam alat musik yang menghasilkan bunyi seolah-olah membangkitkan rasa nasionalime itu. ".....maju tak gentar... membela yang benar...."


Pertunjukkan itu benar-benar memukau. Sudah sekian tahun, pulau ini tak ada kegembiraan seperti ini. Kita sumpek dengan keheningan dan bebunyian jangkrik dikala malam. Kita rindu dengan kreativitas remaja dan anak muda yang bergairah dan membangkitkan semangat.


Selama ini kita hanya sibuk sendiri-sendiri, kita luput, padahal diruang-ruang paling sunyi, dibenak anak-anak muda kita, mereka juga ingin dilibatkan dalam ragam aktivitas. Agar pulau ini tak hanya terkesan seperti seonggok batu dan laut yang mati, tetapi ia juga butuh digerakkan oleh manusianya.


Jika kita menoleh kebelakang sejarah panjang negeri ini, bahwa negeri yang permai ini tak hanya tersusun dari batas peta mati belaka, tetapi gerak dan peran besar kaum muda. Kongres pemuda II tahun 1928 dan Peristiwa Rengas Dengklok dimalam 16 Agustus 1945 itu adalah buktinya nyata yang menjadi tonggak persatuan serta pembebasan diri dari belenggu penjajahan.


Olehnya itu dimomen ini, semoga menjadi refleksi bersama, bahwa kita yang hidup di era pasca kemerdekaan ini, meski bermukim di pulau, tak boleh patah arang, terus berkontribusi mengisinya dengan potensi yang kita miliki. (*)

 


Tahun 2022 ini beberapa tempat di jazirah Buton Selatan akan dibangun beberapa patung. Diantaranya Patung Hatibi Bula dan Lalole di Siompu Barat, Syekh Abdul Wahid di Batu Atas, serta di Pulau Kadatua sendiri yakni; PATUNG WA ODE POGO, yang konon akan menelan anggaran 240 Juta.

Ketika mendengar rencana ini, imajinasi seolah traveling, entah seperti apa visualisasi bentuk dan wajah Wa Ode Pogo itu. Sebab selama ini tidak ada satu pun lukisan maupun cerita mengenai bagaimana ciri dan bentuknya.

Sosoknya dalam memori kolektif orang kadatua, direkam dalam tradisi lisan bahwa ia adalah putri bangsawan kerajaan yang diasingkan lalu kemudian membangun peradaban. Warisannya hingga kini masih bisa dilihat; adat serta peninggalan berupa benteng dan gua bekas hunian.

Kita tahu patung adalah ikon sekaligus sebagai penanda suatu peristiwa maupun tokoh. Agar orang yang melihatnya, mengenang dan mengingatnya. Dan mungkin diejawantah dalam laku kehidupan.

Olehnya itu membangun patung bukan perkara mudah, tidak boleh asal jadi, apalagi sekedar memburu laba proyek. Sebab ia mengandung makna, nilai, falsafah, dan estetika.

Tentu seyogyanya diperlukan kajian secara mendalam terhadap semua aspek yang terlibat dalam pembangunan, apalagi sosok Wa Ode Pogo, sebagaimana saya sampaikan diawal tadi, visualisasinya masih sangat samar.

Maka keterlibatan tokoh adat dan masyarakat sangatlah penting agar patung yang dibangun itu nantinya benar-benar dapat dimaknai secara tepat.

 


Sebelumnya saya belum pernah mengenal, mendengar atau membaca tentang kapal legendaris ini, entah karena buku sejarah saat masih duduk dibangku sekolah dulu tidak mencantumkannya atau karena saya sendiri yang malas baca. 


Kemungkinan paling sahih yang kedua: MALAS BACA!!. Hehehe...


Nanti ketika lanjut kuliah di sebuah kota dingin di jawa timur, kota yang tidak habis-habisnya memanjakan manusianya dengan banyaknya buku murah. Disinilah awal perkenalan saya dengan kapal tersebut.


Tak ada rencana saat itu, disuatu siang ketika pulang dari kampus, kebetulan lewat di Pasar Buku Wilis, saya pun singgah untuk sekedar lihat-lihat, sembari menanti waktu sore untuk balik ke kost.


Beberapa jam keliling dari lapak ke lapak, secara kebetulan, mata saya tertuju pada sebuah buku yang sampulnya berwarna biru muda bergambar kapal layar di kios paling pojok. 


Karena saya asalnya dari Pulau, yang notabene laut dan kapal adalah kehidupan kami sehari-hari, kaki saya pun tergerak untuk  melihatnya buku itu lebih dekat.


Ternyata betul, buku itu sesusai yang tertera disampulnya adalah tentang kapal. Lebih jelasnya berjudul SEBUAH KISAH NYATA DEWA RUCI, PELAYARANAN PERTAMA MENAKLUKAN 7 SAMUDRA. Terbitas Kompas, yang ditulis seorang kadet asal Sulawesi Utara.


Ketika melihat nama penulisnya berasal dari sulawesi dan ceritanya tentang pelayaran. Meski tersegel, tanpa mengetahui isinya, buku itu kuangkut dan langsung pulang ke kostan. Kurang lebih dua hari buku sudah ku lahap habis.


Jarang saya keranjingan membaca buku dalam hitungan hari, biasanya minggu atau bahkan tidak tamat. Saya tipikal orang yang cepat jenuh, apalagi bahasanya berat dan membingungkan. Tapi ketika membacanya buku itu seolah berada dalam cerita.


***


Akhir bulan desember tepatnya tanggal 28 dan 29, tahun 2020, sebuah link webinar zoom bertemakan Jalur Rempah dibagikan di grup WhatsApp.


Jalur rempah? Apalagi nih... (pikirku saat itu). Rempah yang hanya dalam benakku, yang ku ketahui saat masih duduk dibangku SD, bahwa Belanda datang ke Indonesia karena rempah-rempah, itu saja, tidak lebih. Tidak ada kisah lain dibaliknya.


Maka untuk mengobati rasa penasaaranku mengenai tema webinar itu, ku searcing di Google, rupanya tentang alur perdagangan rempah masa lalu yang coba dihidupkan kembali.


Webinar itu seolah membuka tabir yang selama ini ternyata banyak tidak kuketahui, apalagi mengenai sejarah rempah nusantara.


Semenjak itu, saya tak melewatkan manakalah ada link atau artikel tentang rempah, tahun 2021 saya membeli Majalah Natgo edisi khusus rempah, dan juga menonton film dokumenter berjudul Banda: The Dark Forgotten Trail di Netflix.


Ternyata rempah-rempah memuat banyak kisah, bukan hanya tragedi (penjajahan) yang familiar kita dengar dalam buku-buku sejarah disekolah, tetapi disana juga ada akulturasi budaya, agama, dan persahabatan antar nenek moyang kita dari ujung selat malaka hingga banda naira. Dan bahkan bangsa-bangsa dibelahan dunia lain.


***



Saat mendengar akan di adakan ekspedisi muhibah budaya jalur rempah awal bulan juni tahun 2022 menggunakan KRI Dewa Ruci, dan salah satu titik lokasi singgah yang akan dilalui ditahap pertama adalah Pulau Buton. Tak sabar saya menanti.


Hingga akhirnya 8 juni lalu tepatnya, Kapal layar yang memuat para laskar rempah itu pun tiba dipelabuhan Murhum Baubau, salah satu pelabuhan tua yang berabad-abad lalu juga pernah menjadi bagian dalam alur perdangan rempah. Ragam sambutan hangat masyarakat Buton, hingga tarian-tarian penyambutan.


Selama persinggahannya di Baubau selama dua hari, KRI Dewa ruci mengadakan open ship bagi siswa dan masyarakat umum untuk bisa melihat langsung kapal legendaris milik TNI AL itu. Tak mau ketinggalan, saya juga turut serta melihat langsung dan mengabadikannya.

 


Semenjak gencar pembangunan perumahan di kompleks Sulaa bagian atas beberapa tahun belakangan ini, kawasan yang dulunya sepi hanya dilalui beberapa kendaraan. Jika malam hanya terdengar bunyi jangkrik dan suara sumbang musik dari rumah-rumah karaoke dekat hutan. Kini lumayan ramai, kendaraan roda dua dan empat lancar berhilir mudik.


Geliat ekonomi pun tumbuh, jika lapar tengah malam karena kehabisan stok indomie di rumah atau mau mencari snack buat ngemil, serta rokok untuk pencuci mulut. Tak sulit lagi, warung-warung kelontong berjejer disepanjang jalan dan dibuka 24 jam. ATM, Pon Besin (Pertamina), bahkan apotik hingga sayuran dan ikan pun tersedia.


Bagi saya dan mungkin kamu, iya kamu, para penikmat jam kecil, yang tinggal di areal ini. Kondisi tersebut adalah surga. Asal ada duit di dompet/ATM dan kendaraan, tinggal cus. Kebutuhan kontemplasi tengah malam terpenuhi dengan sempurna. Ide-ide yang sebelumnya beku muncul kembali mengalir deras laksana air bah. Bebas hambatan.


Namun beberapa hari terakhir ini, suasana agak berubah tak seperti biasanya. Sebuah plank berwarna merah biru kuning terpasang di depan ruko yang tak jauh dari jejeran kelontong itu, tanda bahwa tak lama lagi akan dibuka gerai mini market Indomaret.



Lalu terbesit di kepala saya jika gerai itu dibuka bagaimana nasib kelontong itu? Mengingat gerai indomaret sebuah retail besar yang memiliki jaringan raksasa di hampir semua kota, produk yang jual juga boleh dibilang lengkap, dari sabun, beras, kondom, kinder joy, hingga buah tersedia. Harganya pun relatif sama.


Suasana didalamnya pun nyaman, ber AC. Apalagi ditambah dengan mbak-mbak kasirnya yang lembut dan ramah yang selalu menyambut pengujungnya dengan sambutan khas "Selamat datang, Selamat berbelanja," kemudian disertai senyumnya yang pura-pura manis itu.


Pembeli seolah dibuat tersihir. Ale waopue... Nikmat mana lagi kau dustakan. Jangankan odol, mbaknya pun saya angkut sekalian. Hehehe 


Memang gerai yang akan dibuka ini, bukan hal baru di kota ini, sebelumnya sudah ada gerai serupa, semisal, MGM, Liwanda, Rika Mart, dan terakhir Alfamidi, yang baru dibuka beberapa bulan lalu. Namun itu adanya di pusat kota yang dekat dengan keramaian. 


Sementara di Kawasan Sulaa Atas, dan sekitarnya ini, kali pertama. Kemudian warung-warung kelontong yang berjejeran itu juga masih tergolong baru mungkin satu tahun terakhir seramai ini. 


Tentu kehadiran gerai tersebut bakal menjadi pesaing keras dan alarm peringatan bagi pedagang kelontong. Kenyamanan dan produk lengkap yang ditawarkan oleh gerai jelas akan berdampak pada usaha kelontong, entah beralihnya konsumen, penurunan omset atau bahkan gulung tikar. Keluar arena.


Saya berharap para pembeli cukup jeli melihat ini, belanja nantinya bisa proporsional. Tidak selalu berbelanja digerai tapi di warung kelontong juga, agar ia terus hidup.

 



Jelang kepergian Ramadhan, hangat perbincangan ajang tahunan kompetisi futsal Merantau Cup, mulai dari jersey merk apa yang akan digunakan, sampai kocok ulang pemain mana yang pas untuk diturunkan. Sungguh, betapa rindunya warga dan hausnya para pecinta bola di Pulau ini.

Memang sejak vakumnya perlombaan agustusan, Pulau Kadatua seolah lumpuh, ruang-ruang anak muda untuk menyalurkan libido olahraga juga mati, setahun penuh tanpa hiruk-pikuk.

Untungnya keberadaan ajang turnamen tahunan ini sedikit menjadi obat penawar. Warga terhiburkan & hasrat anak muda tersalurkan.

Tak hanya warga dan pecinta bola, beberapa tahun belakangan pemerintah dihampir semua desa di Pulau ini pun juga ikut dalam eforia itu. Ramai-ramai membangun fasilitas penunjang yakni lapangan yang tak sedikit anggarannya hingga mendekati angka milyaran rupiah.

Melihat fenomena ini seolah ada optimisme, bahwa sebentar lagi akan lahir bibit-bibit unggul.

Namun ternyata ajang turnamen dan fasilitas itu tidak berbanding lurus dengan prestasi yang dicapai, nyaris sewindu berjalan, belum ada talenta yang bermunculan. Sebut saja kompetesi yang diadakan di Kota Baubau baru-baru ini, club-club yang berasal dari Kadatua tandas dan tumbang dibabak penyisian.

Olehnya itu hendaknya ada evaluasi, utamanya perubahan mindset bahwa  turnamen dan keberadaan lapangan futsal di desa tak sekadar menjadi pajangan atau hiburan biasa, tetapi dinaikan levelnya sebagai pabrik talenta.

Anak-anak muda di desa diberikan tanggung jawab untuk menghidupkan lapangan, kemudian pemerintah desa memfasilitasi kebutuhan mereka, semisal bola, alat latihan dan bila perlu pelatih.

Dan juga turnamen-turnamen bila memungkinkan menggunakan standar nasional, kemudian dibuka seluas-luasnya tanpa batasan leluhurnya dari mana, darah apa dan ras apa.

Olahraga tidak boleh dikungkung, karena ia sejatinya bebas, asal ia minat dan raganya sehat, silahkan diolah. Supaya kita bisa belajar. Agar ada kesinambungan tidak putus begitu saja, habis turnamen surut juga semangatnya.

Jika hal itu dilakukan, tak menutup kemungkinan akan lahir talenta muda Kadatua yang berprestasi.




Ketika deposito sumberdaya laut Kadatua ludes karena eksplotitasi yang tidak ramah lingkungan dimasa lalu.

Sebagian besar orang-orang dipulau ini lalu merantau bermigrasi ketempat-tempat yang alamnya masih natural. Mencoba peruntungan disana, umumnya dikawasan timur indonesia (Maluku & Papua).

Menjadi nelayan lalu kemudian beralih berwirausaha. Perlahan ekonominya meningkat, dan menjadikan mereka naik tingkat menjadi masyarakat kelas menengah.

Saya teringat ketika masih duduk dibangku SMA, guru saya yang bukan asli kadatua saat itu pernah menyampaikan anekdot, katanya, meskipun pulau kadatua gersang dan alamnya hancur tapi kalau mau cari baret putih disinilah tempatnya.

Baret putih yang dimaksud adalah orang-orang yang sudah menunaikan rukun islam ke lima yang identik dengan kopiah putih.

Tak mengherankan memang, semenjak gelombang migrasi besar-besaran orang kadatua diwilayah timur, kelas ekonomi menengah baru juga ikut bermunculan. 

Berbeda dengan orang-orang yang memilih bertahan dikampung. Kehidupannya cenderung biasa-biasa saja, namun merekalah penjaga kadatua agar tidak mati dan terus hidup.

Sedang perantau itu muncul ketika dimomen-momen tertentu, semisal lebaran saja, setelahnya kembali ke daerah rantauan. Atau menetap kembali ke kampung ketika renta, sakit dan tidak berdaya.

Sungguh pun kampung kadatua yang dalam penggalan puisi aan mansyur adalah pulau yang hanya memiliki batu yang pepohonnya susah payah menghidupi nelayan. Tetapi ia selalu menanti pulang, menampung semua warganya dengan tangan terbuka tanpa terkecuali.

Maka hal itu seharusnya menjadi refleksi bersama, bahwa Kadatua bukan hanya identitas yang melekat dalam diri orang kadatua tanpa makna, tapi Kadatua adalah kata sifat dan kata kerja. Kata sifat dicerminkan dalam laku kehidupan dimanapun berada untuk toleran dan menghargai sesama sebagaimana diwariskan oleh leluhur, serta kata kerja adalah tindakan nyata untuk berkontrbusi.

Kita tahu momentum mudik lebaran adalah siklus peredaran uang yang masif yang digerakan umumnya oleh para perantau ketika pulang kampung, semua pelaku usaha mulai jasa transportasi serta sembako ikut masuk dalam pusaran itu. 

Harapannya siklus ini tidak hanya berkutat diperkotaan, tetapi dikampung halaman juga demikian. Jika perantau ingin belanja keperluan lebaran utamakan dulu barang yang dijual dikampung, ketika tidak ada baru belanja dikota, jangan pernah ngeluh belanja dikampung mahal atau apa, tetapi semata-mata untuk menghidupkan sementara aktivitas ekonomi dikampung, meskipun mungkin kecil namun itu bagian dari upaya untuk berkontribusi. (*)

 



Disela-sela rebah, menanti waktu sahur kuscroll akun medsosku, sebuah postingan dari kampung menggugah jempol ini untuk mengklik.


Kuklik munculah sebuah kanal youtube "Lelaki Super Mancing" menayangkan aktivitas nelayan sedang melaut. 


Sosok dalam video itu saya kenal persis ia adalah kakak-kakak kompleks, namanya Darlin warga Desa Kapoa yang akrab disapa Pak Guru Daali yang kini berprofesi sebagai nelayan. Sematan "Guru tentu bukan karena dia mantan atau pensiunan guru, tetapi ada alasan lain, nanti saya ceritakan dilain waktu.


Sekilas videonya biasa saja menampilkan adegan diatas perahu yang alat pancingnya disambar ikan seperti akun-akun pemancing lainnya, semisal Daeng Lala, Laode Arsan, La Ode Sahadati, dlsb.


Namun yang menjadi luar biasa adalah lokasinya dikampung Kadatua. Yang mana disini nelayan dianggap sebagai warga kelas dua yang identik dengan ketidakberdayaan. 


Padahal potensi yang dimiliki oleh mereka (nelayan) ada, namun tidak didukung dengan pendampingan dan fasilitas yang memadai, sebagaimana temuan riset yang dilakukan oleh Karmidin (2018) di Pulau Kadatua bahwa secara struktural penyebabnya yakni: Akses pasar & jaminan sosial.


Meski persoalan dunia kenelayanan dipulau ini pelik, tapi saya melihat sosok Darlin tidak mau pasrah berada dalam lingkaran itu, ia keluar dari zona mencoba berinovasi memadukan kapasitasnya sebagai nelayan dengan dunia kekinian. Dunia digital!


Kini channel youtubenya sudah memiliki 1900 lebih subscribe dan terus bertambah, dengan unggahan 53 video.


Kita tahu di dunia persilatan digital semua setara dan punya potensi viral, dikenal, dan peluang menghasilkan cuan, asal konsisten membuat konten. 


Mudah-mudahan Darlin dengan akun LELAKI SUPER MANCING-nya selalu konsisten menghasilkan konten, dan menjadi role model bagi kita semua, bahwa lokasi nun jauh dipelosok pulau gersang sekalipun bukan menjadi penghalang untuk berkreasi. (*)

 



Setiap melewati Desa Tua Lipu Kadatua, sebuah gerbang bertulis Benteng Wa Ode Pogo menyambut, ketika memasukinya terlihat Masjid dan Makam-makam tua dikelilingi pagar batu seperti miniatur benteng keraton buton, dibawahnya terbaring salah satu sosok yang dilegendakan oleh orang-orang di Pulau ini, yakni WA KARAAMAGUNA alias WA ODE POGO.


Tiada literatur lengkap menjelaskan sosoknya, hanya cerita lisan turun temurun bahwa sosok itu asalnya dari dari Pulau Muna kemudian bermigrasi ke Pulau Kadatua lalu mendirikan benteng.


Seperti mitos, kisahnya penuh misteri. Benar saja video promosi wisata yang diproduksi oleh Pemkab Busel bekerjasama dengan LPPM Unhas tahun 2016 itu menyematkan daerah ini sebagai negeri 1001 misteri, ada banyak hal serupa mulai dari legenda gajahmada di kampung majapahit batauga, mata biru di siompu, Hatibi Bula di Siompu Barat, petilasan Seykh Abdul Wahid di Batu Atas dan lain sebagainya.


Saat mereka menghidupkannya melalui narasi, dan ragam atraksi dan ritual kebudayaan, kemudian para generasinya mengemasnya dalam drama teatrikal. 


Disini di Pulau Kadatua, cerita legenda dan makam-makam tua itu hanya menyisahkan nisan dan tulang-belulang yang berserak. Padahal itu adalah artefak kebudayaan yang memiliki fungsi penting dan fundamental sebagai pijakan utama dalam laku kehidupan.


Olehnya kebudayaan perlu terus dihidupkan, digaungkan, serta diajarkan oleh masyarakat kepada generasi berikutnya kemudian dimaknai lalu diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakatkat. Jika tidak, tak menutup kemungkinan akan punah secara perlahan dan tergantikan oleh kebudayaan lain.


Seperti penggalan puisi "Krawang dan Bekasi" gubahan chairil anwar: 


Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu


Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan


Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa


Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak


Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami



Sebelum gadget dengan aplikasi pabji dan em'elnya menyerang. Anak-anak Indonesia tak terkecuali di Pulau Kadatua memiliki ragam permainan tradisional, yang tentu sebagian besar permainan itu, menguji strategi dan ketangkasan.


Salah satunya adalah permainan bola lumpur, ya, bukan bermain bola dilumpur layaknya bermain bola dilapangan. Tetapi bola-bola kecil seukuran kepalan tangan dibuat dari lumpur laut (tomba) lalu ditaburi pasir putih agar keras, dan kemudian diadu (poburu).


Tidak ada juri maupun wasit, tapi sudah menjadi kesepakatan bersama, bahwa hukum yang berlaku dalam permainan ini adalah pecah berarti kalah.


Maka kelihaian dalam mencari dan memilih tomba berkualitas adalah hal yang menentukan. Tidak sedikit anak-anak kala itu menyembunyikan lokasi lumpur yang diambil agar tidak diketahui. Semacam rahasia perusahan jika diketahui akan takut kalah saing.


Pengalaman saya kala itu, konon bola lumpur yang tahan adu adalah lumpur yang berwarna kehitaman kemudian dijemur beberapa saat dipanas matahari lalu ditaburkan pasir sebagai pengeras. Entah benar atau salah tapi sebagian besar meyakini itu benar.


Karena hukumnya sekedar kesepakatan biasa, pecah-kalah, tidak serinci Perda, Perbup atau perdes, sehingga ada kelonggaran dalam memainkan celah. Ini kemudian dimanfaatkan sebagian anak untuk berlaku curang.


Bukan bola lumpur yang dibuat, tapi bola semen yang dilapisi lumpur. Bayangkan saja bagaimana kerasnya. Semua anak yang menggunakan lumpur jelas akan kalah, mau itu lumpur berkualitas nomor wahid se pesisir kadatua bahkan sedunia sekalipun jelas tidak akan mampu menandingi.


Kalau sudah seperti itu, anak ini akan dikucilkan tidak akan ada lagi yang beradu dengannya, terkecuali bolanya diuji dengan dilemparkan kerikil. Kalau retak ringan maka permainan lanjut tapi kalau tetap kokoh berarti besar dugaan ia curang. 


Meski begitu, pertemanan anak-anak kala itu tetap terjalin, lawan dalam permainan bukan berarti lawan dalam permainan lainnya. Yang penting dalam permainan ini adalah adu strategi dan rasa kebersamaan.

 

(Sumber Foto: Jabal Kubais)


Suasana siang itu sepi sekali hanya beberapa motor yang lewat, tak heran karena memang matahari tepat diatas kepala, teriknya seperti laser yang siap membakar manusia yang berkeliaran.


Beberapa jam kemudian teriknya reda, sudah sore ternyata, terlihat kendaraan mulai lalu lalang, rombongan pemuda-pemudi desa sudah saling sahutan, rambutnya klimis, jilbabnya rapi. Bersiap berkeliling kampung lalu finish di dermaga dan tebing adalah satu-satunya hiburan.


Tak mau terlewatkan saya pun turut serta menikmati hiburan itu, kupacu kuda besiku membelah jalan poros kadatua, ragam pemandangan alami khas desa yang jarang ditemukan di Kota, mulai dari buibu yang memandikan anak depan rumah, mencari kutu, hingga menapis beras. Juga pakbapak yang nongkrong dibale-bale sambil mengikat tali pancing, menggergaji besi (ladu) dan menjahit jala yang putus.


Selain aktivitas warga, terlihat juga bangunan-bangunan pemerintah yang membikin nyesek, bangsal tenun yang tak terpakai, perahu nelayan yang disimpan dibawah kolong rumah, tanaman hidroponik yang kering, gazebo teilalo tanpa pengunjung.


Dan yang terakhir yang paling mecengangkan adalah dua buah bangunan mangkrak dibelantara makutanda dan pantai mbanua. Pasar rakyat!


Jika Pasar rakyat Makutanda telah lama terkubur beberapa dekade silam, meskipun sempat renov tapi tak kunjung hidup. Berbeda dengan Pasar Mbanua, tahun 2021 lalu pasca peresmiannya kembali oleh Bupati Busel, aktivitasnya sempat ramai, bertahan cukup lama mungkin beberapa bulan, saya dan teman-teman dari Kapoa sempat ngabuburit dipasar ini, ragam menu makanan dan minuman pabuka juga tersedia kala itu.


Kini aktivitas itu hilang bak ditelan bumi. Tanpa ada upaya untuk menghidupkannya kembali. Yang tersisa tinggal puing-puing lapak penjual beserta kenangannya mengikuti pasar pendahulunya makutanda dan bangunan-bangunan lainnya menjadi monumen mangkrak simbol kekerdilan pikiran para pemangku kebijakan. Sungguh ironi!


Setelah beberapa jam berkeliling desa tak terasa hari nyaris gelap. Sepanjang jalan menuju pulang ada aroma yang menganggu penciumanku, yakni aroma pisang goreng silaja yang membikir leher ingin berteriak. Tak tahan, ku parkir kuda besiku di pinggir jalan Desa Marawali tepat depan gerobak penjualnya. Sepuluh buah telah terisi dikantong, setelah membayarnya kulanjutkan perjalanan menuju rumah.

Kopi hitam, rokok surya dan buah tangan itu menyempurnakan perjalananku hari itu. Kuseruput lalu berteriak pelan: ...edede nyamannaa... 😁

 



Selalu ada kisah-kisah menarik ketika pulang kampung, jika lazimnya kisah tentang suasana damai, hening dan bertemu teman kecil sembari nostalgia. 


Tetapi dua bulan kemarin ketika pulang ke Kadatua, ada satu kisah yang terbilang unik yakni tentang perburuan mesiu. 


*** 


Malam itu sehabis makan malam, lidahku terasa pekat dan tawar nampaknya butuh penawar, maklum belasan tahun ini saya dibuat candu oleh nikotin salah satu produk perusahan asal Kediri, SURYA GG. 


Ketika sedang mengobati candu dengan menghirup asap nikotin dan menyeruput kafein, beberapa orang yang terbilang sepuh datang menghampiri, tak heran karena memang rumah nenekku adalah tempat biasa mereka nongkrong. 


Saya duduk manis menikmati obrolan mereka, satu yang membikin saya tercengang adalah ketika mereka berkisah tentang pelayaran ke Kepulauan Morotai dan sekitarnya. 


Dalam buku-buku sejarah tentu kita tidak asing dengan pulau tersebut, disana pernah terjadi perang dunia II yang kita kenal dengan pertempuran Morotai. 


Tiga Dekade pasca Pertempuran dan Proklamasi Kemerdekaan tahun 70-80an, perburuan harta karun bekas peperangan itu dimulai, tak terkecuali orang-orang kadatua, mereka menyelam mengambil sisa-sisa peninggalan. Salah satu barang berharga yang diambil adalah Bom. 


Bom itu dibawa pulang ke Kampung, dibongkar dan diambil isinya yang berupa bubuk mesiu bewarna kekuningan, konon cerita, bubuk itu jika dicampurkan pupuk lalu dijadikan Bom ikan akan memiliki daya ledak tinggi. 


Bukan hanya ikan, tetapi segala yang ada disekitarnya lulu lantak. Ketika dijual harganya pun bisa dua kali lipat dibanding bom ikan pada biasanya. 


Dikampung mungkin kita kerap kali akan menjumpai orang tua sepuh yang jemarinya buntung, kemudian wadah besi yang menjadi bel alarm sekolah penanda apel atau jam rehat dan alat penumbuk ubi. Itulah sisa-sisa bekas bom.



Sebagai generasi sekarang mungkin kita merasa ngeri dan mengutuk segala tindakan yang dilakukan mereka itu, tetapi satu hal yang jadi permenungan, kehidupan nelayan kala itu sungguh ironi hanya untuk bertahan hidup tapi tidak benar-benar hidup. Maka aktivitas yang mereka lakoni itu semata-mata hanya untuk meningkatan kualitas ekonomi keluarga. 


Meskipun hari ini, alam kita hancur, tetapi kehidupan kita sudah berbeda dari mereka, kita sudah makan enak, bersekolah, berkendara, dan desa-desa sudah diguyur anggaran dengan dana milyaran. 


Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari kisah mereka, dengan kapasitas yang kita miliki hari ini entah sebagai pemuda atau berprofesi sebagai apapun, untuk terus berupaya berkontribusi memajukan kehidupan bersama serta menjaga dan melestarikan alam untuk keberlanjutan. (*)

 




Setibaku di kawasan Tebing Labulengke kurang dari setengah jam baskara diufuk barat akan tenggelam. Laksana berada dalam sebuah lukisan hidup, terlihat jingga langit, sabana, dan pemandangan laut yang memanjakan mata.

Rombongan perempuan dengan usia belia mengenakan baju monyet bersepatu kets putih sekilas mirip nisya sabyan, yang tiba lebih awal dibibir tebing, mengabadikan momen itu diponselnya dengan beberapa kali jepretan secara bergantian.

Disisi lain tebing tepat diujung jalan aspal terlihat beberapa perempuan yang sudah lanjut usia dengan bedak dingin diwajahnya, berkaos parpol lengan panjang sedang memanggul keranjang kerikil diatas kepala lalu menumpakannya dibahu jalan pengerasan yang konon sebentar lagi jalan itu akan disiram cairan hitam panas (aspal) hingga tersambung ke desa tetangga yang sejak lama terisolir.

Melihat sekilas aktivitas perempuan lansia itu mungkin sebagian kita beranggapan  biasa saja, laiknya bekerja dalam sebuah proyek pembangunan untuk mendapat upah dan selesai begitu saja tanpa ada sesuatu hal yang akan dikenang.

Tetapi tidak, mereka sebenarnya turut andil dalam sebuah peradaban besar.

Kita tahu Pulau Kadatua dengan kondisi geografis yang gersang, kemudian deposito sumberdaya lautnya juga kian kikis, pesisirnya abrasi, terumbu karang hancur. Hal ini kemudian menjadikan kita pesimis untuk mau hidup dan bahkan membayangkan masa depan pulau ini seakan suram.

Kita tinggalkan pergi merantau berniaga, bersekolah, lalu pulang ketika renta dan menunggu ajal tanpa andil.  Sedang mereka para perempuan-perempuan lansia itu berupaya ambil bagian merintis sebuah jalan membangun harapan dan optimisme kembali.

Tidak akan lagi sekat dan kawasan terisolir. Desa-desa akan terhubung melingkar menjadi satu kesatuan. Sepersekian menit memacu kuda besi kita sudah berada di Kapoa begitupun ke Banabungi atau ke Desa lain.

Jika secara fisik kita tidak lagi berjarak, seharusnya ide-ide juga pun demikian. Semoga keterhubungan ini nantinya memacu kita untuk berkontribusi.