Semenjak gencar pembangunan perumahan di kompleks Sulaa bagian atas beberapa tahun belakangan ini, kawasan yang dulunya sepi hanya dilalui beberapa kendaraan. Jika malam hanya terdengar bunyi jangkrik dan suara sumbang musik dari rumah-rumah karaoke dekat hutan. Kini lumayan ramai, kendaraan roda dua dan empat lancar berhilir mudik.
Geliat ekonomi pun tumbuh, jika lapar tengah malam karena kehabisan stok indomie di rumah atau mau mencari snack buat ngemil, serta rokok untuk pencuci mulut. Tak sulit lagi, warung-warung kelontong berjejer disepanjang jalan dan dibuka 24 jam. ATM, Pon Besin (Pertamina), bahkan apotik hingga sayuran dan ikan pun tersedia.
Bagi saya dan mungkin kamu, iya kamu, para penikmat jam kecil, yang tinggal di areal ini. Kondisi tersebut adalah surga. Asal ada duit di dompet/ATM dan kendaraan, tinggal cus. Kebutuhan kontemplasi tengah malam terpenuhi dengan sempurna. Ide-ide yang sebelumnya beku muncul kembali mengalir deras laksana air bah. Bebas hambatan.
Namun beberapa hari terakhir ini, suasana agak berubah tak seperti biasanya. Sebuah plank berwarna merah biru kuning terpasang di depan ruko yang tak jauh dari jejeran kelontong itu, tanda bahwa tak lama lagi akan dibuka gerai mini market Indomaret.
Lalu terbesit di kepala saya jika gerai itu dibuka bagaimana nasib kelontong itu? Mengingat gerai indomaret sebuah retail besar yang memiliki jaringan raksasa di hampir semua kota, produk yang jual juga boleh dibilang lengkap, dari sabun, beras, kondom, kinder joy, hingga buah tersedia. Harganya pun relatif sama.
Suasana didalamnya pun nyaman, ber AC. Apalagi ditambah dengan mbak-mbak kasirnya yang lembut dan ramah yang selalu menyambut pengujungnya dengan sambutan khas "Selamat datang, Selamat berbelanja," kemudian disertai senyumnya yang pura-pura manis itu.
Pembeli seolah dibuat tersihir. Ale waopue... Nikmat mana lagi kau dustakan. Jangankan odol, mbaknya pun saya angkut sekalian. Hehehe
Memang gerai yang akan dibuka ini, bukan hal baru di kota ini, sebelumnya sudah ada gerai serupa, semisal, MGM, Liwanda, Rika Mart, dan terakhir Alfamidi, yang baru dibuka beberapa bulan lalu. Namun itu adanya di pusat kota yang dekat dengan keramaian.
Sementara di Kawasan Sulaa Atas, dan sekitarnya ini, kali pertama. Kemudian warung-warung kelontong yang berjejeran itu juga masih tergolong baru mungkin satu tahun terakhir seramai ini.
Tentu kehadiran gerai tersebut bakal menjadi pesaing keras dan alarm peringatan bagi pedagang kelontong. Kenyamanan dan produk lengkap yang ditawarkan oleh gerai jelas akan berdampak pada usaha kelontong, entah beralihnya konsumen, penurunan omset atau bahkan gulung tikar. Keluar arena.
Saya berharap para pembeli cukup jeli melihat ini, belanja nantinya bisa proporsional. Tidak selalu berbelanja digerai tapi di warung kelontong juga, agar ia terus hidup.




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.