Fokus ke Sesuatu yang Penting Saja Agar Kau berkualitas dan Peka Pada Ketidakadilan


Manusia diciptakan setara, begitu kira-kira ungkapan banyak orang, punya waktu yang sama 24 jam, tapi kok ada yang lebih unggul dibanding yang lainnya dan itu hanya sedikit?

Itulah pertanyaan yang ada dipikiran saya sekarang, dan saya tuangkan diblog ini dalam bentuk tulisan, ya itung-itung mengisi koleksi tulisan, yang bulan kemarin hanya beberapa *hehehhee,,,,,

Saya langsung teringat dengan kutipan di Buku "Sebuah seni bersikap bodo amat" bahwa kunci kehidupan itu adalah memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli apa yang benar dan penting. 

Mungkin disinilah letak keunggulan dari beberapa orang, dalam waktu 24 jam itu ada waktu yang mereka sisihkan atau gunakan untuk hal-hal penting, dan itu menambah penegtahuan atau membuat mereka ingin terus berbuat sesuatu yang positif.

Beda halnya kebanyakan orang lainnya waktu 24 jam (termasuk saya, hehehe) itu tidak digunakan dengan baik, misal main game, ngobrol, tidur, nongkrong gak jelas, dan polanya terus berulang setiap hari, akhirnya tidak potensi yang ia miliki atau bisa dikembangkan

Khusus bagi pelajar ini yang seharusnya menjadi intropeksi, sudah dberi waktu yluang oleh orang tua untuk belajar dan bahkan tidak ada beban kerja seharusnya bisa digunakan untuk hal yang penting tadi, misal belajar atau berekspremien, mencoba hal-hal baru atau mengunjungi tempat bersejarah atau wisata untuk mengetahui apa yang ada disana dan apa yang bisa dipelajari. Ini sangat penting menambah wawasan dan kepekaan, kalau ini dilakukan tentu daya kita unggul, dan bisa jadi menjadi bekal untuk siap menghadapi dunia nyata (kerja).

Ada banyak orang keluaran bangku kiliah atau sekolahan gagal alias tidak mampu bersaing, mereka hanya mengandalkan kedekatan atau materi (uang) untuk bisa diterima. Tak heran ketika pulang/dan berada dalam masyarakat, mereka fakum, tidak berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat dilingkungannya, hanya menunggu proyek-proyek yang diberi pemerintah dan masuk intansi dengan modus pengabdian padahal mengharap belas-kasih pemerintah untuk diangkat resmi menjadi abdi negara atau mengharap tunjangan lebih. Hal inilah yang menjadikan sebagai generasi "menunduk", siap pada perintah, takut mengkritik dan berkarya.

Pada akhirnya pembangungan kita melambat, hmmmmm...  Ini ironi Bung dan Nona. Sungguh..........!!!!

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.