SMA Kadatua dan Elegi yang Terlupakan





Lama tak bersua sekian dasawarsa hidup di negeri orang, perubahan kian cepat saja. Gedung SMA pertama di Bumi Waode Pogo ini, yang dulu hanya sepanggal ruang guru dan tiga ruang kelas, kini berubah pesat, beberapa RKB sudah terbangun.

Pun jumlah guru yang sebelumnya tidak kurang dari jumlah program pokok PKK, kini bertambah banyak seiring dengan tumbuhnya generasi yang melanjutkan studi pendidikan Guru.

*** 

Dalam sebuah wawancara Pimred ButonPos dengan mantan Bupati Buton LM. Sjafei Kahar di channel Youtube "Catatan Irwansyah Amunu", ia menjelaskan kala pertama kali menjabat bupati tahun 2001 tak satupun SMA di Selatan Buton. Tak terkecuali di Pulau Kadatua.

Pilihan para generasi pasca SMP saat itu, putus atau hijrah ke Kota Baubau untuk melanjutkan studi.

Tak mengerankan, sumber daya manusia di Pulau Kadatua saat itu sangat minim. Sulit menemukan warga yang mengenyam pendidikan tinggi.

Hingga era 2003 keatas, gencar dilakukan pemekaran kecamatan, kemudian disertai dengan kebijakan satu kecamatan satu SMA. Kebijakan ini alhasil berdampak signifikan terhadap berkurangnya angka putus sekolah.

Sekian tahuh semenjak pasca pendirian SMA, bak jamur dimusim penghujan, manusia kadatua yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi juga tumbuh pesat. Tak lagi sulit menemukan, guru, bidan, suster, mantri, dlsb.

Namun bertambahnya manusia baru Kadatua itu, tidak berbanding lurus dengan kondisi kadatua. Yang hari ini sepi, minim aktivitas, pembangunan yang asal tanpa partipasi, sumberdaya alam yang rusak, serta budaya yang terus tergerus. 

Hal diatas harusnya menjadi refleksi bersama dan menjadi tamparan keras, bagi kita khususnya manusia kadatua yang sudah menikmati pendidikan. 

Bahwa nampaknya ada yang keliru dalam proses kita geluti selama ini. Kita hanya fokus memikirkan diri sendiri. Tujuan pendidikan sekedar memburu gelar, kerja hanya untuk transit menanti jodoh, atau sekadar mengumpulkan pundi-pundi. Sementara generasi dibawa membutuhkan teladan, dan Kadatua juga ingin dibenah oleh kehadiran kita ditengah-tengah mereka, melalui partisipasi, kritik, dan inovasi.

Padahal pendirian SMA ini tujuannya tak sekadar hanya memangkas angka putus sekolah saja, tapi lebih dari itu adalah melahirkan manusia Kadatua yang memiliki visi, potensi, bernalar kritis serta berjiwa pembangunan.

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.