Cuaca Kadatua akhir-akhir ini kurang bersahabat, mendung panas, mendung panas. Meskipun seperti itu tapi tidak menyururutkan semangat kami untuk melalui hari-hari.
Disudut-sudut kampung, digode-gode dibawah kolong rumah, seperti biasa kami masih bisa minum kopi sembari melepas tawa. Meski pun dengan suasana hati yang getir dan risih melihat tingkah laku kalian.
Pertama-tama izinkan kami untuk menyampaikan hal risau ini yang selama ini mengganjal dibenak kami, tentunya ini sebagai tanda sayang kami kepada kalian para pemimpin kami. Pemangku kebijakan di desa di Pulau Kadatua.
Sebenarnya surat ini harusnya disampaikan di forum atau di rumah sambil berbisik. Tapi tidak apa-apa, lagian tidak ada juga hal intim yang perlu dirahasiakan. Bukankah urusan publik harus disampaikan kemuka publik?
Baik langsung saja,
Sejak UU Desa disahkan tahun 2014, dan dieksekusi tahun 2015, Dana Desa kemudian digelontorkan, tak terkecuali desa-desa di Kadatua pun turut kecipratan. Betapa bahagianya kami warga desa kala itu, karena konon dana itu dikucurkan untuk menstimulan dan memberi dampak ekonomi bagi kami.
Namun, seiring berjalan, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, pengelolaan kian amburadul dan buruk saja. Banyak program yang tidak tepat guna dan tepat sasaran terkesan boros, transparansi kalian abaikan, kami tidak dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan dan monitoring kegiatan.
Riset yang dilakukan oleh Pendais Haq (2019) lokus studi di Kabupaten Buton Selatan pun mengamini itu, bahwa transparansi belum berjalan dan program tidak mengedepankan skala prioritas. Secara tidak langsung amanat UU Desa telah kalian khianati dan cederai.
Maka sulit bagi kami untuk tidak menaruh curiga kepada kalian. Visi yang kalian sampaikan dimimbar saat Pilkades ternyata cuma kalimat ilusi dan utopis.
Wahai para pemimpin kami...
Sudah lupakah kalian dari mana kalian berasal? Bukankah kalian itu sama dengan kami, sama-sama rakyat. Karena atas kecerdasan para pemimpin bangsa lebih setengah abad silam, yang telah memilih sistem demokrasi dalam bernegara, semua manusia yang berada dibawah kolong langit nusantara ini pun memiliki hak yang setara untuk dipilih dan memilih. Tak terkecuali kalian.
Sudah lupakah kalian kalimat sakral yang kalian ucapkan di bawah Kitab Suci saat pelantikan tempo hari? Lapangan Lakarada menjadi saksi bisu. Saat itu kalian rapalkan janji suci setia pada konstitusi untuk memajukan rakyat.
Memang kami mafhum bahwa kekuasaan itu sarat dengan jeratan, dimana-mana ada kubangan. Tetapi kami juga tahu, manakala di dalam diri masih ada keteguhan, dan hati yang bersih. Justru itu akan menjadi penerang, penunjuk jalan, agar menjalankan fungsi pemerintahan tetap berada dijalur yang benar.
Kami tidak mau suuzon, kami masih percaya. Dilubuk hati kalian yang paling dalam masih ada secercah sinar itu. Ikuti pentunjuk itu, abaikan segala macam godaan. Rakyat yang kalian pimpin ini juga saudara kalian yang berasal dari akar yang sama dengan kalian. Mengkhianati rakyat sama halnya menempeleng diri sendiri.
Sekian surat singkat ini, mudah-mudahan bisa memacu semangat. Dan memberikan yang terbaik.
Wassalam.
Peluk cium dan sayang dari kami ❤️
RAKYAT KADATUA




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.