Sisi lain di Balik Proklamasi 17 Agustus 1945


17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan, momentum dimana ditandai dengan pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno dan Bung Hatta. dan peristiwa ini pulalah yang selalu dikenang sepanjang sejarah oleh generasi ke generasi. entah melalui upacara atau pun memasangg tiang bendera dihalaman rumah maupun menulis ucapan "Dirgahayu"di  beranda medsos.

Saya pun melalkukan hal yang sama, turut serta menyemarakkan hari kemerdekaan dengan memosting foto saya di FB dengan dimbumbui caption tentang harapan pada negara untuk terus jaya selamanya.

Setelah saya memosting itu tidak lama muncul tautan yang dibagikan oleh Bang YD, tulisan yang begitu menarik dan memberi tambahan pengetahuan. adalah adanya penumpang gelap dibalik proklamasi kemerdekaan kala itu.

Mereka bukan para revolisioner atau pahlawan, mereka adalah para Bandit dan Jagoan, dalam tulisannya yang mengutip Buku sejarahwan Robbert Cribt yang berjudul "Gangster and revolutionaries" menungkap bahwa setelah lonceng kemerdekaan diikraarkan melalui proklamasi para bandit ini memanfaatkan kesempatan, menjarah toko-toko dan perusahan membunuh hingga memperkosa karyawan-karyawan toko yang dimiliki oleh pengusaha beropa maupun China. Mereka menduduki kantor-kantor Bupati lalu mengambil paksa,

Saya tertegun, meskipun cerita itu dikutip dari Buku karya akademisi tapi membuatku bertanya-tanya, kok bisa rakyat kita sejahat itu.

Hingga terlintas memori dipikiran saya tentang komflik yang pernah saya saksikan sendiri, waktu itu masih mahasiswa di salah satu Kota di Sultra, ada satu peristiwa konflik antar mahasiswa yang berbeda etnis yang terjadi tahun 2011 (klo gk salah),  malam itu suasana mencekam, dijalan raya bunyi tiang listik penanda bahwa  teelah terjadi penyerangan, para mahasiswa dikost-kostan keluar, ada yang mengungsi dan ada juga terjadi saling lempar batu dan busur panah, ditengah konflik itu ada beberapa kelompok yang membnokar-bonkar kios warga, mereka mencungkilnya lalu mengambil barang-barang didalam kios tersebut. Sedangkan sebagian lainnya masih bertahan terus melakukan pelemparan. seolah-olah lagi berjuang.

Saya mencoba cocoklogi dengan kejadian yang disampaikan dalam tulisan itu, ada benarnya mengingat kala itu masih dalam kondisi peperangan masyarakat masih banyak yang mengalami kemiskinan, meskipun sebagian dari rakyat saat tetap gigih berjuang dan tetap wasapa manakala akan terjadi perang tapi ada-ada saja orang yang menafaat itu sebagai ladang untuk mencari keuntungan pribadi.

Dari kedua peristiwa ini mungkin kita menyerap pejalaran,jika mau lihat orang benar-benar idealis lihat dia pada saat konflik terjadi, kemana dia, melakukan perlawanan kah atau berdiplomasi dengan musuh untuk mencari titik temu agar damai ataukah memanfaatkannya dengan menumpang atau menunggangi dengan tujuan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. 


0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.