Semenjak menginjakkan kaki di Kampung halaman tercinta pasca bergelut dengan dunia rantau selama beberapa tahun, kepekaan terhadap hal-hal kecil mulai sedikit kelihatan tajam. Sebut saja soal pakaian.
Bukan life style (gaya hidup)! Tapi pemandangan keki yang sangat kontras berbeda dengan tempat nun jauh yang pernah saya kunjungi, ditempat jauh itu pemandangan orang-orang lewat kebanyakan menggunakan baju perusahaan.
Saya tertegun, membantin dalam hati dan pikiran dengan penuh duga-duga dan kira-kira, pikirku saat itu mungkinkah ini wujud daerah yang kurangnya aktivitas wirausaha industri sehingga banyak orang khususnya para milenial didaerah ini pasca wisuda langsung berlomba-lomba masuk ke instansi pemerintah. Bahkan ada jebolan keguruan dan tenaga kesehatan jadi perangkat desa.
Ketika tadi membaca salah satu artikel yang dibagi di jejaring sosial FB oleh akun rektor USN pak Azhari, dari bacaan tersebut saya terhenti di paragraf ke 3-5 (Baca: Disini) saya menyimak dengan seksama ia mengatakan bahwa sederhana saja melihat daerah dari sisi ekonomi & politik, cukup dua yakni: sektor privat dan publik, jika daerah minus privat dalam artian aktivitas ekonomi rakyat seok maka orang-orang memiliki kecenderungan begitu tinggi pada personal pemimpin daerah, tak heran diskusi soal politik begitu masifnya karena memang banyak yang mengharap remah bisnis yang dijalankan oleh sektor publik.
Membaca ini dugaan saya seolah menemukan afirmasi, pantas saja banyak baju keki bertebaran dijalan-jalan, gode-gode dan warung-warung kopi pun banyak dihiasi dengan diskusi politik yang receh. Ternyata memang karena lumpunya aktivitas ekonomi sektor privat. Semua ingin mengais rejeki dari ekonomi sektor publik.




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.