Ke Weda Menggantungkan Asa

 


Sebuah kapal besar milik pemerintah dari arah Barat transit di kota kami, petang itu. Memuat dan menurunkan penumpang, lalu akan melanjutkan perjalanan ke Timur. Di negeri rempah sebuah negeri yang berabad-abad silam, bangsa Eropa Spanyol dan Portugis pernah memperebutkannya.


Sekarang negeri itu telah menjelma menjadi ladang Nikel, segala macam manusia dari berbagai penjuru ingin kesana, memupuk pundi.


Disanalah lelaki itu akan menggantungkan asa. Pergi meninggalkan istri dan daerah asal yang pepohonannya pun enggan menghidupi warganya. Tandus dan gersang.


Sembari menunggu bunyi stom ketiga sebuah peringatan untuk lepas tali, ia peluk istrinya kuat-kuat. Suaranya lirih dan isak tangis pun pecah tak terbendung, haru.


Ah, pelabuhan memang sarat akan pemandangan seperti ini, perjumpaan dan perpisahan, bahagia dan sedih.


***


Memasuki bulan kesembilan penanggalan masehi, Pulau kami Kadatua kembali sepi, ditinggal manusianya ke berbagai daerah. Setelah hiruk pikuk lebaran dan bulan kemerdekaan usai. Rumah-rumah kembali dikunci rapat, kosong melompong.


Daerah yang umumnya akan dikunjungi itu adalah daerah yang menjanjikan, yang bisa menghasilkan dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga.


Kawasan Timur adalah tumpuan. Konon, disanalah peluang ekonomi terbentang luas. Weda, di Pulau Halmahera (Malut) adalah salah satunya.


Memang beberapa tahun belakangan semenjak perusahan tambang memporoleh kontrak pengelolaan nikel di daerah Halteng, kemudian disertai dengan dibukanya lapangan pekerjaan. Warga di Pulau Kadatua, tak mau ketinggalan, setiap kapal yang akan mengarah ke Timur, selalu diisi oleh mereka.


Bahkan remaja yang masih mengeyam bangku SMA pun, kalau ditanya mau kemana pasca lulus, beberapa dari mereka akan menjawab; WEDA!


Weda seolah menjadi kata seksi disetiap perbincangan, tak heran memang kisah-kisah keberhasilan sering dijumpai pada postingan diberanda medsos mereka ataupun informasi dari keluarga di kampung. 


Selain kabar yang menggembirakan disisi lain juga kita kerap mendengar kabar yang tentu menyesakkan dada; kecelakaan kerja sering terjadi, karyawan ditindis loder, tabrakan, bahkan perkelahian antar mereka.


Namun begitulah suka duka dalam setiap perjalanan, baik dalam mencari ilmu dan pengalaman, atau mengais rejeki sekali pun, apalagi nun jauh dinegeri orang tentu tidak terlepas dari itu. Intinya kita selalu waspada, tabah dan sabar. (*)

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.