Perantau Mudik Harus Menghidupkan Kampung




Ketika deposito sumberdaya laut Kadatua ludes karena eksplotitasi yang tidak ramah lingkungan dimasa lalu.

Sebagian besar orang-orang dipulau ini lalu merantau bermigrasi ketempat-tempat yang alamnya masih natural. Mencoba peruntungan disana, umumnya dikawasan timur indonesia (Maluku & Papua).

Menjadi nelayan lalu kemudian beralih berwirausaha. Perlahan ekonominya meningkat, dan menjadikan mereka naik tingkat menjadi masyarakat kelas menengah.

Saya teringat ketika masih duduk dibangku SMA, guru saya yang bukan asli kadatua saat itu pernah menyampaikan anekdot, katanya, meskipun pulau kadatua gersang dan alamnya hancur tapi kalau mau cari baret putih disinilah tempatnya.

Baret putih yang dimaksud adalah orang-orang yang sudah menunaikan rukun islam ke lima yang identik dengan kopiah putih.

Tak mengherankan memang, semenjak gelombang migrasi besar-besaran orang kadatua diwilayah timur, kelas ekonomi menengah baru juga ikut bermunculan. 

Berbeda dengan orang-orang yang memilih bertahan dikampung. Kehidupannya cenderung biasa-biasa saja, namun merekalah penjaga kadatua agar tidak mati dan terus hidup.

Sedang perantau itu muncul ketika dimomen-momen tertentu, semisal lebaran saja, setelahnya kembali ke daerah rantauan. Atau menetap kembali ke kampung ketika renta, sakit dan tidak berdaya.

Sungguh pun kampung kadatua yang dalam penggalan puisi aan mansyur adalah pulau yang hanya memiliki batu yang pepohonnya susah payah menghidupi nelayan. Tetapi ia selalu menanti pulang, menampung semua warganya dengan tangan terbuka tanpa terkecuali.

Maka hal itu seharusnya menjadi refleksi bersama, bahwa Kadatua bukan hanya identitas yang melekat dalam diri orang kadatua tanpa makna, tapi Kadatua adalah kata sifat dan kata kerja. Kata sifat dicerminkan dalam laku kehidupan dimanapun berada untuk toleran dan menghargai sesama sebagaimana diwariskan oleh leluhur, serta kata kerja adalah tindakan nyata untuk berkontrbusi.

Kita tahu momentum mudik lebaran adalah siklus peredaran uang yang masif yang digerakan umumnya oleh para perantau ketika pulang kampung, semua pelaku usaha mulai jasa transportasi serta sembako ikut masuk dalam pusaran itu. 

Harapannya siklus ini tidak hanya berkutat diperkotaan, tetapi dikampung halaman juga demikian. Jika perantau ingin belanja keperluan lebaran utamakan dulu barang yang dijual dikampung, ketika tidak ada baru belanja dikota, jangan pernah ngeluh belanja dikampung mahal atau apa, tetapi semata-mata untuk menghidupkan sementara aktivitas ekonomi dikampung, meskipun mungkin kecil namun itu bagian dari upaya untuk berkontribusi. (*)

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.