Tiga hari, senin hingga Rabu kemarin, ribuan massa di Kota-Kota Besar khussunya dipulau Jawa tumbah ruah dijalanan, dialun-alun dan pusat kota hingga ke halaman DPR masing-masing utnuk menyuarakan berbagai macam tuntuntan perihal kebijakan yang dinilai tidak memihak diantaranya adalah tentang RUU KUHP , UU KPK, dll, untuk dibatalkan.
Meskipun sebagian tuntutan itu direspon oleh Presiden dengan menunda, tapi dibeberapa tuntuntan lainnya misal dikeluarkan Perpu untuk menganulir UU KPK, disini presiden masih bersikeras untuk tidak mau mengeluarkan kebijakannya.
Hingga kamis kemarin gelombang terus membesar, ini bukan lagi di Kota-Kota Besar, tapi dibeberapa daerah lainnya, salah satunya di Kota Kendari Provonsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Mahasiswa dari berbagai kampus disultra ini melalukan aksi longmarch menuju Kantor DPRD Sultra, untuk menyuraikan aspirasi mereka, sesampainya di kantor Dewan ternyata Zonk, tidak ada pihak legislatif yang mau menemui mereka, massa memaksa masuk, bentrokan pun tak terhirdarkan antara pihak keamanan dan mahasiswa, saling lempar, hingga terjadi pembakaran kantor dewan dan pos polisi ditaman Kota yang tidak jauh dari kantor DPRD.
Beberapa jam kemudian berita duka datang di Grup-grup WA saya, muncul chat dari beberapa teman meninformasikan bahwa salah satu diantara massa bernama Randi mahasiswa FPIK Universitas Halu Oleo (UHO) terkena tembakan pas didada kananya dan dinyatakan meninggal, tak hanya itu esok harinya jumat pagi tadi muncul lagi berita bahwa salah satu mahasiswa yang mengikuti aksi kamis kemarin, Yusuf Kardawi juga dinyatakan meninggal yang sebelumnya sempat dilarikan kerumah sakit.
Hingga kini memang belum terungkap siapa pelakuknya, tapi berdasar pada pengakukan dokter yang mengatopsi bahwa randi terkena peluruh tajam, kemudian yusuf kepalanya retak diduga dipukul oleh aparat. Sungguh kejadian yang begitu memilukkan, ditengah udara reformasi yang bebas untuk menyampaikan pendapat dan eskpresi serta menjujung tinggi HAM, tapi tindakan repsetif masih terjadi.
Presidel Jokowi yang saya banggakan yang berasal dari rahim yang sama dengan saya yakni warga sipil, dalam artian ia bukan dari pensiunan militer seharusnya bisa berpihak, mencegah konflik, mengedapankan dialog. Saya yakin jika itu dilakukan tentu konflik bisa diminimalisir.
Tapi sudahlah itu terjadi, nasi menjadi bubur, tanpa mengurangi rasa kepercayaan padamu wahai pemerintah dan pihak wakilku diparlemen, saya harap tuntutan mereka segera dipenuhi. dan usut tuntas tindakan represif aparat.
Cukup sudah Randi dan Yusuf yang menjadi korban. Kita haturkan Doa pada Tuhan YME, sebagai wujud pengormatan bahwa mereka adalah PAHLAWAN DEMOKRASI. Semoga keduanya ditempatkan ditempat yang istimewah disisiNYA, Amin......




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.