Mengenal Lebih Dekat Arief Budiman dari Tulisan Para Kerabat dan Sahabatnya

Siapa Arief Budiman? Siapa itu?

Jawaban sekaligus pertanyaanan itu pasti akan sama ketika ditanyakan kepada sebagian besar kami generasi yang lahir 90an.  Ya Arief Budiman asing ditelinga saya.

Pertama kali saya mendengar nama itu waktu tahun 2017 ketika masuk semester 3 waktu pembagian konsentrasi/minat program yang mau diambil, saya kebetulan ngambil Kebijakan Publik dan teman seangkatan  asal Bali ngambil kosentrasi Perencenaan dan Pembangunan Daerah.

Singkat cerita,  saat itu sekitar jam 10 pagi ia keluar dari kelas sehabis mengikuti perkuliahan dan memegang buku yang sampulnya warna merah muda, saya yang kebetulan lagi rokoan dan sembari nunggu jadwal kuliah didepan gedung, ketika melihat dia keluar langsung saya ambil buku yang ia pegang itu.

Buku itu judulnya Teori Pembangunan Dunia Ketiga, tertera nama penulis disampul buku tersebut, Arief Budiman, sambil saya liat-liat isinya, ia sontak bilang, "buku ini keren Bung penulisnya tuh aktivis 60an kakak dari Soe Hok Gie, saya tanya "dari mana ambil buku ini?"  "fotocpy dari dosen Bung" jawabnya.

***
Seminggu terakhir ini pecinta buku seMalang Raya antusias berbondong-bondong ke ex. Bioskop Kelud, disana ada Festival dan Pasar Buku Keliing yang diadakan oleh Patjar Merah, banyak buku yang dijual murah diskonya hingga 80% dan dihadiri oleh penulis-penulis ternama untuk memberi materi bagi peserta yang hadir.

Tak mau ketinggalan saya pun meluncur kesana, alhasil kalap 6 buku, total isi dompet yang terkuras demi kebutuhan nutrisi otak ini kurang lebih 200ribu, salah satu buku yang saya Ambil berjudul "Arief Budiman, Melawan Tanpa Kebencian" yang ditulis oleh para kerabat dan sahabatnya/Sengaja ambil buku ini untuk mengobati rasa penasaran saya pada sosok itu.

Dan semalam saya tongkrongin buku ini, hingga jam 3 dini hari.


Menyelam dilautan kata-kata oleh kerabat dan sahabatnya dalam buku tersebut tentang sosok Arie Budiman, sungguh benar-benar seperti masuk kelorong waktu, tahun 60an hingga akhir 90an, cerita suka, duka, maupun konsisitensi perjuangan dan idealisme.

Soe Hok Djin atau Arief Budiman ternyata bukan orang sembarangan ia intelektual kutu buku dan seorang pejuang. kecintaanya pada membaca memang terlihat sejak kecil, diceritakan bahwa  ia sering menemani ayahnya yang juga seorang penulis dan sastrawn. Ketika ayahnya lagi menulis dimesin tik, arief kecil biasa menunggu kertas yang sudah berisi tulisan itu lalu dibacanya.

Setelah masuk Fakultas Psikologi UI, kakak kadung dari alharhum Soe Hok Gie ini, makin menjadi, ia bergabung di Kelompok Manisfesto Kebudayaan (Manikebu) yang berawaan paham dengan Lembaga kesenian Rakyat (Lekra), ia juga sering melontarkan kritik tajam turun kejalan maupun lewat tulisan-tulisan kepada dua penguasa kala itu Soekarno dan Soeharto. Hingga berujung pada penahanan.  Tapi tak membuat ia gentar, ia sosok revolusioer. Keren.... Sungguh menginspirasi....

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.