Berbincang dengan Anak Muda di Desa


Selepas waktu isya sehabis makan malam, saya langsung kerumah teman sesuai janji kami akan sharing soal dunia kepenulisan dan aplikasi bloggger.

Setibaku dikediamanya tak berselang lama ia mengajak ke sebuah gode-gode (bale bambu) persis dipesisir, kami berbincang lepas ngalor-ngidul apapun menjadi bahasan. 

Ditengah perbincangan muncul seorang anak muda desa yang raut wajahnya dan gerak-gerik sepintas seperti ada kobaran api semangat, bak Wikana dan Sukarni (dalam peristiwa rengas dengklok yang berani beda dengan kelompok Ahmad Subarjo (Baca: tua) berani menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk mendesak memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 agustus 1945), anak muda itu datang dengan tujuan berdiskusi soal rencana membangun perpustakaan desa. Namanya Kamal saat ini ia sebagai ketua karang taruna di desanya.

Sambil menjamunya kami menuntaskan dulu obrolan soal blog, selepas itu mulailah anak muda ini memantik, menanyakan respon soal rencananya itu, gayung bersambut kami menyemangati dengan sedikit kelakar, obrolan pun kian cair dan santai.

Rupayanya kesiapannya sudah demikian matang, lokasi sudah ada, koleksi buku-buku juga tersedia, tinggal eksekusi bangunan dan kerja-kerja literasi.

***

Selalu senang mendengar anak-anak muda didesa ingin melakukan sesuatu, apalagi menyangkut literasi. 

Sudah menjadi perbincangan umum bahwa daya minat baca anak-anak muda Indonesia sangat rendah, tak heran kemampuan menalar dan menulis kita parah.

Kita bisa menyaksikan sendiri di media-media sosial banyak sekali warganet terpapar hoax. Artikel & argumentasi ilmiah yang kaya data dan referensi, kemudian opini yang ditulis para intelektual manakala netizen tidak bersepakat bukannya argumen dibalas dengan argumen malah dibalas dengan sentimen diikuti hujatan dan kebencian bahkan menyerang pribadi hingga menyinggung hal sensitif, SARA.

Pemandangan seperti bukan hanya ada di media sosial atau di kota-kota, didesa-desa juga pun ada, jika pendapat berbeda cenderung dimusuhi, bahkan dikucilkan dari pergaulan.

Olehnya rencana Kamal dan kawan-kawan ini saya harap bisa segera terealisasi, ini penting! Walaupun dimulai dari level desa tapi tak menutup kemungkinan jika kerja-kerja literasi nantinya efektif, saya yakin ini akan menjadi contoh baik. Jika warga desa berdaya dengan kemampuan literasi yang baik, diskursus akan hidup, warga desa akan melek aturan, tahu hak da kewajibannya, tak segan kritis pada persoalan kebijakan, dengan demikian desapun pasti akan maju .

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.