Bangunan Mangkrak dan Simbol Kekerdilan Pikiran

 

(Sumber Foto: Jabal Kubais)


Suasana siang itu sepi sekali hanya beberapa motor yang lewat, tak heran karena memang matahari tepat diatas kepala, teriknya seperti laser yang siap membakar manusia yang berkeliaran.


Beberapa jam kemudian teriknya reda, sudah sore ternyata, terlihat kendaraan mulai lalu lalang, rombongan pemuda-pemudi desa sudah saling sahutan, rambutnya klimis, jilbabnya rapi. Bersiap berkeliling kampung lalu finish di dermaga dan tebing adalah satu-satunya hiburan.


Tak mau terlewatkan saya pun turut serta menikmati hiburan itu, kupacu kuda besiku membelah jalan poros kadatua, ragam pemandangan alami khas desa yang jarang ditemukan di Kota, mulai dari buibu yang memandikan anak depan rumah, mencari kutu, hingga menapis beras. Juga pakbapak yang nongkrong dibale-bale sambil mengikat tali pancing, menggergaji besi (ladu) dan menjahit jala yang putus.


Selain aktivitas warga, terlihat juga bangunan-bangunan pemerintah yang membikin nyesek, bangsal tenun yang tak terpakai, perahu nelayan yang disimpan dibawah kolong rumah, tanaman hidroponik yang kering, gazebo teilalo tanpa pengunjung.


Dan yang terakhir yang paling mecengangkan adalah dua buah bangunan mangkrak dibelantara makutanda dan pantai mbanua. Pasar rakyat!


Jika Pasar rakyat Makutanda telah lama terkubur beberapa dekade silam, meskipun sempat renov tapi tak kunjung hidup. Berbeda dengan Pasar Mbanua, tahun 2021 lalu pasca peresmiannya kembali oleh Bupati Busel, aktivitasnya sempat ramai, bertahan cukup lama mungkin beberapa bulan, saya dan teman-teman dari Kapoa sempat ngabuburit dipasar ini, ragam menu makanan dan minuman pabuka juga tersedia kala itu.


Kini aktivitas itu hilang bak ditelan bumi. Tanpa ada upaya untuk menghidupkannya kembali. Yang tersisa tinggal puing-puing lapak penjual beserta kenangannya mengikuti pasar pendahulunya makutanda dan bangunan-bangunan lainnya menjadi monumen mangkrak simbol kekerdilan pikiran para pemangku kebijakan. Sungguh ironi!


Setelah beberapa jam berkeliling desa tak terasa hari nyaris gelap. Sepanjang jalan menuju pulang ada aroma yang menganggu penciumanku, yakni aroma pisang goreng silaja yang membikir leher ingin berteriak. Tak tahan, ku parkir kuda besiku di pinggir jalan Desa Marawali tepat depan gerobak penjualnya. Sepuluh buah telah terisi dikantong, setelah membayarnya kulanjutkan perjalanan menuju rumah.

Kopi hitam, rokok surya dan buah tangan itu menyempurnakan perjalananku hari itu. Kuseruput lalu berteriak pelan: ...edede nyamannaa... 😁

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.