Sebelumnya saya belum pernah mengenal, mendengar atau membaca tentang kapal legendaris ini, entah karena buku sejarah saat masih duduk dibangku sekolah dulu tidak mencantumkannya atau karena saya sendiri yang malas baca.
Kemungkinan paling sahih yang kedua: MALAS BACA!!. Hehehe...
Nanti ketika lanjut kuliah di sebuah kota dingin di jawa timur, kota yang tidak habis-habisnya memanjakan manusianya dengan banyaknya buku murah. Disinilah awal perkenalan saya dengan kapal tersebut.
Tak ada rencana saat itu, disuatu siang ketika pulang dari kampus, kebetulan lewat di Pasar Buku Wilis, saya pun singgah untuk sekedar lihat-lihat, sembari menanti waktu sore untuk balik ke kost.
Beberapa jam keliling dari lapak ke lapak, secara kebetulan, mata saya tertuju pada sebuah buku yang sampulnya berwarna biru muda bergambar kapal layar di kios paling pojok.
Karena saya asalnya dari Pulau, yang notabene laut dan kapal adalah kehidupan kami sehari-hari, kaki saya pun tergerak untuk melihatnya buku itu lebih dekat.
Ternyata betul, buku itu sesusai yang tertera disampulnya adalah tentang kapal. Lebih jelasnya berjudul SEBUAH KISAH NYATA DEWA RUCI, PELAYARANAN PERTAMA MENAKLUKAN 7 SAMUDRA. Terbitas Kompas, yang ditulis seorang kadet asal Sulawesi Utara.
Ketika melihat nama penulisnya berasal dari sulawesi dan ceritanya tentang pelayaran. Meski tersegel, tanpa mengetahui isinya, buku itu kuangkut dan langsung pulang ke kostan. Kurang lebih dua hari buku sudah ku lahap habis.
Jarang saya keranjingan membaca buku dalam hitungan hari, biasanya minggu atau bahkan tidak tamat. Saya tipikal orang yang cepat jenuh, apalagi bahasanya berat dan membingungkan. Tapi ketika membacanya buku itu seolah berada dalam cerita.
***
Akhir bulan desember tepatnya tanggal 28 dan 29, tahun 2020, sebuah link webinar zoom bertemakan Jalur Rempah dibagikan di grup WhatsApp.
Jalur rempah? Apalagi nih... (pikirku saat itu). Rempah yang hanya dalam benakku, yang ku ketahui saat masih duduk dibangku SD, bahwa Belanda datang ke Indonesia karena rempah-rempah, itu saja, tidak lebih. Tidak ada kisah lain dibaliknya.
Maka untuk mengobati rasa penasaaranku mengenai tema webinar itu, ku searcing di Google, rupanya tentang alur perdagangan rempah masa lalu yang coba dihidupkan kembali.
Webinar itu seolah membuka tabir yang selama ini ternyata banyak tidak kuketahui, apalagi mengenai sejarah rempah nusantara.
Semenjak itu, saya tak melewatkan manakalah ada link atau artikel tentang rempah, tahun 2021 saya membeli Majalah Natgo edisi khusus rempah, dan juga menonton film dokumenter berjudul Banda: The Dark Forgotten Trail di Netflix.
Ternyata rempah-rempah memuat banyak kisah, bukan hanya tragedi (penjajahan) yang familiar kita dengar dalam buku-buku sejarah disekolah, tetapi disana juga ada akulturasi budaya, agama, dan persahabatan antar nenek moyang kita dari ujung selat malaka hingga banda naira. Dan bahkan bangsa-bangsa dibelahan dunia lain.
***
Saat mendengar akan di adakan ekspedisi muhibah budaya jalur rempah awal bulan juni tahun 2022 menggunakan KRI Dewa Ruci, dan salah satu titik lokasi singgah yang akan dilalui ditahap pertama adalah Pulau Buton. Tak sabar saya menanti.
Hingga akhirnya 8 juni lalu tepatnya, Kapal layar yang memuat para laskar rempah itu pun tiba dipelabuhan Murhum Baubau, salah satu pelabuhan tua yang berabad-abad lalu juga pernah menjadi bagian dalam alur perdangan rempah. Ragam sambutan hangat masyarakat Buton, hingga tarian-tarian penyambutan.
Selama persinggahannya di Baubau selama dua hari, KRI Dewa ruci mengadakan open ship bagi siswa dan masyarakat umum untuk bisa melihat langsung kapal legendaris milik TNI AL itu. Tak mau ketinggalan, saya juga turut serta melihat langsung dan mengabadikannya.





0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.