Tampilkan postingan dengan label Perspektif BungYus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perspektif BungYus. Tampilkan semua postingan

 



Setiap akhir tahun, kita sering kali merenung, merefleksi perjalanan hidup, dan menyusun harapan baru untuk tahun mendatang. Namun, refleksi ini tak hanya sebatas pada kehidupan pribadi. Sebagai bagian dari masyarakat Kadatua, ada baiknya kita juga memikirkan masa depan bersama, terutama terkait pembangunan dan potensi kampung kita, Kadatua.


Kecamatan Kadatua telah melewati babak-babak panjang sejarah pembangunan. Saat ini layanan dasar telah tersebar dihampir 10 Desa. Jaringan listrik sudah terkoneksi kesemua desa meski masih 15 jam, demikian halnya internet walaupun dibeberapa desa koneksinya belum stabil.


Selain itu layanan pendidikan sudah cukup terpenuhi, ada 10 SD, 4 SMP, serta SMA dan SMK. Serya fasilitas kesehatan juga telah tersedia yakni: Puskesmas Kadatua dan Kadatua Timur.


Namun, salah satu pencapaian paling signifikan adalah terbukanya jalur Labulengke-Kapoa. Jalur ini tidak hanya menghubungkan seluruh desa di Kadatua, tetapi juga menciptakan jalan lingkar yang mempermudah akses antar desa. Tidak ada lagi desa-desa yang terisolasi; waktu dan jarak kini terpangkas secara signifikan.


Sebagai generasi 70 hingga 90an, sulit bagi kita membayangkan bagaimana wajah Kadatua di masa lalu dan membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, terbukanya jalur ini seolah membuka harapan baru, memberikan kita gambaran tentang potensi besar yang belum tergarap sepenuhnya.


Kawasan Kadatua Timur, khususnya jalur Labulengke-Kapoa, memiliki pesona alam yang luar biasa. Tebing-tebing indah, sabana yang menyejukkan mata, serta pemandangan sampan nelayan & kapal-kapal besar yang hilir mudik menuju Kota Baubau menawarkan daya tarik wisata yang tidak bisa diabaikan. Apalagi, panorama saat senja di kawasan ini begitu memikat.


Lokasinya yang dekat dengan Baubau dan mudah diakses membuat kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata. Bahkan, sebelum kawasan wisata lain seperti Waburi Park dan jembatan lingkar Wawoangi-Sampolawa menjadi tren, Kadatua sudah menjadi tempat favorit untuk berkemah, terutama oleh warga Baubau diwaktu weekend.


Kita berharap ada terobosan dari pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata di kawasan ini. Fokus utama seharusnya ada pada dua desa, yakni Kapoa dan Banabungi Selatan. Sebab kedua desa ini memiliki keunggulan geografis dan daya tarik wisata yang dapat dioptimalkan.


Tentunya ini akan memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Homestay, warung makan, kedai kopi, transportasi lokal, hingga produk kerajinan bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi warga.



Orang Kadatua sudah lama merantau dan berdiaspora, utamanya di Timur Indonesia; Maluku dan Papua. Tradisi merantau yang telah diwariskan turun-temurun ini mulanya didominasi oleh profesi nelayan dan pedagang. Generasi pertama para perantau Kadatua jarang memasuki dunia birokrasi atau menjadi pejabat publik. Namun, pola ini kini mulai berubah.


Hari ini, kita dapat dengan bangga menyaksikan perubahan tersebut. Anak-anak Kadatua tidak hanya berprofesi sebagai nelayan atau pedagang, tetapi juga merambah profesi yang lebih beragam seperti guru, karyawan BUMN, anggota TNI/Polri, hingga menjadi tokoh politik. 


Salah satunya adalah Herman Gafur, putra Kadatua yang berhasil menembus panggung politik sebagai anggota DPRD Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, dua periode dan juga sekaligus Ketua DPC PBB Kab. Mikikam


Kabupaten Mimika sendiri memiliki populasi lebih dari 300ribu jiwa adalah wilayah yang kompleks secara sosial dan politik. Namun, ia mampu menavigasi tantangan ini dengan baik, membuktikan bahwa anak Kadatua bisa bersaing dan berkontribusi di tingkat daerah yang jauh dari kampung halaman.


Hal ini tentu memberikan insipirasi dan pelajaran yang berharga bagi kita khususnya generasi muda, bahwa batas geografis bukanlah penghalang untuk meraih mimpi besar. Dengan kerja keras, pendidikan, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, anak-anak Kadatua memiliki peluang yang sama untuk mencapai kesuksesan.


Dan tentunya menjadi pengingat bahwa merantau bukan sekedar mencari penghidupan, tetapi juga sarana untuk membangun jembatan kontribusi. Ketika seseorang sukses di perantauan, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat di kampung halaman melalui inspirasi, motivasi, dan bahkan kontribusi nyata seperti dukungan pembangunan.


Namun, cerita sukses seperti ini tidak muncul begitu saja. Tentu ada dukungan yang kuat, baik dari keluarga, lingkungan, komunitas, maupun pemerintah. Pendidikan harus menjadi prioritas utama, terutama bagi anak-anak di Kadatua, agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk bersaing & punya daya juang.


Olehnya itu seharusnya ini menjadi cambuk motivasi bagi seluruh komponen masyarakat dan stakeholder di Kadatua untuk terus mendukung pendidikan dan pemberdayaan generasi muda. Sebab, di balik setiap kisah sukses di perantauan, ada akar yang kuat dari kampung halaman yang mendukungnya. 

 


Tahun 2024 menjadi tahun penting bagi Buton Selatan (Busel), karena untuk kedua kalinya daerah ini akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sejak pemekarannya pada tahun 2014. Pilkada kali ini seharusnya menjadi momen refleksi dan perbaikan bagi seluruh masyarakat Busel, mengingat pengalaman pahit yang telah kita alami selama satu dekade terakhir.


Belajar dari Pengalaman Pahit


Buton Selatan, sejak resmi berdiri sebagai daerah otonom, tidak terlepas dari persoalan yang memprihatinkan. Bupati definitif pertama dan wakilnya yang menggantinya, yang seharusnya menjadi figur pemimpin yang memimpin dan memberi contoh teladan, justru terlibat dalam kasus hukum. Kejadian ini sangat disayangkan karena bukan hanya mencoreng nama baik mereka sebagai individu, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan daerah.


Tidak berhenti disitu, masalah rekrutmen CPNS yang setiap tahun selalu diwarnai dengan isu kecurangan semakin memperburuk citra pemerintahan. Bagaimana mungkin sebuah daerah yang masih muda dan memiliki potensi besar untuk berkembang, terus-menerus dikecewakan oleh oknum-oknum yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya?


Pilkada 2024: Momentum untuk Berubah


Menghadapi Pilkada 2024, masyarakat Buton Selatan harus lebih cermat dalam memilih pemimpin. Pengalaman masa lalu seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 


Kita harus mengingat bahwa Pilkada bukanlah sekadar rutinitas politik lima tahunan, tetapi sebuah proses menentukan arah masa depan daerah. Pemimpin yang terpilih akan menentukan bagaimana kebijakan pembangunan dilaksanakan, bagaimana kesejahteraan masyarakat ditingkatkan, dan bagaimana keadilan ditegakkan.


Pemimpin yang kita butuhkan bukan hanya sekadar mereka yang populer atau memiliki modal besar untuk kampanye, tetapi mereka yang benar-benar memiliki komitmen untuk membangun Busel dengan hati dan integritas. Kita memerlukan pemimpin yang mampu mendengarkan suara rakyat, bekerja dengan transparansi, dan berani mengambil keputusan yang adil meskipun itu tidak populer. Pemimpin yang memiliki visi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat, bukan yang hanya mencari keuntungan sesaat.


Sudah saatnya kita membangun kesadaran kolektif untuk masa depan Busel yang lebih baik. Kita tidak bisa lagi membiarkan daerah ini dijadikan bancakan oleh segelintir orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Pilkada 2024 adalah kesempatan emas bagi kita untuk memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan positif bagi daerah ini.


Memang memilih pemimpin berintegritas bukanlah tugas yang mudah, terutama di tengah berbagai godaan dan tekanan. Namun, kita harus yakin bahwa memilih pemimpin yang tepat adalah investasi terbaik untuk masa depan. 


Pemimpin yang berintegritas akan memastikan bahwa kebijakan yang diambil adalah untuk kepentingan rakyat banyak, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. 


Mereka akan berusaha keras untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel, yang akan membawa Buton Selatan menuju kemajuan dan kesejahteraan.


Kita semua harus mengambil peran aktif dalam menentukan masa depan Busel. Pilkada 2024 adalah kesempatan kita untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan membangun fondasi yang lebih baik untuk masa depan. Dengan demikian, kita tidak hanya mengubah nasib Busel tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang akan mewarisi daerah yang lebih baik dan lebih sejahtera.

 


Menjadi pendidik adalah panggilan jiwa yang mendalam. Mereka yang sejatinya adalah orang-orang yang sejak awal mencintai proses belajar, memiliki keinginan kuat untuk berbagi ilmu, dan merasa resah melihat kebodohan di sekelilingnya. Pendidik sejati tidak melihat profesinya sebagai sekadar pekerjaan atau jalan menuju karir yang lebih baik, tetapi sebagai misi mulia untuk mencerdaskan generasi. 


Sayangnya, fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran motif di kalangan calon pendidik, yang mengkhawatirkan bagi masa depan pendidikan kita.


Banyak orang masuk fakultas pendidikan bukan karena kecintaan pada dunia pendidikan atau panggilan hati untuk menjadi guru. Mereka masuk hanya karena melihat peluang besar untuk diterima sebagai PNS. Motivasi ini, meskipun pragmatis, seringkali tidak berkesesuaian dengan semangat yang dibutuhkan untuk menjadi pendidik yang baik. Alhasil, ketika mereka akhirnya lulus dan menjadi guru, dedikasi mereka sering kali kurang maksimal. Mengajar hanya menjadi rutinitas formalitas yang tanpa makna, dan proses belajar-mengajar pun kehilangan rohnya.


Ketika seorang guru tidak menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, dampaknya tentu saja dirasakan oleh siswa. Siswa adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya ditempa dengan ilmu dan keterampilan yang memadai untuk menghadapi tantangan masa depan. Sayangnya, ketika pengajaran dilakukan hanya untuk memenuhi kewajiban formal, kualitas pendidikan yang diterima siswa menjadi rendah. Mereka tidak mendapatkan inspirasi, motivasi, atau pemahaman mendalam tentang materi yang diajarkan. Akibatnya, proses pendidikan menjadi mandek dan tidak mampu menghasilkan SDM yang kompeten.


Lebih parah lagi, sikap kurang berdedikasi dari para pendidik ini dapat menular kepada siswa. Mereka mungkin saja melihat guru mereka yang tidak bersemangat dan menganggap bahwa belajar juga tidak penting. Rasa malas dan acuh tak acuh terhadap pendidikan dapat tumbuh dan berkembang di kalangan siswa, menciptakan generasi yang kurang termotivasi dan kurang berprestasi.


Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu dari guru ke siswa, tetapi lebih dari itu. Pendidikan adalah proses pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai, dan pengembangan potensi individu. Untuk menjalankan peran ini dengan baik, seorang pendidik harus memiliki panggilan hati. Mereka harus memiliki rasa cinta terhadap profesinya, kesabaran yang tinggi, dan keinginan kuat untuk terus belajar dan berkembang.


Panggilan hati ini tidak bisa dipaksakan. Mereka yang masuk dunia pendidikan hanya karena melihat peluang karir atau tuntutan ekonomi cenderung tidak memiliki ketahanan mental yang cukup untuk menghadapi tantangan dalam dunia pendidikan. Sebaliknya, mereka yang memiliki panggilan hati akan mampu menghadapi berbagai rintangan dengan semangat dan tekad yang kuat, karena mereka merasa bertanggung jawab untuk mencerdaskan anak bangsa.

 


Sadar atau tidak, entah mungkin keliru, satu-satunya kantor pemerintahan di Kadatua yang tidak mengalami perubahan adalah Kantor Camat Kadatua. 


Ketika mendengar Kantor Camat Kadatua akan direnovasi, pikiran seolah kembali ke dua dekade yang silam. Di tempat inilah, seluruh elemen masyarakat kadatua dahulu berkumpul, bergotong royong membabat kawasan belantara untuk dijadikan pusat pemerintahan serta aktivitas warga, seperti lapangan voli dan sepak bola marawali. 


Perjuangan itu menandai dimulainya era baru bagi Kadatua dalam menyambut pemekaran kecamatan tahun 2003, resmi memisahkan diri dari wilayah administrasi Kecamatan Batauga. Dahulu, warga harus menyebrangi lautan untuk mendapatkan layanan publik, namun kini, semua urusan dan aktivitas kecamatan berpusat di Pulau Kadatua.


Transformasi besar juga terlihat dalam layanan pendidikan. Pada masa awal, SD hanya berjumlah tujuh, kini telah bertambah menjadi sembilan. SMP yang dulunya hanya ada satu, kini menjadi empat. Untuk tingkat sekolah menengah atas, yang dahulu harus ditempuh ke Kota Baubau dengan menyebrangi lautan, kini tersedia SMA dan SMK di Kadatua. 


Namun, di balik segala perubahan ini, pendidikan kita masih menghadapi tantangan besar. Pendidikan kita masih berkutat pada formalitas, sementara dunia terus berkembang menuntut inovasi dan kreativitas agar anak-anak dapat berprestasi di segala bidang, tidak hanya akademis tetapi juga non-akademis.


Kualitas pendidik menjadi tumpuan utama. Jika dahulu banyak guru berasal dari luar, kini banyak guru merupakan putra-putri asli Kadatua. Ini adalah perkembangan positif yang harus diapresiasi dan terus didorong.


Melihat masa depan, kita harus menyadari bahwa tantangan dalam dunia pendidikan bukan hanya soal jumlah sekolah atau sarana fisik semata, tetapi juga kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan dengan perkembangan zaman. Harus ada kesadaran kolektif di antara seluruh unsur di Kadatua, baik pemerintah, guru, maupun masyarakat, untuk berkumpul, duduk bersama, dan berdialog tentang masa depan pendidikan dan sumber daya manusia kita.


Kita perlu introspeksi diri. Apakah pendidikan yang kita berikan saat ini sudah memadai untuk menghadapi tantangan masa depan? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa anak-anak Kadatua mendapatkan pendidikan yang tidak hanya memadai, tetapi juga unggul dan relevan dengan kebutuhan zaman?


Salah satu kuncinya adalah kolaborasi. Pemerintah harus menyediakan fasilitas dan kebijakan yang mendukung. Guru-guru perlu terus meningkatkan kompetensinya dan menerapkan metode pembelajaran yang inovatif. Masyarakat harus terlibat aktif dalam mendukung pendidikan, baik melalui partisipasi langsung maupun dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.


Kita juga harus membuka diri terhadap teknologi dan metode pembelajaran baru. Dunia digital menawarkan banyak peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Penggunaan aplikasi pembelajaran, metode pembelajaran jarak jauh, dan alat bantu digital lainnya dapat membantu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.


Selain itu, kita perlu mendorong anak-anak untuk berprestasi di berbagai bidang. Pendidikan tidak boleh hanya fokus pada pencapaian akademis. Keterampilan lain seperti olahraga, seni, dan keterampilan hidup juga harus mendapat perhatian. Dengan demikian, kita bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, inovatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan.


Momentum dua dekade Kadatua ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan perjalanan yang telah kita tempuh dan menentukan langkah ke depan. Kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah arah yang kita ambil sudah benar? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan masa depan Kadatua?

 



Menjelang lebaran, kampung halaman menjadi magnet bagi para perantau dari berbagai penjuru untuk pulang kampung bertemu keluarga dan melepas rindu.

Namun, kepulangan mereka tidak jarang diwarnai dengan rasa jenuh setelah beberapa hari berada di tengah-tengah keluarga dan teman-teman di kampung halaman. Meskipun ada alternatif hiburan seperti turnamen futsal "Merantau Cup" di Desa Mawambunga yang digagas oleh para pemuda setempat, namun rasanya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hiburan yang beragam.

Perlu disadari bahwa di desa-desa, hiburan seringkali menjadi barang langka. Sementara kebutuhan akan hiburan dan interaksi sosial tidak bisa diabaikan begitu saja. Akibatnya, rasa kerinduan akan kampung halaman seringkali tidak terobati sepenuhnya. 

Maka, sudah saatnya kita semua sebagai warga kadatua terutama pemerintah di tingkat desa dan kecamatan, memikirkan untuk bagaimana menghidupkan kembali kegiatan kebudayaan sebagai alternatif yang lebih berkesan.

Kita memiliki warisan budaya yang kaya dan layak dijaga. Dari tarian tradisional, kemudian silat "manca", hingga upacara adat, dan lain-lain. 

Setiap elemen kebudayaan tersebut tentu memiliki potensi untuk mempererat ikatan antara para perantau dengan kampung halaman. Dan juga sebagai upaya kita untuk melestarikan warisan leluhur & merayakan identitas serta sebagai pengikat kita dengan tanah kelahiran.

Kita memiliki jumlah perantau yang mencapai ratusan bahkan ribuan, dan tersebar diberbagi pelosok rantauan dari ujung Tanimbar hingga Papua, dari Barat hingga Timur. Kalau kepulangan mereka dikelola dengan baik ini justru mendatangkan potensi ekonomi, walaupun itu sementara, tapi setidaknya kampung halaman dihidupkan.

Kegiatan seperti ini tentu tidak hanya akan memberikan hiburan yang lebih bermakna bagi para perantau, tetapi juga dapat mengubah kepulangan mereka saat lebaran dari sekadar momen melepas rindu menjadi peluang nyata untuk menghidupkan kembali kebudayaan lokal dan menggerakan ekomoni desa. 

Dengan demikian, kita tidak hanya merayakan lebaran sebagai momentum bersilaturahmi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk merayakan warisan budaya dan memperkuat jalinan sosial di masyarakat.

 




DNA orang buton itu adalah perantau. Disetiap persinggahan kapal apalagi di Timur Indonesia tidak sulit untuk menemukan mereka. Kantong-kantong orang Buton menyebar dimana-mana khususnya di Pelabuhan, di Pasar maupun kampung nelayan.

Akhir tahun 2022 lalu saya berkesempatan untuk melihat itu semua. Dengan menumpang kapal Pelni saya berlayar ke Ambon, kemudian transit di Banda Naira, dan berakhir di Kepulauan Tanimbar yakni salah satu pulau terluar yang perbatasan laut langsung dengan negeri kanguru Australia. Disana banyak sekali komunitas Buton, disetiap persinggahan selalu ada mereka.

Di Tanimbar, khususnya di Kota Saumlaki dan Larat. Perantau Buton asal Kadatua cukup banyak, seperti perantau Buton pada umumnya disini mereka bekerja sebagai pedagang serta nelayan dan rerata berhasil. Jumlah mereka pun ratusan, dan sudah berdiaspora sejak lama sekitar periode tahun 90an.

Keberadaan mereka yang jauh dari kampung halaman, bukan berarti lupa dengan tanah asalnya. Dikala malam tiba, ketika jualan sudah tutup, atau musim terang bulan saat nelayan libur melaut,  bale bambu (gode-gode) dipesisir dekat tambatan perahu nelayan selalu ramai. Musik daerah Buton kerap diputar. Berada disini serasa dikampung.

Apalagi mendekati momen ramadan atau lebaran, efforia perantau mulai kerasa, obrolan tentang kampung mulai intens dibicarakan. Jadwal kapal mulai dipantau, tujuannya tentu selain ingin melepas rindu dengan sanak famili dan handai tolan juga ingin menikmati hiburan di tanah asalnya. Maklum sepanjang tahun mereka harus bergelut dengan pekerjaan mengumpulkan pundi-pundi.

Jika dilihat, seharusnya disinilah peluang untuk membangkitkan kampung halaman sementara waktu. Bagaimana menjamu perantau ketika mudik yang membawa segepok uang mereka untuk diputar menjadi peluang ekonomi dikampung.

Hiburan adalah satu upaya untuk itu, kita bisa berkaca pada tradisi Maacia di Sampolawa dan Lapandewa.

Suatu ketika saya pernah berbincang dengan salah satu Kepala Desa disana, ia mengatakan pesta kampung Maacia selain upaya merawat tradisi leluhur orang cia-cia, juga sebagai ajang reuni dan nostalgia para perantau. Selama keberadaan para perantau dikampung konon perputaran ekonomi mencapai ratusan juta bahkan miliyaran. Para perantau nyaman disungguhi dengan ragam atraksi dan kegiatan. Tanpa sadar mereka turut berkontribusi, ekonomi warga di kampung pun ikut menggeliat. Warung-warung kecil di desa serta penenun kain buton kena dampak ekonomi.

Turnamen Merantau Cup yang digagas oleh Pemuda adalah salah satu contohnya, kita bisa menyaksikan sendiri dampak dari turnamen ini, selama hampir sebulan kegiatan berlangsung, warga yang menjual disekitar lapangan turut kecipratan, sembari menyaksikan pertandingan penonton berbelanja.

Seharusnya hiburan seperti ini lebih banyak lagi diadakan. Bukan hanya olahraga tetapi juga yang lainnya semisal budaya. Kita punya warisan adat tradisi yang sejak lama mati, hanya upaya kita bagaimana menghidupkan itu semua. (*)


Perahu Nelayan Buton

Suasana Pertokoan Larat Kota

Kios-kios diaspora Buton

Pasar Malam




Kurang lebih 27 hari lagi ramadhan akan menyapa. Perbincangan PULANG KAMPUNG pun mulai hangat. Diberanda medsos pamflet digital Turnamen Futsal mulai ditebar, walaupun desain pamfletnya terkesan lawas dan agak kaku, tapi sudahlah, intinya turnamen itu ada.


Mereka yang dirantau, pecinta, manager maupun pemain entah yang bekerja sebagai pedagang atau pun nelayan, disela-sela menunggu pembeli atau ketika baru pulang melaut, topik ini tak luput dibicarakan. Maklum, satu-satunya hiburan ketika pulang kampung lebaran hanyalah turnamen ini.


Selain itu juga, tentu sebagai wadah ekspresi para perantau. Hobi yang terpendam serta pundi-pundi yang dikumpulkan selama dirantau disinilah ditunjukkan. Maka tak heran perbincangan seputar pemain mana yang akan diturunkan serta model jersey yang akan dipakai menjadi perhatian lebih mereka. Seolah Pulang Kampung dan turnamen Futsal adalah pasangan kekasih yang terpisahkan.


Dan yang tak kalah menarik konon turnamen yang diselenggarakan tahun ini berbeda dari biasanya, skopnya lebih luas--- se Kabupaten Busel. Ternyata animo besar tidak hanya datang dari para perantau tapi panitia di Kampung juga demikian, berani keluar zona nyaman serta pakem yang selama ini hanya mampu membuat event tarkam skop kecil lingkup kadatua. 


Pertanyaan kemudian adalah apakah mampu? Mengingat banyak catatan buruk disetiap turnamen yang dilaksanakan dan selalunya berulang, mulai dari soal transparansi hadiah, wasit yang merangkap pemain, dlsb. Mengundang tamu luar tentu tidak main-main, butuh effort yang lebih, kesalahan kecil saja bisa berdampak buruk bukan hanya pada panitia tetapi se pulau kadatua kena imbasnya.


Namun kita tidak boleh pesimis. Inilah tantangan yang mesti dijawab bersama bukan hanya panitia sebagai penyelenggara, tetapi semua yang terkait, baik itu pecinta, manager maupun pemain.


Mumpung masih ada tenggat waktu kurang lebih 60 hari lagi. Diskursus soal ini musti dilakukan, masukan dan catatan dari berbagai pihak mesti didengar. Tidak boleh lagi ada potalo-talo. Tidak boleh lagi ada istilah "mieku" dan "miendo". Sebab sejatinya Turnamen Merantau Cup bukan hanya milik panitia semata, tetapi sudah menjadi milik kita orang Busel dan Kadatua khususnya secara keseluruhan. Maka Suksesnya turnamen adalah sukses kita semua. (*)


BRAVO MERANTAU CUP!!! 🫰

 



Sering kali dalam banyak penelitian mengungkapkan bahwa generasi milenial itu apolitis. Hanya fokus pada urusan gaya hidup. Abai pada urusan politik.


Sebagai milenial rasa-rasanya kok tidak seperti itu. Sikap tersebut karena kejenuhan saja akan situasi politik yang ada, apalagi tayangan dimedia selalu direcoki perbincangan politisi yang jauh dari subtansi. Sesungguhnya milenial butuh yang konkrit bukan sekedar omdo (omongan doang).


Faktanya memasuki tahun politik jelang 2024, milenial mendominasi penyelenggara Pemilu di semua tingkatan mulai dari PPK hingga pantarlih, Panwascam hingga PKD, diisi oleh mereka. Seolah ini menjawab bahwa mereka sebenarnya peduli.


Di Kecamatan Kadatua kegiatan milenial sebagai penyelenggara pemilu mulai intens dilakukan, meski sifatnya masih teknis namun berbeda dengan sebelum-sebelumnya. 


Upaya mereka untuk menyemarakkan pemilu mulai kelihatan, akun-akun medsos tumbuh bak jamur dimusim penghujan. Dokumentasi kegiatan, serta ajakan untuk aktif dipublikasi.


Namun tentu tak boleh hanya berhenti sampai disitu, manakala hanya bersifat teknis dan publikasi, akun medsos tak ubahnya seperti humas pada instansi pemerintahan. Tak berdampak apa-apa dan hanya formalitas belaka.



Sebagai milenial yang notebene melek digital dan enerjik, harus kreatif dan inovatif. Mencari formula agar penyelenggara pemilu (PPK,PPS PANWAS, dll) yang selama ini diindentikan dengan tukang data atau jaga tinta dan pemilu itu sendiri tidak dimaknai negatif sebagai hanya momen menerima serangan fajar. 


Kehadiran milenial menjadi garda terdepan pengawal demokrasi harusnya lebih menyasar hati dan pikiran warga, kegiatan-kegiatan yang bertajuk pendidikan politik mesti digalakkan, bukan sekedar sosialisasi monolog yang ujungnya sekedar dokumentasi laporan.


Milenial harus lebih out of the box membangkitkan gairah warga. Agar warga berdaya sefta siap mengawal demokrasi, dan memahami bahwa pemilu sesungguhnya adalah sarana untuk memilih legislagor dan pemimpin berkualitas. Bukan arena menerima serangan fajar!!!



Beberapa kali pulang kampung diwaktu weekend (sabtu-minggu) secara kebetulan selalu berbarengan dengan komunitas traveller dari Kota Baubau yang juga kesana untuk healing atau sekedar ingin menambah nutrisi story di medsos mereka. Katanya alam kadatua eksotis.


Bagi kita yang lahir dan besar di Pulau ini, mungkin akan beranggapan biasa saja tidak ada menarik. 


Namun ternyata bagi sebagian orang, apalagi mereka yang hidup di sesaki ruko dan padat kendaraan, Pulau seperti Kadatua adalah surga. Ketenangan dan healing ada disana.


Memang semenjak dibukanya jalur baru yang sejak lama terisolir ini seperti membuka salah satu tabir. Tak hanya jarak dan waktu yang dipangkas tapi juga harta karun yang sejak lama mengendap itu mulai nampak.


Kalau boleh berimajinasi liar, mungkin bakal menjadi spirit baru kadatua. Ya KADATUA TIMUR!!!


Lima desa yang masuk dalam jalur ini memiliki potensi yang mendukung itu, empat diantaranya adalah kawasan pesisir; Desa Banabungi, Bansel, Kapoa dan Kapoa Barat punya potensi perikanan dan wisata bahari dan Desa Lipu adalah Kampung Tua potensi untuk wisata budaya.


Namun untuk sampai kesana, harus ada infratruktur pendukung, utamanya dimulai dari kesadaran warga untuk menjaga dan melestarikan alam. Pengerukkan pasir untuk material bangunan dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan harus segera dihentikan. Sudah cukup kita keroyok pulau ini dengan cara barbar. 


Selain itu juga peran pemuda, komunitas seperti Pokdarwis, Karang Taruna, dll, harus dihidupkan sebagai wadah pertemuan ide-ide kreatif. Saya yakin banyak ide dari anak-anak muda Kadatua namun masih berserak dan mengendap. Olehnya itu wadah komunitas menjadi penting.


Berikutnya adalah peran pemerintah desa. Sudah berulang kali saya menulis disini, bahwa transparansi dan partisipatif sesuatu yang wajib dilakukan, tanpa itu harmonisasi tidak akan jalan, akan muncul terus kecurigaan dan program akan selalu salah sasaran. Pada akhirnya bukan pembangunan yang dilakukan tapi justru pemubaziran.


Jika hal-hal diatas dilakukan, tak menutup kemungkinan ekonomi akan tumbuh, warga berbondong-bondong membangun pemukiman baru dijalur ini dan bisa jadi kelak membuka gerbang terbentuknya kecamatan baru: KADATUA TIMUR. 

 


Mengitari Pulau Kadatua melalui jalur baru (labulengke-kapoa) ini laksana berada dalam dunia dongeng, disekeliling dimanjakan ragam pemandangan nan elok; sabana, laut dan jingga langit.


Dipertengahan antara dua desa berdiri sebuah patung yang konon adalah manisfestasi dari sosok legendaris di Pulau ini. WA ODE POGO. 


Kisahnya yang samar dan penuh misteri membuat bertanya-tanya. Siapa yang berani mewujudkan wajah yang sudah lama berkalang tanah tanpa gambar dan lukisan itu. Pemerintah setempat ataukah kehendak tukang si pembuat patung?


Entahlah, patung sudah terlanjur berdiri, kembali mempertanyakan itu mungkin akan menjadi hal tabu bagi mereka. Yang masih melanggengkan sifat lawas, alergi pada suara kritis.


Namun, sebagaimana karya seni yang bertujuan untuk membangkitkan memori kolektif, patung selayaknya perlu dihidupkan. Tentu bukan menghidupkan layaknya manusia. Tetapi adalah warisannya berupa budaya dan tradisi.


Dibeberapa tempat di Indonesia, setiap momen yang berhubungan dengan sosok dalam patung sering diadakan ragam kegiatan kreatif. 


Di Kota Malang misalnya, di areal Patung Chairil Anwar, ataupun ditaman-taman kota, untuk memperingati ulang tahunnya setiap tanggal 26 Juli, anak muda/mahasiswa mengadakan ragam kegiatan; drama teatrikal dan pembacaan puisi. Tujuan tentu agar generasi selalu mengenang sosoknya.


Begitupun dengan patung Wa Ode Pogo, keberadaannya tak boleh hanya jadi spot selfie, tapi perlu kegiatan yang bisa menghidupkan sosoknya. Ada banyak momen untuk melakukan hal-hal tersebut, misal hari ulang tahun kecamatan, atau pun HUT Kemerdekaan.


Sudah lama Kecamatan Kadatua senyap dan vakum dalam kegiatan bertajuk budaya, padahal hampir semua Kecamatan di Kab. Buton Selatan selalu ada, olehnya kita tak boleh ketinggalan. Keberadaan patung ini harusnya menjadi titik awal bagi pemerintah, pemuda, dan siapapun untuk turun tangan, mengambil bagian. Agar pulau ini terus hidup.




Setelah pemerintah pusat mengumumkan kenaikkan harga BBM tgl 3 september lalu, sudah sangat jelas akan ada dampak ekonomi yang timbul menyertainya.


Salah satunya adalah Tarif Jasa Angkutan Laut Tradisional Penyebrangan Kadatua dan Sulaa (PP). 


Di Tahun 2018 lalu merespon hal serupa, pihak Pemerintah dalam hal ini Camat Kadatua memediasi pihak-pihak terkait, saat itu disepakati beberapa poin, salah satunya adalah: JUMLAH PENUMPANG DIATAS 8 ORANG ATAU MAKSIMUM 15 ORANG DIKENAKAN TARIF RP. 7RIBU/ORANG.


Selang beberapa bulan saja berjalan, kesepakan ini kemudian tidak diindahkan lagi oleh Pemilik Jasa, mereka sewenang-wenang menaikan tarif secara sepihak dan mematok Rp. 10ribu/orang. Kesepakatan tertulis tersebut sangat lemah, bagaimana tidak, jelas menyalahi kesepakatan namun tdk ada sanksi dan teguran. Warga sebagai pengguna jasa pun tak berdaya, bingung keluhan mau disampaikan kemana.


Maka untuk menghindari hal yang sama dan gejolak yang timbul dimasyarakat, sebaiknya pemkab Busel mengambil langkah-langkah meninjau secara langsung serta menyerap aspirasi dari pengguna dan pemilik jasa. Lalu segera diputuskan kebijakan yang kongkrit. Berupa PERBUP atau SURAT KUAT LAINNYA sebagai payung hukum dan rujukkan bersama.


Namun jika hal ini masuk dalam domain Pemprov Sultra sebab penyeberangannya meliputi dua Daerah yakni; Kabupaten Busel dan Kota Baubau, maka DISHUB SULTRA pun harus segera mengambil tindakan.


Pelabuhan dan Laut itu bukan hanya milik pemilik jasa transportasi, tapi milik bersama. Tidak boleh ada monopoli dan perilaku sewenang-wenang. Kehadiran pemerintah sebagai pengelola untuk memfasilitasi pengaturan trayek, tarif, retribusi dll sesuatu yang wajib dan perlu, agar semua pihak merasa nyaman.

 


Cuaca Kadatua akhir-akhir ini kurang bersahabat, mendung panas, mendung panas. Meskipun seperti itu tapi tidak menyururutkan semangat kami untuk melalui hari-hari. 


Disudut-sudut kampung, digode-gode dibawah kolong rumah, seperti biasa kami masih bisa minum kopi sembari melepas tawa. Meski pun dengan suasana hati yang getir dan risih melihat tingkah laku kalian.


Pertama-tama izinkan kami untuk menyampaikan hal risau ini yang selama ini mengganjal dibenak kami, tentunya ini sebagai tanda sayang kami kepada kalian para pemimpin kami. Pemangku kebijakan di desa di Pulau Kadatua.


Sebenarnya surat ini harusnya disampaikan di forum atau di rumah sambil berbisik. Tapi tidak apa-apa, lagian tidak ada juga hal intim yang perlu dirahasiakan. Bukankah urusan publik harus disampaikan kemuka publik?


Baik langsung saja,


Sejak UU Desa disahkan tahun 2014, dan dieksekusi tahun 2015, Dana Desa kemudian digelontorkan, tak terkecuali desa-desa di Kadatua pun turut kecipratan. Betapa bahagianya kami warga desa kala itu, karena konon dana itu dikucurkan untuk menstimulan dan memberi dampak ekonomi bagi kami.


Namun, seiring berjalan, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, pengelolaan kian amburadul dan buruk saja. Banyak program yang tidak tepat guna dan tepat sasaran terkesan boros, transparansi kalian abaikan, kami tidak dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan dan monitoring kegiatan.


Riset yang dilakukan oleh Pendais Haq (2019) lokus studi di Kabupaten Buton Selatan pun mengamini itu, bahwa transparansi belum berjalan dan program tidak mengedepankan skala prioritas. Secara tidak langsung amanat UU Desa telah kalian khianati dan cederai.


Maka sulit bagi kami untuk tidak menaruh curiga kepada kalian. Visi yang kalian sampaikan dimimbar saat Pilkades ternyata cuma kalimat ilusi dan utopis. 


Wahai para pemimpin kami...


Sudah lupakah kalian dari mana kalian berasal? Bukankah kalian itu sama dengan kami, sama-sama rakyat. Karena atas kecerdasan para pemimpin bangsa lebih setengah abad silam, yang telah memilih sistem demokrasi dalam bernegara, semua manusia yang berada dibawah kolong langit nusantara ini pun memiliki hak yang setara untuk dipilih dan memilih. Tak terkecuali kalian.


Sudah lupakah kalian kalimat sakral yang kalian ucapkan di bawah Kitab Suci saat pelantikan tempo hari? Lapangan Lakarada menjadi saksi bisu. Saat itu kalian rapalkan janji suci setia pada konstitusi untuk memajukan rakyat.


Memang kami mafhum bahwa kekuasaan itu sarat dengan jeratan, dimana-mana ada kubangan. Tetapi kami juga tahu, manakala di dalam diri masih ada keteguhan, dan hati yang bersih. Justru itu akan menjadi penerang, penunjuk jalan, agar menjalankan fungsi pemerintahan tetap berada dijalur yang benar.


Kami tidak mau suuzon, kami masih percaya. Dilubuk hati kalian yang paling dalam masih ada secercah sinar itu. Ikuti pentunjuk itu, abaikan segala macam godaan. Rakyat yang kalian pimpin ini juga saudara kalian yang berasal dari akar yang sama dengan kalian. Mengkhianati rakyat sama halnya menempeleng diri sendiri.


Sekian surat singkat ini, mudah-mudahan bisa memacu semangat. Dan memberikan yang terbaik.


Wassalam.

Peluk cium dan sayang dari kami ❤️


RAKYAT KADATUA

 



Kurang lebih empat bulan lagi tahun 2022 akan segera berakhir. Maka nyaris setahun sudah pengelolaan keuangan desa, entah itu diperuntukan dibidang pemberdayaan maupun pembangunan lainnya. Kesemuanya tentunya bertujuan untuk kesejahteraan warga desa.


Namun, dengan kondisi Kadatua yang sepi, mayoritas penduduknya pergi merantau, kemudian minimnya partisipasi warga yang tinggal dikampung serta kurangnya pelibatan BPD dalam menjalankan fungsi pengawasan. Keuangan desa sarat akan penyelewangan dan kongkalikong.


Sudah menjadi hal umum, desa-desa kita dalam urusan ini sangat tertutup. Tiba-tiba saja warga diperlihatkan dengan pembangunan tanpa mengetahui proses dan kesesuaiannya. Pada akhirnya kecurigaan warga selalu muncul, hal ini kemudian berdampak pada kurangnya harmonisasi dan kerukunan bersama.


Menurut ICW (2020) lemahnya SDM pengelola adalah menjadi penyebab utama, kapasitas kades mayoritas di Indonesia sangat rendah, masih banyak ditemukan kades yang tidak mampu untuk mengelola anggaran serta alergi pada kritik.


Padahal tim pendamping serta pengawas, baik dari satgas anti korupsi maupun inspektorat daerah serta dinas terkait untuk melakukan monitoring, pemeriksaan, konsultasi serta pembinaan, tapi tetap saja tidak ada perubahan yang siginifikan. Masih saja pengelolaan keuangan desa tidak transparan dan kurang partisipatif. Hal ini tentunya rentan terhadap manipulasi dan suburnya korupsi.


Jika masalah utama tersebut susah untuk diurai, cara alternatif lainnya untuk mengurai sengkarut itu adalah kekuatan partisipasi khususnya anak muda.


Sudah saatnya anak muda mengambil bagian, turun gelanggang masuki forum-forum desa menjadi penyambung lidah, melakukan usulan, kritik, protes dan sanggah manakala terjadi keganjilan. Bukankah tembok yang keras harus di bongkar dengar alat yang keras? Dan satu-satunya alat yang dimiliki adalah; SUARA!


Suara kita jangan hanya dipakai saat pencoblosan Pemilu atau Pilkades, tapi dipakai juga ketika pemerintahan berjalan. Baik itu dalam pelayanan publik, proses perencanaan program maupun implementasi serta evaluasi.


Dibawah ini adalah data APBDes tahun 2022, di sepuluh desa Kecamatan Kadatua. Kalau dilihat rinciannya porsi lebih banyak pada bidang pembangunan fisik.




Di bidang ini sangat rentan terhadap penyelewengan, biasanya modusnya sangat sederhana dan menggunakan cara lawas, seperti markup proyek, penggelapan, kegiatan fiktif dan pemotongan anggaran. Modus-modus tersebut tidak memerlukan teknik yang canggih.


Sebagai contoh, program pembangunan dan pengadaan barang. Pelaku menyiasati dengan membuat RAB yang jauh lebih mahal dibandingkan standar teknis pembangunan. Cara lain, mengurangi volume pekerjaan dan membeli barang yang spesifikasinya lebih rendah dibandingkan yang ditetapkan dalam rencana anggaran.


Akhirnya kualitas bangunan sangat rendah, beberapa tahun saja sudah roboh, dan yang tinggi justru kualitas pengelola anggarannya dalam hal ini gaya hidup para kepala desa dan aparaturnya. Sedang warga hanya mampu gigit jari. Hidup dalam bayang-bayang pembodohan pemimpinnya. Sungguh ironi!


Untuk itu sengkarut ini perlu diurai. Menggantungkan harapan pada satgas anti korupsi atau inspektorat daerah untuk mengurai ini, sama halnya berharap pada kekasih yang masih mendambakan mantan. Palsu dan bulshit! Sekali lagi tak ada cara lain selain; PEMUDA HARUS BERSUARA.!


Berikut lampiran rincian APBDes T.A. 2022
Sepuluh Desa di Kecamatan Kadatua:

(APBDes Kapoa Barat)

(APBDes Mawambunga)

(APBdes Waonu)

(APBDes Kapoa)

(APBDes Lipu)

(APBDes Banabungi)

(APBDes Banabungi Selatan)

(APBDes Kaofe)

(APBDes Marawali)

(APBDes Uwemaasi)




 



Sebagai wilayah yang geografisnya dikelilingi lautan, Pulau Kadatua harusnya menjadikan kelautan sebagai leading sector untuk memajukan ekonomi warganya, potensi lautnya khususnya perikanan tangkap cukup tinggi, menurut data BPS Tahun 2021 mencapai 6068 ton dengan total rumah tangga nelayan sebanyak 812, namun geliat ekonomi belum terlihat. Penyaluran bantuan bagi nelayan entah melalui Dana Desa ataupun bantuan DKP Buton Selatan (Busel) masih berkutat pada alat tangkap dan perahu/Kapal, padahal masalah utama nelayan adalah keterbatasan akses pasar, hasil tangkapan nelayan tidak tersentuh dan masih menjadi bancakan para tengkulak.


Revitalisasi Pasar rakyat di Desa Kaofe dan Mawambunga yang puluhan tahun mangkrak oleh Pemerintah Kabupaten Busel belum menjawab persoalan yang dihadapi nelayan, pasar hanya direhabitilasi tetapi tidak ada stimulant dan evaluasi yang dilakukan oleh dinas terkait, setelah dibangun kemudian ditinggal, hanya bertahan beberapa bulan saja setelah itu kembali mangkak tidak ada aktvitas jual beli, pada akhirnya nelayan di Pulau ini menjual hasil tangkapannya kembali kepada para tengkulak (papalele) dengan harga yang relatif rendah atau menjualnya langsung ke Kota Baubau atau ke Pasar Lapara Siompu dengan jarak yang cukup jauh, dan tentu ongkos bahan bakar yang dikeluarkan pun tidak sedikit.


Belum selesai persoalan pasar rakyat, tahun 2022 ini Pemkab Busel kembali melakukan pengembangan Dermaga Desa Kapoa sebagai fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dengan total anggaran yang digelontorkan 1,2 milyar, tentu ini menjadi angin segar bagi masyarakat nelayan di Pulau Kadatua, mengingat TPI mempunyai peranan sangat penting dalam kegiatan perikanan dan juga merupakan salah satu faktor yang menggerakan dan meningkatan kesejahteraan nelayan, keberadaannya bisa membuka akses pasar membantu aktivitas nelayan yang ingin menjual hasil tangkapannya dengan cepat serta harga yang memadai.


Namun agar fasilitas TPI yang dibangun nantinya tidak sia-sia, maka perlu regulasi yang mengatur sebagai pedoman pelaksanaan agar pengelolaannya terarah, dan bisa terus dievaluasi manakala ada kendala. Agar kejadian pasar rakyat yang mangkrak tidak kembali terulang. Dan keberlasungannya terus dinikmati oleh para nelayan.

 


Tahun 2022 ini beberapa tempat di jazirah Buton Selatan akan dibangun beberapa patung. Diantaranya Patung Hatibi Bula dan Lalole di Siompu Barat, Syekh Abdul Wahid di Batu Atas, serta di Pulau Kadatua sendiri yakni; PATUNG WA ODE POGO, yang konon akan menelan anggaran 240 Juta.

Ketika mendengar rencana ini, imajinasi seolah traveling, entah seperti apa visualisasi bentuk dan wajah Wa Ode Pogo itu. Sebab selama ini tidak ada satu pun lukisan maupun cerita mengenai bagaimana ciri dan bentuknya.

Sosoknya dalam memori kolektif orang kadatua, direkam dalam tradisi lisan bahwa ia adalah putri bangsawan kerajaan yang diasingkan lalu kemudian membangun peradaban. Warisannya hingga kini masih bisa dilihat; adat serta peninggalan berupa benteng dan gua bekas hunian.

Kita tahu patung adalah ikon sekaligus sebagai penanda suatu peristiwa maupun tokoh. Agar orang yang melihatnya, mengenang dan mengingatnya. Dan mungkin diejawantah dalam laku kehidupan.

Olehnya itu membangun patung bukan perkara mudah, tidak boleh asal jadi, apalagi sekedar memburu laba proyek. Sebab ia mengandung makna, nilai, falsafah, dan estetika.

Tentu seyogyanya diperlukan kajian secara mendalam terhadap semua aspek yang terlibat dalam pembangunan, apalagi sosok Wa Ode Pogo, sebagaimana saya sampaikan diawal tadi, visualisasinya masih sangat samar.

Maka keterlibatan tokoh adat dan masyarakat sangatlah penting agar patung yang dibangun itu nantinya benar-benar dapat dimaknai secara tepat.





Lama tak bersua sekian dasawarsa hidup di negeri orang, perubahan kian cepat saja. Gedung SMA pertama di Bumi Waode Pogo ini, yang dulu hanya sepanggal ruang guru dan tiga ruang kelas, kini berubah pesat, beberapa RKB sudah terbangun.

Pun jumlah guru yang sebelumnya tidak kurang dari jumlah program pokok PKK, kini bertambah banyak seiring dengan tumbuhnya generasi yang melanjutkan studi pendidikan Guru.

*** 

Dalam sebuah wawancara Pimred ButonPos dengan mantan Bupati Buton LM. Sjafei Kahar di channel Youtube "Catatan Irwansyah Amunu", ia menjelaskan kala pertama kali menjabat bupati tahun 2001 tak satupun SMA di Selatan Buton. Tak terkecuali di Pulau Kadatua.

Pilihan para generasi pasca SMP saat itu, putus atau hijrah ke Kota Baubau untuk melanjutkan studi.

Tak mengerankan, sumber daya manusia di Pulau Kadatua saat itu sangat minim. Sulit menemukan warga yang mengenyam pendidikan tinggi.

Hingga era 2003 keatas, gencar dilakukan pemekaran kecamatan, kemudian disertai dengan kebijakan satu kecamatan satu SMA. Kebijakan ini alhasil berdampak signifikan terhadap berkurangnya angka putus sekolah.

Sekian tahuh semenjak pasca pendirian SMA, bak jamur dimusim penghujan, manusia kadatua yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi juga tumbuh pesat. Tak lagi sulit menemukan, guru, bidan, suster, mantri, dlsb.

Namun bertambahnya manusia baru Kadatua itu, tidak berbanding lurus dengan kondisi kadatua. Yang hari ini sepi, minim aktivitas, pembangunan yang asal tanpa partipasi, sumberdaya alam yang rusak, serta budaya yang terus tergerus. 

Hal diatas harusnya menjadi refleksi bersama dan menjadi tamparan keras, bagi kita khususnya manusia kadatua yang sudah menikmati pendidikan. 

Bahwa nampaknya ada yang keliru dalam proses kita geluti selama ini. Kita hanya fokus memikirkan diri sendiri. Tujuan pendidikan sekedar memburu gelar, kerja hanya untuk transit menanti jodoh, atau sekadar mengumpulkan pundi-pundi. Sementara generasi dibawa membutuhkan teladan, dan Kadatua juga ingin dibenah oleh kehadiran kita ditengah-tengah mereka, melalui partisipasi, kritik, dan inovasi.

Padahal pendirian SMA ini tujuannya tak sekadar hanya memangkas angka putus sekolah saja, tapi lebih dari itu adalah melahirkan manusia Kadatua yang memiliki visi, potensi, bernalar kritis serta berjiwa pembangunan.

 


Beberapa hari lalu mediasultra.co.id secara berurutan menurunkan berita 4 desa di Kadatua tentang wacana pengembangan Desa Wisata. Dua diantaranya Kapoa dan Kapoa Barat lengkap dengan lampiran foto serta desain master plannya.


Membayangkannya saja kita seolah turut senang, sebentar lagi kampung kita akan ada bangunan keren untuk jadi spot selfie dan swafoto, namun disisi yang lain mungkin juga kita bergumam dalam hati sambil mengernyitkan dahi, sudah tepatkah, atau hanya mengejar laba proyek? Mengingat bangunan fisik di Kadatua umumnya mangkrak terlunta-lunta dan tidak terurus, dan sudah menjadi rahasia umum, proyek fisik selalu menjadi ladang empuk oleh para pemburu laba.


Sebut saja lapangan futsal di hampir semua desa hanya dimanfaatkan ketika baru selesai dibangun, setelah itu ditinggal. Tidak ada kegiatan yang menghidupkan aktivitas anak muda, untuk mengembangkan minat bakat. Asas manfaat diabaikan, tidak ada kepekaan para pemangku kebijakan di desa untuk menstimulan.


Melihat fenomena dari pengalaman diatas mungkin kita geram, namun kita tidak boleh alergi pada pembangunan. Pembangunan tidak selalu bermuara ke hal negatif, tetapi ada banyak sisi positif serta manfaatnya manakala kajiannya utuh dan komperesif.


Mengutip dari artikel Hannif Andy disitus eticon.co.id ia menyebut 10 tahapan dalam merintis desa wisata, 3 diantaranya adalah: (1) Komitmen bersama; (2) Pemetaan potensi & permasalahan wilayah melalui proses partisipasi; (3) Kelembagaan POKDARWIS.


Pertanyaan kemudian adalah apakah rencana mega proyek pengembanganan destinasi wisata di Kadatua itu sudah memenuhi 3 tahapan diatas?


Sebut saja satu 1 yakni lembaga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dibeberapa desa yang beberapa bulan lalu dikukuhkan oleh Bupati Busel itu, yang kondisinya sekarang vakum tanpa aktivitas, seolah memunculkan perasaan pesimistis. Muaranya bakal mangkak lagi.


Olehnya itu mumpung ini masih tahapan wacana, segera lakukan langkah-langkah jitu, misal konsultasi dengan dinas terkait, serap aspirasi warga, serta kuatkan peran dan kapasitas kelembagaan di desa, agar pembangunan tepat sasaran dan tepat manfaat.

 



Jelang kepergian Ramadhan, hangat perbincangan ajang tahunan kompetisi futsal Merantau Cup, mulai dari jersey merk apa yang akan digunakan, sampai kocok ulang pemain mana yang pas untuk diturunkan. Sungguh, betapa rindunya warga dan hausnya para pecinta bola di Pulau ini.

Memang sejak vakumnya perlombaan agustusan, Pulau Kadatua seolah lumpuh, ruang-ruang anak muda untuk menyalurkan libido olahraga juga mati, setahun penuh tanpa hiruk-pikuk.

Untungnya keberadaan ajang turnamen tahunan ini sedikit menjadi obat penawar. Warga terhiburkan & hasrat anak muda tersalurkan.

Tak hanya warga dan pecinta bola, beberapa tahun belakangan pemerintah dihampir semua desa di Pulau ini pun juga ikut dalam eforia itu. Ramai-ramai membangun fasilitas penunjang yakni lapangan yang tak sedikit anggarannya hingga mendekati angka milyaran rupiah.

Melihat fenomena ini seolah ada optimisme, bahwa sebentar lagi akan lahir bibit-bibit unggul.

Namun ternyata ajang turnamen dan fasilitas itu tidak berbanding lurus dengan prestasi yang dicapai, nyaris sewindu berjalan, belum ada talenta yang bermunculan. Sebut saja kompetesi yang diadakan di Kota Baubau baru-baru ini, club-club yang berasal dari Kadatua tandas dan tumbang dibabak penyisian.

Olehnya itu hendaknya ada evaluasi, utamanya perubahan mindset bahwa  turnamen dan keberadaan lapangan futsal di desa tak sekadar menjadi pajangan atau hiburan biasa, tetapi dinaikan levelnya sebagai pabrik talenta.

Anak-anak muda di desa diberikan tanggung jawab untuk menghidupkan lapangan, kemudian pemerintah desa memfasilitasi kebutuhan mereka, semisal bola, alat latihan dan bila perlu pelatih.

Dan juga turnamen-turnamen bila memungkinkan menggunakan standar nasional, kemudian dibuka seluas-luasnya tanpa batasan leluhurnya dari mana, darah apa dan ras apa.

Olahraga tidak boleh dikungkung, karena ia sejatinya bebas, asal ia minat dan raganya sehat, silahkan diolah. Supaya kita bisa belajar. Agar ada kesinambungan tidak putus begitu saja, habis turnamen surut juga semangatnya.

Jika hal itu dilakukan, tak menutup kemungkinan akan lahir talenta muda Kadatua yang berprestasi.




Ketika deposito sumberdaya laut Kadatua ludes karena eksplotitasi yang tidak ramah lingkungan dimasa lalu.

Sebagian besar orang-orang dipulau ini lalu merantau bermigrasi ketempat-tempat yang alamnya masih natural. Mencoba peruntungan disana, umumnya dikawasan timur indonesia (Maluku & Papua).

Menjadi nelayan lalu kemudian beralih berwirausaha. Perlahan ekonominya meningkat, dan menjadikan mereka naik tingkat menjadi masyarakat kelas menengah.

Saya teringat ketika masih duduk dibangku SMA, guru saya yang bukan asli kadatua saat itu pernah menyampaikan anekdot, katanya, meskipun pulau kadatua gersang dan alamnya hancur tapi kalau mau cari baret putih disinilah tempatnya.

Baret putih yang dimaksud adalah orang-orang yang sudah menunaikan rukun islam ke lima yang identik dengan kopiah putih.

Tak mengherankan memang, semenjak gelombang migrasi besar-besaran orang kadatua diwilayah timur, kelas ekonomi menengah baru juga ikut bermunculan. 

Berbeda dengan orang-orang yang memilih bertahan dikampung. Kehidupannya cenderung biasa-biasa saja, namun merekalah penjaga kadatua agar tidak mati dan terus hidup.

Sedang perantau itu muncul ketika dimomen-momen tertentu, semisal lebaran saja, setelahnya kembali ke daerah rantauan. Atau menetap kembali ke kampung ketika renta, sakit dan tidak berdaya.

Sungguh pun kampung kadatua yang dalam penggalan puisi aan mansyur adalah pulau yang hanya memiliki batu yang pepohonnya susah payah menghidupi nelayan. Tetapi ia selalu menanti pulang, menampung semua warganya dengan tangan terbuka tanpa terkecuali.

Maka hal itu seharusnya menjadi refleksi bersama, bahwa Kadatua bukan hanya identitas yang melekat dalam diri orang kadatua tanpa makna, tapi Kadatua adalah kata sifat dan kata kerja. Kata sifat dicerminkan dalam laku kehidupan dimanapun berada untuk toleran dan menghargai sesama sebagaimana diwariskan oleh leluhur, serta kata kerja adalah tindakan nyata untuk berkontrbusi.

Kita tahu momentum mudik lebaran adalah siklus peredaran uang yang masif yang digerakan umumnya oleh para perantau ketika pulang kampung, semua pelaku usaha mulai jasa transportasi serta sembako ikut masuk dalam pusaran itu. 

Harapannya siklus ini tidak hanya berkutat diperkotaan, tetapi dikampung halaman juga demikian. Jika perantau ingin belanja keperluan lebaran utamakan dulu barang yang dijual dikampung, ketika tidak ada baru belanja dikota, jangan pernah ngeluh belanja dikampung mahal atau apa, tetapi semata-mata untuk menghidupkan sementara aktivitas ekonomi dikampung, meskipun mungkin kecil namun itu bagian dari upaya untuk berkontribusi. (*)