Sore cerah menikmati kopi capucino diteras rumah, sambil menarik asap surya, sepintas terlintas ide untuk menuliskan fenomena sekitar.
Ya... Bendera!!! Sudah menjadi hal yang rutin setiap tahun dibulan agustus pernak-pernik merah putih selalu menghiasi jalan-jalan, perkantoran, dan rumah-rumah warga, baik itu didesa maupun di Kota.
Pengalamanku yang pernah tinggal Di perkampungan kota dan Di Desa pemandangan di bulan agustus seperti ini lebih semarak, banyak sekali bendera dan umbul-umbul yang dijejer dipinggir jalan, bahkan sampai dibuat lampion merah putih dan gambar mural pancasila dan pahlawan didinding-dinding gang.
Tapi disekitarku tempat saya menikmati kopi ini (kebetulan saya berada diperumahan di Kota) sungguh berbeda, pernak-pernik merah putih berupa bendera maupun umbul-umbul sangat jarang, hanya beberapa rumah yang memasang.
Padahal warga diperumahan ini mayoritas bekerja di instasi pemerintah yang notabene makan dari gaji yang dibayarkan negara meskipun ada juga sebagian pengusaha. Dibanding dengan diperkampungan kota dan desa mayoritas warganya pekerja lepas, ada yang jualan bakso, mie siram, nelayan, dan lain sebangsanya.
Tapi soal menyemarakkan HUT KEMERDEKAAN kok lebih meriah dikampung-kampung?
Saya hisap rokok suryaku lalu mengeluarkan asapnya dengan pelan sambil merenung sembari bertanya dalam hati, apakah makin tingginya ekonomi berbanding lurus dengan pengabaian pada acara-acara seremonial kenegaraan? Apakah perumahan yang dihuni oleh para pekerja kantoran ini indonesia dalam bentuk lain? Apakah para penghuni perumahan ini lupa dengan jasa para pendiri bangsa? Apakah mereka tidak mau merefleksi?
Kemudian warga kampung yang hidup dengan pekerjaan seadanya yang mau menyemarakkan agustusan dengan memasang bendera dan umbul-umbul itu betul cinta NKRI?



0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.