BAB
1
MEMAHAMI
KORUPSI POLITIK
Bagian
1
Perilaku
Publik terhadap Korupsi (Penelitian Selama 25 Tahun)
Definisi korupsi
politik dapat diklasifikan menjadi tiga kategori yaitu berdasarkan hukum,
kepentingan publik, dan opini publik. Lebih dari 25 tahun lembaga korupsi
membahas topik utama yang memusatkan kepada masalah publik seperti Watergate,
Abscam, masalah Iran, dan adanya mitra lokal telah menyebabkan penuntutan dan
penggulingan pejabat terpilih dan legislatif merespon dengan menciptakan atau
memperkuat kesalahan tersebut. Dalam waktu yang bersamaan, para ahli politik
dan administrasi publik telah berusaha untuk meningkatkan pemahaman tentang
korupsi sebagai bentuk dari perilaku politik dan sebagai masalah manajemen.
Sebagai hasilnya, dibentuknya sebuah badan yang memfokuskan pada literatur
penelitian mendokumentasikan tindak korupsi dan menganalisis isu-isu filosofis
mengenai perilaku yang dinilai sebagai etika atau yang tidak beretika. Josep
mendefinisikan korupsi sebagai "perilaku yang menyimpang dari tugas resmi
dan peran publik yang digunakan untuk kepentingan pribadi (pribadi, keluarga
dekat, kelompok swasta) dimana penyimpangan dapat berupa uang atau untuk
mendapatkan status keuntungan serta melanggar aturan tertentu untuk kepentingan
pribadi. Sebagai contoh perilaku melanggar tugas formal termasuk tindak
penyuapan (menggunakan kompensasi untuk menyalahgunakan penilaian seseorang
dalam mengungkap sebuah kebenaran), nepotisme (adanya penganugrahan
perlindungan posisi yang dikarenakan adanya hubungan kekerabatan daripada
prestasi), penyalagunaan (adanya alokasi
sumber daya negara yang dilakukan secara illegal untuk kepentingan
bisnis) dan menciptakan kegagalan yang disengaja untuk seakan-akan berupaya
menegakkan hukum atau memanggil sanksi yang dapat mendukung adanya
penyalahgunaan.
Public
Attitude-Centered Corruption Research
Barry
R dan Susan H (1976 2-3) mempunyai fokus yang jelas untuk analisis ini: “korupsi
politik melibatkan perilaku individu
atau kelompok (partai, administrasi) yang melanggar konsep
warga tentang perilaku pejabat yang dapat diterima
dalam komunitas politik mereka”. Sedangkan menurut Arnold Heiden Heimer (1970)
mengatakan bahwa korupsi dapat dijelaskan dengan korupsi hitam, korupsi putih,
dan korupsi abu-abu. Korupsi hitam merupakan tindakan yang dinilai masyarakat
dan pejabat publik sebagai tindakan yang sangat dibenci, oleh karena itu pelaku
korupsi harus dijatuhi hukuman. Korupsi putih, merupakan tindakan politik yang
dianggap korup oleh masyarakat dan pejabat publik, tetapi tidak cukup berat
untuk dijatuhi hukuman. Korupsi abu-abu meliputi tindakan-tindakan yang
dianggap korup oleh salah satu kelompok (masyarakat atau pejabat publik) bukan
keduanya. Masalah yang paling besar dalam penelitian mengenai korupsi adalah
kurangnya data yang reliable untuk menunjukkan kelaziman korupsi. Studi
komparatif dari 10 kota besar yang diambil di tahun 1970
oleh National League Of Cities yang berusaha mengukur kelaziman korupsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan
yang fokus pada persepsi publik pada tingkat korupsi politik. Ketika masyarakat
ditanya tentang kejujuran dari pejabat publik daerah mereka, jawaban mereka
sebagian besar relative baik.Walaupun ada beberapa variasi jawaban diantara
kota-kota seperti yang tertera dalam tabel 1.1, dimana 1 dari lima responden
dari 10 kota berpikir bahwa pemerintah daerah mereka kurang jujur dibandingkankota
lain. Sedangkan 2 dari 3 responden berpikir pemerintah daerah mereka sama saja
dengan pemerintah kota lain. Ketika ditanya berapa banyak pejabat publik yang
menerima suap, dan mendapatkan uang dari cara - cara yang illegal, 56%
responden menjawabbanya sekali atau beberapa.
Hierarki
Keseriusan
Analogi
dari Heidenheimer tentang korupsi hitam, abu-abu dan putih merupakan
serangkaian projek survey penelitian yang telah berusaha membangun hirarki
untuk menunjukkan faktor-faktor yang menyebabkan tindak korupsi di masyarakat.
Hasil wawancara yang dilakukan Lane (1962) menemukan bahwa mayoritas pekerja di
daerah pesisir yang mengatakan bahwa politik dan korupsi merupakan dua hal yang
selalu berjalan bersamaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya kercurangan politisi
ketika kampanye, konflik kepentingan dan kepentingan khusus. Survey Peters dan
Welch menemukan pengaruh yang dianggap sebagai tindak korupsi dari pejabat
publik dengan menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan teman atau kerabat
sekolah hukum atau anggota kongres untuk suatu perusahaan. Pada 1983, studi
Pittsburgh Metropolitan Area, Michael Johnston menganalisis reaksi dari 241
warga tentang korupsi, dan sekitar 95 persen menjawab bahwa itu cenderung
membuat mereka “sangat marah” atau “marah”. Jonhnston
membandingkan kelas sosial bawah, menengah bawah, menengah, menengah atas dan
atas tentang persepsi mengenai korupsi. Dia tidak menemukan hubungan yang
konsisten antara kelas dan tingkat beratnya hukuman atas tindakan korupsi. Namun,
dia menemukan bahwa berbagai jenis kecurangan lebih penting untuk beberapa
kelas daripada yang lain.
Perbedaan pandangan kelas tidak signifikan dalam
situasi pengambilan keputusan pribadi.Dalam kasus pejabat yang korupsi, bahwa
individu kelas menengah dan atas lebih sadar dengan apa bentuk kecurangan dalam
pengaturan publik, dan lebih akrab dengan kesalahan dalam aktifitas
pemerintahan.Bagi kelas menengah atas dan kelas atas, hal tersebut dilihat
sebagai hadiah untuk jasa dan keahlian yang mereka lakukan. Sedangkan untuk individu
yang berstatus menengah bawah dan menengah lebih suka hal tersebut dianggap
sebagai pendapatan dan keuntungannya yang tidak sah.
Implikasi
dan Kesimpulan: Integritas sebagai Kebijakan Pilihan
Literatur
yang telah kami tinjau menunjukkan dengan jelas bahwa “korupsi” berarti hal
yang berbeda untuk orang yang berbeda, dan banyak responden tidak melihat
sebagai hal yang “sangat korup” pada beberapa tindakan yang dilarang oleh
kesalahan resmi statuta, apalagi kegiatan lainnya yang tidak pantas. Studi
Gardiner (1970) jelas menunjukkan bahwa penduduk Reading, Pensylvania, tidak
mentolerir korupsi per se. Namun, ia menyimpulkan bahwa sikap masyarakat
melakukan fasilitasi pertumbuhan korupsi di lembaga penegak hukum. Survei Beard
dan Horns (1975) dari Kongres kesembilan puluh memeriksa persepsi anggota
kongres untuk perilaku rekan-rekan mereka dan pengetahuan dari perilaku kongres
dianggap sebagai konflik kepentingan, kampanye keuangan, dan tekanan kelompok
sesama pada perilaku etis mereka. Mereka menemukan bahwa mayoritas responden
menganggap perilaku di DPR tidak sangat buruk atau tidak lebih buruk daripada yang
ditemukan di tempat lain dalam masyarakat Amerika.
Penelitian
serupa William (1985) pada konflik kepentingan yang melibatkan anggota DPR di
Britania Raya menemukan bahwa mayoritas anggota parlemen percaya korupsi yang
muncul hanya dimana kepentingan finansial pribadi mengatasi atau mendistorsi
tugas anggota ini sebagai M.P seperti Kongres AS, Parlemen enggan untuk campur
tangan di bidang kepentingan pribadi anggota. Rundquist dan rekan dalam dua
studi terpisah (Rudquist, Strom, dan Peters 1977; Rundquist dan Hansen 1975,
1976) meneliti bagaimana kesadaran korupsi keterwakilan terpilih mempengaruhi
perilaku pemilih. Dalam kedua studi, ditemukan bahwa warga tampaknya lebih
memilih hal-hal lain yang lebih intens dari yang mereka sukai, yaitu pemerintah
yang jujur.
Dalam
sebuah studi dari pegawai pemerintah di India, Sengupta (1982) mengukur
pengaruh organisasi, keluarga, dan lingkungan pada sikap terhadap korupsi. Dia
menyimpulkan bahwa lingkungan yang korup di kantor sebagian besar bertanggung
jawab untuk pembentukan sikap yang menguntungkan terhadap korupsi; bahwa
lingkungan korup di lingkungan memiliki pengaruh yang sangat sedikit pada sikap
terhadap korupsi. Wawancara Joseph (1988, 72-73) dengan elit Chicago menemukan
bahwa kebanyakan pemimpin organisasi tidak melihat bahwa korupsi politik
memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap organisasi, pada
pekerjaannya, pada keanggotaannya, atau konstituen yang lebih luas. Di sisi
lain, banyak masyarakat dan pemimpin sipil percaya bahwa korupsi memang
memiliki semacam dampak tidak langsung pada organisasi mereka.
Memvariasikan
preferensi kebijakan mungkin relevan dalam penjelasan mengapa satu komunitas
toleran terhadap perilaku korup dan lainnya tidak. Menurut studi kebutuhan
Maslow (1954), kecuali kebutuhan untuk keamanan dan penerimaan kepuasan,
seseorang tidak dapat bergerak maju dalam pengembangan psikologis. Jika warga
lebih peduli tentang tempat tinggal dan makanan, mereka akan menerima pejabat
yang akan menyediakan kebutuhan tersebut, walaupun dia korup atau tidak. Review
penelitian kami tentang sikap publik terhadap korupsi memberikan pesan campuran
untuk mereka yang ingin meningkatkan integritas dalam pemerintahan: beberapa
warga yang sangat sensitif terhadap masalah ini dan yang lain tidak. Di
beberapa daerah, dukungan publik untuk standar resmi integritas mungkin begitu
luas bahwa korupsi tidak mungkin menjadi masalah besar. Di beberapa daerah,
menuntut untuk barang dan jasa ilegal mungkin membanjiri setiap upaya untuk
mengurangi yang secara langsung menyangkut mereka. Isu-isu yang lebih penting
yang mendominasi diskusi publik.
Bagian
2
Politik,
Birokrasi dan Korupsi politik: Sebuah Analisis Perbandingan Negara
Etika
dalam pemerintahan adalah sebuah isu yang telah menarik perhatian baik di
akademisi maupun di masyarakat umum. Bab ini berupaya memberikan kontribusi
literatur dengan menggabungkan berbagai penjelasan dari korupsi politik dengan
pemeriksaan empiris korupsi di negara-negara amerika. Pertama, kita membahas
perbedaan korupsi dan perilaku yang tidak etis. Kedua, mendefinisikan korupsi
sehingga langkah-langkah yang diambil dapat mengatasi korupsi. Ketiga, akan
mengkaji empat penjelasan umum korupsi-sejarah politik/budaya. Politik,
struktural dan birokrasi, hal ini akan diikuti oleh presentasi dari model
gabungan. Keempat, menjawab pertanyaan tentang oportunisme politik. Pada
akhirnya, bab ini membahas kemungkinan sumber admnistratif korupsi lainnya.
Korupsi melawan etika
Perilaku
tidak etis pada umumnya dianggap lebih dari perilaku ilegal. Perilaku ilegal
dimaksudkan sebagai tindakan tidak etis dan keengganan untuk memikul tanggung
jawab, ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain, kegagalan untuk menggunakan
sumber daya kelembagaan secara efektif dan kegagalan untuk mengantisipasi
masalah birokrasi. Rohr mendefinisikan terdapat nilai-nilai perilaku yang tepat
dalam pemerintahan seperti ekuitas, keadilan, kesempatan yang sama, properti
dan beberapa istilah yang serupa.
Bahkan
kemampuan untuk menentukan perilaku etika merupakan sebuah tindakan yang
menantang. Terry dan Burke berpendapat untuk pencapaian dalam etika
administrasi, administrator harus mengambil keputusan etis. Rohr berpendapat
bahwa administrator dilarang melakukan pelanggaran hukum. Untuk memastikan
tindakan yang etis maka dibutuhkan dukungan undang-undang.
Mendefinisikan korupsi politik
Dalam
analisis komparative korupsi politik, penulis mengelompokkan definisi korupsi
politik menjadi tiga kategori. Pertama, definisi jabatan publik tentukan
korupsi sebagai penyimpangan dari norma-norma kewajiban hukum dan masyarakat
untuk tujuan kepentingan pribadi. Kedua, sistem pasar ciri korupsi sebagai
bagian dari perilaku utilitas memaksimalkan rasional pejabat publik. Ketiga,
definisi kepentingan umum melihat korupsi sebagai pengkhianatan kepada beberapa
kepentingan publik yang luas.
Penjelasan Politik Korupsi
Cara
pejabat publik melakukan korupsi dengan alasan yang sangat sederhana: mereka
menganggap bahwa manfaat pontential korupsi melebihi biaya potensial
(Rose-Ackerman 1978). manfaat dan biaya yang dirasakan adalah fungsi dari
nilai-nilai yang terkait dengan berbagai hasil dan probabilitas bahwa setiap
hasil yang akan diperoleh. Klitgaard (1988,70) mengungkapkan, bahwa penjelasan
korupsi dapat dikelompokkan dalam kelompok yang mempengaruhi manfaat, maka
dalam pendekatan manfaat / biaya umum dapat di pertimbangkan melalui empat
penjelasan sejarah korupsi: budaya, politik, struktural, dan birokrasi.
Penjelasan
Sejarah / Budaya Korupsi
Sejarah Budaya Politik Korupsi
berkembang dalam politik Amerika. Politik korupsi pun banyak di munculkannya
imigran di perkotaan Amerika, sehingga,mereka memfasilitasi munculnya kelompok
imigran berkuasa di Amerika Serikat dengan didokumentasikan secara baik
(Greenstein 1964). Singkatnya, urbanisme mendorong kondisi yang kondusif untuk
korupsi. Dimana dalam lingkungan ini. mesin politik didirikan untuk mendapatkan
keuntungan individu yang didukung mesin politik; dan korupsi digunakan untuk
mengkompensasi operator mesin politik untuk mendukung usaha mereka. Penjelasan
sejarah budaya politik korupsi, menyatakan bahwa korupsi adalah hasil dari
kelemahan individu atau pola politik yang menjadi rutinitas didalam korupsi. Dalam
kata lain, korupsi ada karena individu merasa terdapat manfaat dalam korupsi
dan biaya yang relatif rendah dalam melakukan tindak korupsi.
Penjelasan Politik Korupsi
Susan
Rose-Ackerman (1978) menjelaskan politik korupsi menggunakan model formal.
Dalam hal ini Rose-Ackeman berfokus pada pemilihan pejabat di Negaranya,
“dimana seorang politikus mungkin menjual suaranya pada isu-isu khusus jika
mereka menginginkan pemilihan ulang atau pada kenyatannya bisa dikalahkan”
(Rose-Ackerman 1978,213). Menurunya, bagaimanapun pememilihan kompetitif
bukanlah sebuah kondisi yang cukup untuk mengurangi korupsi namun pemilih yang
cerdas juga dibutuhkan.
Penjelasan Struktural korupsi
Dalam
politik Amerika, yang paling utama dirasakan dari tindak korupsi adalah telah
melakukan reformasi advokasi struktural. Reformasi struktural didesain untuk
meningkatkan resiko korupsi pejabat publik yang dapat dikelompokkan kedalam 4
bagian. Yang pertama, rentetan dari percobaan reformasi untuk memusatkan
kekuasaan politik dan kemudian membuat aksi yang lebih terlihat dan
meningkatkan kemungkinan yang akan dikaitkan pada aktifitas korupsi yang akan
ditemukan. Kedua, digunakan secara lebih besar untuk memeriksa pada kemampuan
legislatif untuk menghalangi pembelaan korupsi yang banyak (Wilson 1966,31;
Walsh 1978; Rose-Ackerman 1978,216; Fuchs 1986, 133; Klitgaard 1988,53).
Ketiga, persyaratan untuk kontribusi kampanye melaporkan menggunakan ukuran
usaha untuk mengontrol pengaruh korupsi dari kontribusi kampanye melalui
peningkatan penglihatan. Keempat, sebagai ukuran popularitas reformasi
demokrasi secara langsung, kami menggunakan ukuran untuk pemilih yang harus
menandatangani petisi untuk mengaktifkan prosedur penarikan kembali, referendum
dan inisiatif.
Penjelasan Birokrasi Korupsi
Menurut Wilson
(1966, 31) "pria mencuri ketika ada uang banyak yang tergeletak dan tidak ada manusia lainnya."
Dengan kata lain, semua pegawai negeri yang rentan terhadap korupsi, dan
korupsi meningkat dengan kesempatan untuk itu (peningkatan manfaat yang
dirasakan). Satu penjelasan yang ditawarkan untuk peningkatan negara bagian dan
lokal korupsi adalah bahwa negara-negara yang menghabiskan lebih banyak uang
karena "federalisme baru" membutuhkan lebih acion negara (Witt 1989).
Logika ini menunjukkan bahwa korupsi harus meningkatkan sebagai ukuran
peningkatan pemerintah dan lebih banyak kesempatan untuk korupsi disajikan. Korupsi dapat
digunakan untuk mengatasi inersia birokrasi dan membuat birokrasi menanggapi
tuntutan perubahan (Nas et al 1986, 109;. Werner 1983, 148; Klitgaard 1988,
37). Birokrasi dipandang oleh banyak orang sebagai hambatan untuk berubah, dan
korupsi dianggap sebagai positif karena dapat digunakan untuk memotivasi
birokrasi untuk bertindak dalam mendukung beberapa barang publik.
Penentu Korupsi
Analisis yang
disajikan sejauh ini telah mencerahkan. Empat kategori penjelasan telah
ditawarkan; masing-masing telah menemukan beberapa tingkat dukungan empiris. Hasil
analisis gabungan umumnya mendukung semua empat penjelasan. Pertama, kami
mencatat bahwa urbanisasi dan tingkat pendidikan yang sejarah / penentu budaya
penting dari korupsi. Kedua, persaingan partai muncul sebagai pengaruh yang
signifikan dari lingkungan politik sementara jumlah pemilih kehilangan tingkat
signifikansi ditemukan dalam analisis sebelumnya. Ketiga, antara variabel
struktural dan reformasi, akses ke komputer memiliki dampak negatif kecil di
korupsi. Peningkatan kapasitas audit dikaitkan dengan kurang korupsi. Kabupaten
khusus, yang sedikit signifikan dalam analisis sebelumnya, kehilangan
signifikan ketika kontrol lainnya diperkenalkan. Akhirnya, kedua variabel
birokrasi yang signifikan, menegaskan kembali lagi bahwa ukuran sektor publik dan
jumlah penangkapan perjudian mempengaruhi tingkat korupsi.
Dalam jangka
kepentingan relatif, faktor sejarah / budaya (terutama urbanisme) membawa berat
paling, diikuti oleh faktor birokrasi, maka pengaruh politik dan, akhirnya,
struktural dan reformasi variabel. Kekuatan penjelas dari model gabungan
mengesankan; empat penjelasan yang berbeda bersama-sama meliputi 78 persen dari
variasi korupsi di seluruh negara bagian.
Penargetan Partisan dan Rasial
Salah
satu perhatian yang sulit dihindari bahwa pengaruh lingkungan negara pada
korupsi, akan tetapi bersamaan itu adanya dorongan orang-orang untuk mengadili
pejabat publik yang korupsi. Disini kami akan menganalisis berdasarkan atas
penuntutan pemerintah pusat, dengan beberapa variasi di dalam kekuatan hukuman
yang berhubungan untuk perbedaan sikap jaksa umum. Penuntutan korupsi hanya
berkisar 1.5 % menjadi beban di pemerintah untuk melakukan perubahan prioritas
penuntutan secara lihai tanpa mengesampingkan sumber-sumber yang subtansial.
Target
pertama dugaan-dugaan diperiksa berdasarkan control pendukung di dalam Negara
dan partai presiden. Khsususnya, kita berharap dari sebuah administrasi
presidensial akan lebih energik di dalam mengusut korupsi pegawai Negara dimana
partai oposisi pemerintahan sebagai kontol Negara terhadap partai presiden.
Presiden di lain pihak tidak memiliki malu tentang penggunaan kekuatan-kekuatan
pemerintah untuk membantu kolega-koleganya dan yang merasa dirugikan. Kemudian
dampaknya, dapat dikatakan bahwa Departemen Keadilan adalah salah satu diantara
banyak alat pemerintah yang tersedia untuk mencari dukungan.
Kemudian
penuntutan penjabat korupsi di menunjukkan bahwa dalam Negara demokrasi dari
pada di dalam Negara republic selama beberapa tahun di Reagan. Sedangkan hal
serupa sebuah hubungan tidak baik dipertontonkan dari menentukan dukungan
kinerja Departemen Keadilan, yang berhubungan dengan adanya dugaan penargetan
dukungan.
Sumber Administrasi Korupsi
Secara
umum kategori variable-variable
administrasi ditambah model pengembangan lantas di analisis dengan dua tujuan
yaitu:
1. kita
dapat berhati-hati meneliti sumber administrasi korupsi;
2. variable-variabel
lainnya ditambah supaya kita dapat mengakses secara konsisten untuk
mengembangkan model.
Kelompok pertama,
variable-variable administrasi kita tambahkan dengan keinginan merebut kualitas
administrasi Negara. Ringkasan variable-variable di tingkat kineja negara
secara umum dengan aturan, prosedur, dan kemampuan teknologi di administrasi negara.
Kelompok kedua, variable-variable kita coba mengukur kondisi lingkungan politik
suatu negara. Adapun ukuran variabelnya
pelanggaran etika negara hukum yang baik, bagaimana keterbukaan untuk public
secara cermat dalam pemerintahan. Kelompok
ketiga, variable-variable difokuskan disistem personel negara. Faktanya,
kita dapat menarik, di dalam tipe-tipe kinerja orang-orang di pemerintahan dan
sturuktur insentif pada pemerintahan negara. Kesimpulannya, kita dapat
memeriksa sturuktur yang telah di jalankan, demikian pula dapat menggali dengan
cepat di dalam bab.
Kesimpulan
Penelitian
ini menguji empat penjelasan umum korupsi politik yang diukur dengan keyakinan
dari pejabat publik yang korup. Pertama, faktor budaya sejarah, terutama
korupsi tradisional daerah perkotaan dan sifat informasi pemilih, mempengaruhi
tingkat relatif dari korupsi politik. Kedua, korupsi berkurang oleh sistem
politik yang memiliki pemilu erat diperebutkan dan partisipasi pemilih yang
tinggi. Ketiga, meskipun kekayaan argumen yang menghubungkan struktur
pemerintah untuk korupsi, kami tidak dapat menemukan korelasi struktural
korupsi kecuali untuk kapasitas untuk melakukan audit berbasis komputer.
Keempat, korupsi sangat terkait faktor birokrasi; baik ukuran birokrasi dan
potensi suap (judi penangkapan) berkorelasi positif dengan korupsi.
Bagian
3
Konflik Kepentingan
Sektor Publik di Tingkat Federal di Kanada dan AS : Perbedaan Pemahaman dan Pendekatan
Selama dua puluh tahun terakhir,
dan respon tingkat federal, konflik kepentingan sektor publik Kanada dan
Amerika telah berbagi kronologi kasar. Terlepas dari kesamaan sejarah dan
budaya antara kedua negara pengalaman baru dengan konflik kepentingan sektor
publik, perbedaan penting tetap. Khususnya, kami awalnya akan membahas empat
area dimana perbedaan struktural antara pemerintah Kanada dan Amerika telah
menyebabkan divergensi di kedua negara pendekatan konflik sektor publik yang
menarik: (a) keadaan di mana masing-masing pemerintah telah berusaha untuk
menggunakan hukum melawan non rezim konflik hukum; (b) pemahaman mereka yang
berbeda dari pertanyaan pasca kerja yang diajukan oleh aktivitas mantan anggota
kabinet; (c) kesenjangan pendekatan antara dua negara untuk pengobatan dan
hukuman bagi konflik; dan (d) mode yang berbeda dimana kedua negara menangani
representasi yang legislator membuat sebelum eksekutif atas nama klien
membayar.
Konflik
Kepentingan Rezim Hukum Melawan Non Hukum
Rezim
Hukum
Salah
satu isu yang paling penting, berduri, dan berulang yang dihadapi oleh kedua
pemerintah di daerah konflik regulasi kepentingan telah dibangkitkan oleh
kebutuhan, setiap titik tertentu, untuk memutuskan apakah untuk mewujudkan
substansi konflik usulan rezim di hukum atau bentuk non hukum. Di Kanada,
sebaliknya, eksekutif dan legislatif tumpang tindih kabinet duduk di parlemen,
mengendalikan dan membuang agenda legislatif, tapi keduanya tidak signifikan
berbagi kekuatan penunjukan dan pengawasan: kekuatan ini dasarnya untuk
eksekutif dan perdana menteri khususnya. Dengan kata lain, perbedaan dalam
struktur antara dua pemerintah federal yang artinya Kanada mencoba pada
Undang-Undang Konflik Kepentingan Rezim yang tidak termasuk pelayanan publik
selama mereka mampu meminimalisir beberapa perbedaan pada perawatan berdasarkan
kepada anggota-angota kabinet dan M.P.s.
Menyadari
dua acara dimana pemerintah Kanada telah memperkenalkan rezim hukum/
Undang-Undang: the Green Paper on Members
of Parlement and Conflict of Interest pada tahun 1973 (dimana menuntun
kepada perkenalan dari Bill C-62 dan C-6 pada tahun 1978) dan Bill C-114 pada
tahun 1988 (dimana mengenalkan ulang tanpa substantif perubahan sebagai Bill
C-46 pada tahun 1989). Baik di DPR dan di komite, anggota pemerintah memajukan
sebuah struktur doktrin untuk kesamarataan undang-undang yang merawat Green Paper diusulkan untuk sesuai
dengan M.P dan para menteri, menolak apa yang telah mereka lakukan bahwa para
menteri menampilkan tendensi yang lebih baik atau kapasitas untuk konflik
daripada anggota yang biasa. Undang-undang merekomendasikan dari Green Paper tahun 1973, meskipun
diwujudkan dalam Bill C-62 dan C-6 (1978), tidak pernah menjadi hukum: mereka
mati dalam paper permohonan pada saat sesi berakhir.
Jikapun
penyingkapan, pensiunan dan memberikan ketentuan dari etika aksi reformasi
adalah untuk mengaplikasikan sebagai undang-undang kepada kongres sebagai yang mereka lakukan kepada
kabinet dan semua dari cabang eksekutif, Bill C-46 Kanada akan membawa legislator
dan anggota kabinet sebuah langkah yang krusial dalam jangka umum Undang-Undang
Pemerintahan atau keseimbangan. Dengan kata lain, Bill C-46 akan tunduk kepada
anggota dari legislatif Kanada kepada ketentuan undang-undang yang menagkap
jiwa dari 18 Amerika Serikat 208, yang menjadi pusat dari konflik kepentingan
hukum di Amerika Serikat adalah, yang digunakan hanya kepada anggota dari
eksekutif. Satu alasan mungkin telah diharapkan bahwa di Kanada ketidakadilan
dalam kekuasaan antara kabinet dan legislatif dapat, kehabisan, telah
dijustifikasi penempatan dari signifikansi lebih berat konflik kepentingan
struktur dalam sebuah bekas.
Rezim Menurut
Undang-Undang/ Hukum
Meskipun
ada kecenderungan dilihat ke arah perbaikan hukum yang relatif sama. Legislator
dan anggota kabinet di Kanada, ketika datang rezim hukum ada ketimpangan yang
ditandai antara kemajuan yang dibuat oleh dua cabang. Ini adalah contoh kasus
hukum yang ketidakadilan yang terjadi karena kekuasaan antara kabinet dan DPR
telah bekerja dengan cara lain: tepat, bahwa eksekutif Kanadian relatif lepas
dalam kekuasaan dan tanggung jawab, kebutuhan diakui oleh diri sendiri karna
munculnya regulasi. Di Kanada, sebaliknya, rezim hukum selalu mendorong ke arah
perlakuan yang sama dari legislator dan menteri, apakah ada pengobatan yang
ringan, seperti yang ada dengan C-62 dan C-6, atau berat, karena dengan C-114/
C-46. Sebaliknya. rezim hukum, aturan, peraturan. kode, dan pedoman-menunjukkan
ketimpangan relatif antara dua cabang, juga untuk legislatif yang selalu
mendapat keuntungannya dan pola tertentu dari hukum/ undang-undang. Pendekatan
ini mencerminkan konfigurasi yang mendasari secara dalam kekuatan relatif dari
eksekutif dan legislatif di masing-masing negara.
Ketentuan
Pasca Kerja
Di
dalam bidang regulasi pemegang jabatan kegiatan pasca kerja, poin yang paling
berbuah kontras antara pemegang kedua negara tidak dapat ditemukan dalam
situasi pasca kerja, mantan anggota legislatif atau mereka yang dari mantan
anggota sub kabinet eksekutif. Secara umum, di Kanada menteri kabinet adalah
politisi karir dengan ketidakpastian hak kepemilikan, berbeda dengan
rekan-rekan AS mereka yang sebagian besar diambil dari sektor swasta dan
dipanggil untuk menjalani hukuman tetap. Anggota kabinet di Amerika Serikat
belum dianggap dalam situasi yang sama di setiap hal tersebut.
Perbaikan
dan Hukuman
Aturan
penting lain dari perbedaan struktural yang disebabkan antara RUU Kanada dan
hukum Amerika yaitu terletak pada perbaikan dan hukuman untuk tingkat kabinet
dan legislatif pada konflik kepentingan. Dalam perbaikan AS untuk para
legislatif dan tingkat konflik kabinet jatuh ke beberapa batas tertentu dalam
wilayah politik yang demokratis, dan konflik tingkat kabinet diatur oleh hukum
dan peraturan perundang-undangan. Hukuman jatuh di bawah rubric dari berbagai
jenis lembaga di kedua negara tersebut. Dengan demikian, sementara di bawah
tindakan AS, ajudikasi pelanggaran dan penerapan hukuman dari keparahan
tertentu diambil dari tangan legislatif dan eksekutif dan diberikan kepada
cabang-cabang independen, sedangkan dalam RUU Kanada mereka akhirnya dikerahkan
oleh legislatif, yang berarti, dengan asumsi sebagian besar pemerintah, bahwa
mereka dikerahkan oleh bagian eksekutif jika tidak menyeluruh.
Aturan
yang Mengatur Interaksi Legislatif-Eksekutif dan Konflik Kepentingan
Perbedaan
utama antara pemahaman kedua negara tentang konflik sektor publik mengenai
kepentingan menyangkut kebolehan dari anggota legislatif yang mewakili klien
yang membayar sebelum lembaga eksekutif atau departemen. Di Kanada tidak ada kesetaraan hukum. Tidak sama dengan AS
untuk melakukan kekuatan yang sama: parlemen tidak memiliki kontrol independen
atas janji-janji eksekutif, dan tidak ada kekuatan independen tentang
dana. Hal ini bukan untuk mengatakan
bahwa legislatif di Kanada telah sepenuhnya optimis tentang M.P. mewakili klien
yang berbayar sebelum lembaga eksekutif dan departemen. Satu M.P. mengklaim
bahwa larangan terhadap anggota yang mewakili klien yang membayar sebelum
eksekutif harus berlaku hanya ketika klien juga konstituen, karena konstituen
memiliki hak untuk bakat representasi anggotanya gratis, tapi tidak jika
anggota tersebut mewakili seseorang selain konstituen , yang tidak memiliki hak
yang sama. M.P. lain berpendapat bahwa sepanjang penyebabnya suatu parlementarian diberikan
untuk mewakili klien membayar kompatibel dengan kepentingan konstituennya, ia
berhak untuk membebankan biaya untuk advokasi sebelum pengadilan.
Penghakiman Politik
Independen: Sebuah Sejarah Contoh dari Struktural Induksi Perbedaan
Kanada-Amerika dalam Pendekatan Konflik Kepentingan
Satu akhir perbedaan struktural yang disebabkan
antara pendekatan kedua negara terhadap
konflik sektor publik dari kepentingan layak disebutkan dan penjelasan,
itu terbagi dalam tiga hal yang sedikit berbeda dari yang dibahas di atas.
Perbedaan akhir ini dapat dijelaskan dalam istilah berikut: di Amerika Serikat,
milik seorang anggota kongres untuk kepentingan pribadi umumnya dianggap
sebagai beban pada kapasitas untuk melakukan penilaian politik tak terbatas,
sementara argumen hanya diterima secara luas dalam mendukung honor publik yang
signifikan untuk legislator adalah bahwa gaji masyarakat cukup besar mungkin
membawa kebebasan dari ketergantungan pada apa yang dilihat sebagai cara yang
lebih kompromi atas dukungan pribadi.
Mempertimbangkan
konsekuensi pertama: Bahkan pada malam British House of Commons orang pertama
mendukung membayar gaji kepada anggota DPR pada tahun 1911, masih banyak M.P.
yang membela statusnya suka rela mereka sebagai tanda kenetralan mereka. Dalam
kasus Kanada, dapat ditemukan sebuah contoh pemahaman mengenai parlemen
struktural berakar dari konflik kepentingan. Secara historis, kemudian, tradisi
parlemen menampilkan beberapa argumen tentang kursi di kabinet, dan remunerasi
publik yang lebih umum, dapat menempatkan legislator dalam konflik. Dalam
penelitian terbaru, Michael M. Atkinson dan Maureen Mancuso menawarkan
penjelasan lain untuk toleransi sistem parlemen Inggris yang lebih besar bagi
legislator yang berkepentingan pribadi dan mempunyai sumber pendapatan.
Anggota parlemen
Inggris dengan demikian dipandang sebagai pendukung untuk, atau perwakilan,
lebih dari sekedar observasi yang berguna, dan itu membantu menjelaskan mengapa
retensi legislator Inggris untuk kepentingan pribadi dipandang kompatibel
dengan kapasitas mereka untuk terlibat dalam advokasi perwakilan yang efektif.
Perlu ada alur khususnya dalam doktrin parlemen tentang konflik kepentingan
yang menurut kepentingan pribadi dan penghasilan dipandang kurang dan
merepotkan masyarakat secara umum telah muncul di Kanada sehubungan dengan
karyawan cabang eksekutif serta dengan legislator. Hal ini mungkin tidak
mengejutkan, karena studi “Konflik kepentingan di Inggris” ditemukan lima belas
tahun yang lalu, bahwa tidak satupun dari empat Komisi Kerajaan Inggris abad
ini pada layanan sipil telah memberikan perhatian yang signifikan terhadap
konflik kepentingan yang ditimbulkan oleh pejabat publik memegang kepentingan
pribadi dan mengejar kegiatan luar (Wilson 1969).
Kesimpulan
Kesimpulannya,
perbedaan pada struktur pemerintahan yang terkait dengan tradisi konflik
kepentingan yang belakangan ini terjadi di Kanada membuat berbeda dalam
beberapa hal yang signifikan dari tradisi Amerika. Pertama, tiga faktor telah
dimunculkan pada sejarah yang yang sangat berbeda dalam usaha untuk menggunakan
keduanya, baik rezim yang pendekatannya konstitusional maupun yang tidak pada
dua negara tersebut. faktor-faktor yang dimaksud yakni, (a) status ganda dari
anggota kabinet sebagai seorang menteri dan seorang legislator di Kanada (yang
berate bahwa di Kanada, sebagaimana berbeda dengan di Amerika, upaya yang
dilakukan oleh legislator dengan kontrol konstitusi atau perundang-undangan
yang ditujukan pada anggota kabinet); (b) pemisahan sub kabinet eksekutif dari
kontrol legislatif (yang berarti bahwa, sebagaimana berbeda dengan Amerika, sub
kabinet eksekutif tidak dikenakan kontrol perundang-undangan); dan (c)
perbandingan batasan kekuasaan yang dimiliki oleh legislator di Kanada
(maksudnya yakni bahwa legislator di Kanada bukanlah pihak yang secara luas
dikenakan kontrol non-perundang-undangan). Kedua, kerentanan yang relatif dari
mantan menteri dan kekuasaan yang memudar telah memunculkan usulan yang liberal
terhadap anggota kabinet yang sebelumnya di Kanada daripada yang ada di
Amerika. Ketiga, netralitas lembaga-lembaga pelayanan publik di Kanada dan
supremasi di dalam eksekutif di parlemen bermaksud bahwa di dalam konflik
kepentingan rezim, pengampunan dan sanksi secara masing-masing agak lebih
kurang dari pada yang terjadi di Amerika. Sebaliknya, di Amerika Serikat, forum
demokratis dan stuktur yang legal lebih mengandalkan untuk pengampunan, dan
netralitas dari badan legislatif dan eksekutif dari pada bertindak dengan memberikan
sanksi. Keempat, karena legislator Kanada
memerintahkan derajat kontrol yang relatif terbatas pada eksekutif,
pemberian upah yang tidak resmi kepada perwakilan legislatif sebelum lembaga
dan departemen pemerintahan tidak dilarang di Kanada, namun berbeda dengan di
Amerika. (dan, sejauh hal tersebut ditemukan dan pantas di Kanada, hal tersebut
merupakan lain halnya). Akhirnya, melihat konteks yang lebih historis, sistem
parlemen Inggris, sejarah perpolitikan Kanada menunjukkan tanda-tanda pengaruh yang
sangat kentara dari Inggris yang mana pejabat yang memiliki kepentingan dan
pemasukan pribadi, dan sebuah kekhawatiran tentang netralitas pejabat publik,
sebuah sikap yang sebagaian besar asing bagi Amerika.
Perbandingan pengalaman dua negara
dalam menangani kompleksitas sektor publik seperti yang disarankan oleh O.P.
Dwivendi bahwa ide etika pemerintah membentuk sistem tertentu. Untuk sementara,
etika diharapkan mampu memperlihatkan karakter yang tetap dan bersifat
universal atau sebagai pinsip acuan dari pemerintah itu sendiri dalam menilai
kompleksitas sosial dan isu-isu politik sesuai dengan kebenaran yang mendasar
sehingga lantas bisa menjadi acuan untuk menentukan arah dan menyusun agenda.
Seperti yang telah diketahui, (a) persamaan tipe pejabat (legislator, anggota
kabinet, dan pegawai negeri sipil) ada pada dua negara dengan pendekatan yang
sama, menjadi setuju dengan beberapa tipe pengaturan yang berbeda; (b) situasi
yang serupa akan menimbulkan pembagian tanggingjawab diantara partisipan terhadap
pelanggaran pengaturan; (c) institusi yang serupa (pelayanan publik, lembaga
legislatif, dan eksekutif) terlihat memiliki derajat kompetensi dalam usaha
untuk mencegah kesalahan dalam penilaian; (d) tipe aktivitas yang serupa
(pembayaran legislatif terlebih dahulu daripada eksekutif) merupakan alasan
yang berbeda tergolong dalam pelanggaran; dan (e) lebih pada konteks
historisnya, posisi pejabat yang tipenya dalam hal kepentingan dan pemasukan
diketahui memiliki konsekuensi yang berbeda dalam penciptaan konflik. Hal
tersebutlah keseluruhan perbedaan etika dan sekalipun begitu keseluruhannya itu
disebabkan secara langsung oleh perbedaan struktur pemerintahan. Jika memang
etika pemerintahan sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Dwivendi. Sehingga
nampaknya hal tersebut sangat ditentukan oleh stuktur.




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.