TPI Desa Solusi Keberdayaan Nelayan

Tinggal didesa bagi warga desa dengan kesederhanaan dan hidup bersama dengan alam adalah hal biasa. Tapi bagi orang kota yang ke desa dan melihat realitas kehidupan warga desa adalah yang unik.

Saya warga desa yang sedari lahir dan besar pun di desa, sebelumnya saya tidak merasa ada yang unik.

Nanti ketika lulus sekolah dan melanjutkan studi ke Kota, baru saya merasa ternyata ada hal-hal unik dan kekurangan yang bisa diangkat menjadi sebuah tulisan entah itu berupa cerita inspiratif ataupun catatan kritis kepada pemerintah yang ada di desa.

Saya teringat dengan sebuah kutipan puisi WS. Rendra:
"Sesekali keluarlah dari rumahmu agar kamu dapat melihat lubang-lubang yang tak nampak dari dalam rumahmu", Saya tafsirkan kata "Lubang-lubang" adalah masalah. Jika kita berada "dirumah" seolah seperti biasa-biasa saja, tapi ketika sudah keluar disitulah kita sadar ternyata begitu banyak sekali lubang-lubang itu.

***

Beberapa bulan lalu saya berbincang dengan salah satu nelayan di Desaku, ada banyak pengalaman yang ia bagi, cerita yang sampai saat ini membekas dibenakku tentang keluhannya pasca ia melaut.

"Kadang-kadang juga kita dapat, tapi sekali dapat banyak sekali, tapi itulagi lantaran banyaknya ikan, harganya jatuh, murah sekali, bahkan tidak laku, kasian daripada dibuang saya keringkan saja jadikan ikan asin" keluh si nelayan itu.

Kemudian ia juga bercerita tentang peran "papalele" (sebutan tengkulak bagi warga didesa saya) yang biasa membeli ikan-ikan mereka. Papalele ini menggunakan perahu pribadinya biasanya ia berkeliling menyambangi langsung nelayan-nelayan ketika melaut membeli ikan-ikan mereka dengan harga murah, bahkan harganya jauh beda dengan harga di Kota, kalau dikota ikan langggora 10 ekor dengan harga 20ribu, dinelayan diambil 10 hingga belasan ekor dengan harga 10ribu.

Memang Di Desa saya ini program pemberdayaan nelayan sudah dijalankan oleh pemerintah desa, salah satunya adalah pengadaan fasilitas perahu (ketinting) bagi nelayan, hampir semua nelayan sudah kebagian.

Kalau ditelisik berdasar pada keluhan nelayan diatas, masih ada masalah, Program pemberdayaan yang dijalankan belum sepenuhnya efektif, nelayan masih tidak berdaya. bagaimana tidak berdaya, ikan yang ditangkap melimpah tapi tak berarti apa-apa dalam artian harganya murah, bahkan tidak laku, dan tidak berdampak bagi taraf ekonomi mereka.

Pemberdayaan masyarakat muaranya adalah kemandirian. Artinya sebelum mencapai kemandirian tentu nelayan harus dibuat berdaya terlebih dahulu.

Olehnya itu program pengadaan fasilitas nelayan ini seyogyanya perlu dievaluasi, dilihat kekurangannya kemudian dicarikan jalan keluarnya.

Saya belum melihat dokumen evaluasi pemerintah desa perihal pemberdayaan nelayan ini, tapi kalau berangkat dari keluhan nelayan diatas pemerintah harus hadir ditengah-tengah mereka. Bukan hanya diberi perahu lalu dilepas begitu saja, tapi ada hal lain yang perlu dilakukan.

Inti masalahnua disini adalah harga dan peran papalele.

Peran papalele inilah harusnya diambil oleh Pemerintah Desa sendiri, bisa melalui BUMDes atau apalah namanya intinya desa yang handle, harus menyiapkan berupa Tempat Pelelangan Ikan Desa (TPIDes) yang dikelola oleh Bumdes, hasil tangkapan nelayan berapa pun jumlahnya mau satu ekor kek, seribu ekor kek dibeli oleh BUMDES di TPIDes dan tentunya disesuaikan dengan harga pasar di Kota, dengan begitu nelayan tidak akan was-was lagi pergi melaut, hasil tangkapan mereka tetap akan laku.

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.