Setelah meredupnya matahari biru PAN di Sulawesi Tengara (Sultra) karena kelaahan pada Pilkades beberapa tahun lalu akibat tertangkapnya beberapa kadernya yang tersandung kasus korupsi, wajah politik Sultra berubah total, PAN tidak lagi mendominasi.
Kini yang mendominiasi adalah partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hampir diseluruh kabupaten/Kota di Sultra hal ini bisa dilihat dari terpilihnya para kepala daerahnya yang mayoritas diusung oleh partai yang berlambang banteng tersebut. Tak terkecuali dikampung halaman saya, Buton Selatan, dipimpin oleh LA sekaligus merangkap sebagai Ketua DPC.
Tak berhenti sampai disitu pada Pemilu 2019 April lalu, PDIP di Busel lagi menguasai mayoitas kursi di parlemen dengan perolehan 5 kursi, iikuti oleh Partai Hanura diperingkat kedua mendapat 4 kursi.
Meskipun pilkada msih kurang dari 3 tahun lagi, tapi tidak ada salahnya kita mengira-ngira. Kalau ditakar berdasar pada dominasi PDIP diparlemen tersebut, tentu bisa menjadi modal besar bagi LA untuk mencalonkan kembali pada tahun 2022. lalu pertanyaannya adalah, kira-kira siapa penatangnya?
Sangat mudah dijawab.
Yapsssssss AI!!!!
Yapsssssss AI!!!!
Nama ini memang tidak asing bagi warga busel khususnya yang melek politik, Aliadi pernah menjadi bakal Calon Bupati Busel pada periode lalu, meski tidak jadi mencalonkan diri, tapi balihonya waktu itu banyak bertebaran di desa-desa, dan saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Busel, dan partainya Hanura bertengker di peringkat kedua.
Berarti pertarungan kedepan LA dan Aliadi donk?
hmmmmmmmmmm.......... kira-kira begitu.
Ta....ta..tapi.........
Tapi apa?
Saya Pesimis Bung! Busel akan begitu-begitu saja.
Kenapa bisa?
Mari kita lihat dibalik kedua sosok ini yang pernah mereka buat.
Pertama, LA, setelah terpilih menjadi Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati menggantikan AFH, ia seperti raja, seakan mau dmenghidupkan dinasti, ia menanam benih itu dengan mencalonkan adik dan istrinya sebagai caleg dan terilih dipemilu 2019 lalu, padahal sebagian besar akademisi maupun pegiat anti korupsi mengatakan bahwa "Dinasti itu lekat dengan rasuah" (Baca Kendari).
Kedua, AI, sosok ini memang sepak terjangnya belum terlalu jauh, tapi bisa dilihat dari kinerjanya sebagai anggota DPRD, sudah memasuki periode akhir jabatan perda yang dihasilkan sudah belasan, tapi ada salah satu perda yang menurut saya aneh dan tidak sesuai konteks yakni tentang retribusi parkir jalan umum,Busel baru mekar 5 tahun, baru menapakan kakinya, kemudian kondisinya masih sangat sepi jalan raya masih dilalui beberapa kendaraan, berhenti ditengah jalan pun kalau boleh dibilang sebenarnya tidak mengganggu lalu lintas. hehehhe.... Perda yang sangat asal-asalan!!!
Satu hal lagi tentang sosok ini yang juga tidak kalah aneh, yaitu kehadirannya saat main deklarasi-deklarasian Ganti Bupati dengan beberapa koleganya sesama pimpinan partai juga anggita DPRD, di Malino tahun 2018 lalu. apa faedahnya coba, kepemimpinan di Busel saat itu baru setahun lebih, seharunya kalau memang tidak sependapat dengan kebijakan bupatidi kritisi melalui forum dewan bukan malah ikut-ikutan om Mardani mo ganti presiden, lalu mo ganti bupati juga. Hiks (*)
Lalu siapa yang bagus untuk diusung selain mereka ini?
Entahlah...... saya juga bingung. hehehe




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.