Kepak Sayap Buton Melalui Kepahlawanan Oputa Yi Koo

Jazirah Buton yang membentang dari ujung Ereke hingga ujung Binongko, banyak menyimpan kekayaan alam, mulai dari, hutan tropis, bahari, aspal, dan tak kalah pentingnya adalah wilayah ini juga masuk dalam jajaran kerajaan-kerajaan besar Maritim di Nusantara. Yang di Kenal luas sebagai Kesultanan Buton kala itu.

Melihat ragam potensi dan histrori itu yang kemudian  mengugah warga Buton dari generasi ke generasi untuk ingin memperjuangkan pemisahan diri (baca: Pemekaran) dari Provinsi Sulawesi Tenggara agar menjad mandiri, serta mengembalikan kebesaran nama Buton. Tapi perjuangan tersebut selalu menemui jalan berliku dan tantangan yang begitu berat, apalagi sejak diberlakukannya kebijakan moratorium pemekaran daerah tahun 2014 lalu.

Walaupun keran moratorium belum dibuka, tapi tidak menyurutkan semangat orang Buton untuk terus menggelora dan menggemakan nama Buton, hari ini (22/7) tepatnya di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO) para intelektual dan birokrat berkumpul. mereka adalah Gubernur Sultra Walikota Baubau, Rektor UHO, Jimly Assidiq, dan sejarahwan UI, membincangkan nama Buton, tapi  bukan soal pemekaran, mereka berdiskusi dalam seminar untuk memperjuangkan seorang "Putra Buton"  untuk diajukan sebagai pahlawan Nasional.

Ia adalah HIMAYATUDDIN MUHAMMAD SAIDI  Sultan Buton yang bergelar Oputa Yi Koo (raja di hutan) karena kegigihannya berjuang dan bergerilya masuk hutan keluar hutan untuk melawan invansi Belanda yang masuk ke wilayah yang dipimpinnya.

Karikatur Oputa Yi Koo (Foto: kendaripos.co.id)

Dikutip dari Sultrakini.com Susanto Zuhdi dalam paparannya mengatakan bahwa seorang pahlawan adalah sosok yang merupakan personafikasi nilai yang dianut atau diteladani oleh masyarakatnya karena sikap tindakan serta keberaniannya. Sultran Himayatuddin adalah sosok yang berani dan memiliki karakter istimewa, olehnya itu ia tidak sekedar primus inter pares atau the great man tetapi adalah event making man sehingga layak disebut hero (pahlawan).

Maka memperjuangkan nama Oputa Yi Koo sebagai Pahlawan Nasional buka sekedar untuk menghormati jasa beliau, tapi bagaimana menyosialisikan nilai  dibalik nama Oputa Yi Koo itu sendiri agar diteladani khalayak umum, dan lebih khusus bagi orang Buton juga ini merupakan salah satu momen penting untuk mengepakkan sayap, terbang di langit ingatan masyarakat Indonesia, agar nama Buton lebih dikenal luas. dan menegaskan bahwa Buton bukan hanya Wakatobi, Benteng Keraton, dan Aspal tapi punya Pahlawan yang menginpirasi.

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.