Lapangan Marawali Riwayatmu Kini


Perda pemekaran Kecamatan Kadatua tahun 2003 diteken oleh Bupati Buton LM. Sjafei kemudian disambut suka cita oleh seluruh elemen masyarat di Pulau Kadatua, yang menandakan bahwa resmi terpisah dari induknya Batauga.


La Ode Muhidin kemudian ditunjuk sebagai camat pertama, pembangunan digalakkan, mulai kantor hingga lapangan.


Warga di kerahkan untuk gotong royong membabat belantara lereng banawa, lokasi dibangunnya kantor dan lapangan yang kini kita kenal MARAWALI.


Tahun berikutnya mulai dibuka pagelaran akbar perlombaan seni dan olahraga semua tingkatkan, dalam rangka menyambut HUT Proklamasi.


Ketika dulu sebelum berpisah, kegiatan 17an hanya dinikmati oleh warga laompo dan sekitarnya, pasca pemekaran akhirnya bisa dinikmati oleh seluruh warga di Pulau Kadatua tanpa terkecuali.


Meskipun kala itu masih duduk dibangku SMP, tetapi saya merasakan sendiri bagaimana euforia warga. Kapal-kapal ikan berukuran besar sandar dipelabuhan Kaofe yang mengangkut warga banabungi, kemudian jalan dipenuhi massa pejalan kaki Waonu dan Kapoa menuju lapangan untuk menyaksikan acara yang puluhan tahun tidak dinikmati itu.


Membayangkan kembali euforia itu seolah rasa kebanggaan itu muncul kembali. Kapan, kapan, dan kapan bisa terulang lagi?


Nyaris dua dekade sudah Kecamatan Kadatua berdiri lalu pemimpin silih berganti, kegiatan itu kemudian sirna. Lapangan marawali yang menjadi kebanggaan warga Kadatua yang dibabat dengan semangat kebersamaan itu menyisahkan alang-alang yang tinggi menjulang, kembali keasalnya menjadi belantara yang seolah ingin menutup kenangan yang tersisa.


Sebagai generasi, apa makna perjuangan berdikari menjadi kecamatan berpisah dari induk batauga yang dipupuk oleh rasa kebersamaan para pendahulu itu? Lalu apa yang hendak dilakukan untuk membangkitkannya kembali?

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.