Hadirnya Pemuda di Desa Seharusnya Menghidupkan Kreatifitas dan Ruang Kritis


Beberapa bulan terakhir anak muda di Pulau Kadatua sedemikian geliat, tak heran ragam aktivitas yang berbau kreasi tumbuh subur bak jamur dimusim penghujan.

Sebut saja Karang Taruna Desa Kapoa, dibulan agustus ini tak tanggung-tanggung tiga format kegiatan (Futsal Kids, Upacara di Laut, dan Pawai menyambut tahun baru hijriyah) berhasil dilakukan.

Melihat aksi-aksi yang dilakukan oleh pemuda ini, seperti melihat masa depan kadatua, bahwa pulau yang tandus gersang, senyap-sepi ditinggal warganya merantau ini bisa hidup.

Memang banyak teori yang mengatakan bahwa manakala usia produktif (muda) lebih banyak dibanding non produktif (lansia) tunggu saja kebangkitannya. Jangan kaget jika ada banyak kreasi dan bahkan angin perubahan ke arah positif segera datang menghampiri.

Tapi perlu digaris bahwa yang saya maksud disini adalah usia PRODUKTIF! Produktif dalam artian bukan hanya energik karena muda, tapi idenya yang brilian, pikirannya yang hidup, serta tindakannya. 

Saya belum melihat data statistik di Pulau ini, ada berapa jumlah kaum muda khusunya yang berpendidikan menengah atas dan tinggi. Tetapi merujuk pada obrolan saya dengan salah satu Kades beberapa bulan lalu ia menuturkan bahwa didesanya ada sekitar 40an (mahasiswa dan alumni PT).

Kalau asumsi diatas dijadikan sampel, lalu dirata-ratakan setiap desa 40, berarti total se Pulau Kadatua sekitar 400an. Wow angka yang begitu fantastis! Namun itu hanya angka-angka sifatnya spekulatif, kasat matanya tidak semua stay dikampung, sebagian masih berserak dirantau.

Sebagian mereka yang stay dikampung kebanyakan sudah alumni, yang saat ini menitih karir dikampung menjadi tenaga guru, kesehatan, dan sebagian lagi masuk dalam pemerintahan (Baca: aparat desa). Sedangkan yang masih aktif sebagai mahasiswa berada diluar nanti diwaktu-waktu libur baru pulang kampung. 

Melihat realita sudah banyaknya kaum muda yang berpendidikan dan bahkan sudah terlibat dalam intansi seharusnya memberikan perubahan, misal melakukan kerja-kerja kreatif, dan berkolaborasi, momen-momen perayaan ataupun peringatan yang bersejarah jangan dilewatkan begutu saja tetapi segera ambil bagian dengan diadakannya kegiatan entah itu perlombaan seni maupun olahraga ataupun apalah, intinya suasana kampung dihidupkan.

Kemudian dari sisi berdemokrasi, kemampuan partisipatif dan kritis diperlukan, manakala ada program ataupun kebijakan pemerintah di Kecamatan atau pun Desa yang mengabaikan rakyat atau keluar dari relnya kaum muda ini harus andil, bersuara.

Jika hal tersebut dilakukan maka pulau yang menghidupkan kita semua ini akan melangkah maju sejajar dengan kecamatan-kecamatan lain yang sudah duluan maju. 

(Foto bersama Remaja masjid, Karang Taruna & Majelis Taklim)

(Jalan santai menyambut tahun baru hijriyah)

(Buibu Majelis Talim)

(Lapak baca di Lapangan Desa Kaofe)

(Para juara futsal kids  saat menerima hadiah)

Tonton video jalan santai menyambut tahun baru hijriyah berikut:

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.