Merindu Yang Muda di Palagan Pilkades Serentak Busel 2021

 


Energik, adaptif dan up to date, adalah kata-kata yang sering disematkan pada milenial. Mereka lahir di era yang range kemajuan teknologi yang sangat cepat jika dibandingkan dengan generasi diatasnya.

Dari analog ke digital tak berselang lama, seperti baru kemarin sore memencet tombol eh, tiba-tiba besok paginya sudah layar sentuh. Dari menunggu jadwal tayangan di tv berubah tinggal ketik dikolom pencarian dikanal yutub.

Dibanding generasi diatasnya butuh puluhan tahun untuk bisa menikmati atau beradaptasi dengan perubahan2 diatas, tak heran cenderung gagap. Banyak contoh yang kita temui jokes lawas yang sering dishare pakbapak atau buibu, dan juga hoax ditebar, tanpa cek dan ricek.

Jika dilihat dalam konteks pemerintahan, gaya memerintah juga pun demikian, kebijakan yang diambil tak sesuai konteks yang benar-benar dibutuhkan pada zaman itu, salah satu contohnya program pengadaan sampan nelayan tanpa motor, program ini seolah nelayan dipaksa kembali ke zaman bahela, menggunakan tangan untuk mengayuh, padahal teknologi mesin sedemikian canggihnya.

Begitupun juga transparansi dalam pengololaan anggaran, ini nyaris tidak ada, paling yang dibuka dipublik sekedar baliho infografis yang tidak informatif sama sekali, hanya formalitas belaka, padahal fungsinya sangat urgen bukan hanya pajangan tanpa makna, tetapi bagaimana memantik partisipatif warga.

Padahal kalau jeli, ada banyak kanal yang bisa dimanfaatkan diera digital ini, smartphone menyediakan itu, sebagian besar warga juga sudah menggunakannya, harusnya ruang-ruang informasi apapun entah itu tata kelola anggaran, pemerintahan, maupun kebijakan/program dishare disana, intinya harus kreatif, ruang digital bisa dimanfaatkan. Yang intinya bagaimana memantik partipasi warga. Agar arah pembangunan tepat guna dan tepat sasaran serta transparan.

Tahun 2021 bulan November nanti, konon pilkades se Busel akan digelar serentak. Khusus di Kadatua agendanya empat desa yang akan turut melaksanakan perhelatan pesta demokrasi tersebut.

Melihat kondisi kepemimpinan saat ini, yang banyak diisi generasi gagap, terbesit dibenak saya harusnya pos-pos kepemimpinan di pemerintahan dimasuki oleh anak-anak muda yang kreatif dan punya ide dan gagasan yang maju sesuai dengan kondisi masyarakat dan konteks zaman. Bukan lagi berada diluar atau dilevel aparatur yang hanya jadi kacung tanpa memberi kontribusi dan pengaruh pada arah kebijakan di desa.

Memang memasuki arena pilkades laiknya memasuki palagan, tantangan cukup berat karena sebagian masyarakat masih banyak yang mempertahankan status quo, memilih bukan berdasar pada nalar rasional yang notabene suka akan gagasan yang dibawa oleh kandidat, tetapi masih transaksional berdasar pada uang.

Tetapi kita tidak boleh pesimis, ini tantangan yang harus dijawab. Kalau bukan sekarang kapan lagi?

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.