Baru saja saya membaca bagian pertama Buku yang ditulis Burhanuddin Muhtadi yang berjudul "Populisme Politik Identintas & Dinamika Elektoral" yang sedikit membuat saya bingung, tidak menemui titik pemahaman atas apa yang saya baca tadi.
Entah mungkin karena tidak fokus (banyak memikirkan hal diluar) atau karena inti dari judul besar "Populisme" yang masih bias atau tidak terdefinisikan dengan baik, saya coba merenung kira-kira apa ya,,, hingga sampai pada kesimpulan sepertinya kedua2nya: saya TIDAK FOKUS dan KETIDAKJELASAN DEFINISI POPULISME ITU SENDIRI.
Dalam sub Bab pertama buku tersebut, banyak sekali yang ia kutip dari para sarjana imu politik tentang definisi populisme mulai dari analogi bahwa populime itu seperti bunglon yang bisa berubah-ubah tergantung pada kondisi geografis dan periode waktunya.
Kemudian disebutkan lagi bahwa populisme itu sebuah retorita politik yang mengaggap keutamaan dan keabsahan politik terletak pada rakyat dan memandang kelompok elit yang dominan sebagai korup serta sasaran yang ingin dicapai paling baik adalah berhubungan langsung dengan pemerintah tanpa perantara lembaga negara. dan masih banyak lagi dan inilah yang membuat saya kebingungan.
Tapi diakhir tulisan itu penullisnya memberikan sebuah contoh konfkrit tentang populisme, yang sedikit membantu saya memahami konteks popullsme itu sendiri. contohnya yaitu kebijakan Pengurangan subsidi BBM, di Indonesia perdebatannya seharusnya berdasar pada norma dengan melihat persolan secara utuh, kalau dalam kaca mata intelektual mungkin bisa membedahnya mulai UU serta kajian ekonominya agar perdebatannya lebih rasional, tapi dikalangan kaum popilimse mereka mempelintir itu untuk kepentingan elektoral, tanpa memberikan kajian yang utuh kepada publik sehingga perdebatannya ngalor-ngidul sehingga terjadi pembelahan dimasyarakat dan pemerintah. tak heran ada narasi Pro aseng,asing, anti agama, dan lain-lain.




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.