Merantau Cup dan Harapan Bersama



Kurang lebih 27 hari lagi ramadhan akan menyapa. Perbincangan PULANG KAMPUNG pun mulai hangat. Diberanda medsos pamflet digital Turnamen Futsal mulai ditebar, walaupun desain pamfletnya terkesan lawas dan agak kaku, tapi sudahlah, intinya turnamen itu ada.


Mereka yang dirantau, pecinta, manager maupun pemain entah yang bekerja sebagai pedagang atau pun nelayan, disela-sela menunggu pembeli atau ketika baru pulang melaut, topik ini tak luput dibicarakan. Maklum, satu-satunya hiburan ketika pulang kampung lebaran hanyalah turnamen ini.


Selain itu juga, tentu sebagai wadah ekspresi para perantau. Hobi yang terpendam serta pundi-pundi yang dikumpulkan selama dirantau disinilah ditunjukkan. Maka tak heran perbincangan seputar pemain mana yang akan diturunkan serta model jersey yang akan dipakai menjadi perhatian lebih mereka. Seolah Pulang Kampung dan turnamen Futsal adalah pasangan kekasih yang terpisahkan.


Dan yang tak kalah menarik konon turnamen yang diselenggarakan tahun ini berbeda dari biasanya, skopnya lebih luas--- se Kabupaten Busel. Ternyata animo besar tidak hanya datang dari para perantau tapi panitia di Kampung juga demikian, berani keluar zona nyaman serta pakem yang selama ini hanya mampu membuat event tarkam skop kecil lingkup kadatua. 


Pertanyaan kemudian adalah apakah mampu? Mengingat banyak catatan buruk disetiap turnamen yang dilaksanakan dan selalunya berulang, mulai dari soal transparansi hadiah, wasit yang merangkap pemain, dlsb. Mengundang tamu luar tentu tidak main-main, butuh effort yang lebih, kesalahan kecil saja bisa berdampak buruk bukan hanya pada panitia tetapi se pulau kadatua kena imbasnya.


Namun kita tidak boleh pesimis. Inilah tantangan yang mesti dijawab bersama bukan hanya panitia sebagai penyelenggara, tetapi semua yang terkait, baik itu pecinta, manager maupun pemain.


Mumpung masih ada tenggat waktu kurang lebih 60 hari lagi. Diskursus soal ini musti dilakukan, masukan dan catatan dari berbagai pihak mesti didengar. Tidak boleh lagi ada potalo-talo. Tidak boleh lagi ada istilah "mieku" dan "miendo". Sebab sejatinya Turnamen Merantau Cup bukan hanya milik panitia semata, tetapi sudah menjadi milik kita orang Busel dan Kadatua khususnya secara keseluruhan. Maka Suksesnya turnamen adalah sukses kita semua. (*)


BRAVO MERANTAU CUP!!! 🫰

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.