"Jangan hanya jadi pemain kampung terus" begitu sambutan Kades Kapoa dalam pembukaan turnamen futsal kids 9 agustus kemarin.
Memang beberapa tahun belakangan, kegiatan serupa minim atau bahkan sudah tidak pernah diadakan. Kita hanya fokus pada turnamen orang-orang dewasa.
Generasi usia belasan SD-SMP selalu luput, bakat mereka terpendam dan terkubur, tidak adanya ruang-ruang bagi mereka untuk membumikan skill & talenta, pada akhirnya liar hingga terjerumus hal-hal negatif.
Sudah beberapa kali pergantian generasi tidak ada talenta kadatua yang menembus skala daerah ataupun nasional, selalu berputar pada tarkam (Baca: antar kampung). Nah memang turnamen yang sering diadakan selama ini tujuannya hanya sekedar cari keringat dan rame-rame kampung.
Maka sudah seharusnya generasi kadatua disiapkan dengan matang sejak usia dini, dilatih dan dibiasakan ikut dalam kompetisi diturnamen, agar skil dan mentalnya terbentuk. Kemudian lapangan-lapangan yang dibangun oleh pemerintah difungsingkan, bukan jadi pajangan yang kosong melompong.
Ketika Futsal Kids Kapoa Cup diadakan lagi tahun ini, saya turut senang, seolah ada kebangkitan, ternyata masih ada pemuda desa yang peduli, pada generasi dibawahnya.
Ini menjadi preseden baik, yang harus dibumikan bukan hanya di Kapoa, tetapi semua desa dikadatua tanpa terkecuali.
Kita bisa belajar dari Apriani Rahayu Juara Badminton Olimpiade Tokyo baru-baru ini, seorang anak yang tinggal dipelosok desa anggaberi Konawe, bisa berprestasi dan membanggakan nama daerah dan negara.
Saya meyakini, jika generasi muda kadatua, skillnya terus diasa. Tak menutup kemungkinan beberapa tahun kedepan akan ada apriani-apriani baru di Kadatua.
Memang beberapa tahun belakangan, kegiatan serupa minim atau bahkan sudah tidak pernah diadakan. Kita hanya fokus pada turnamen orang-orang dewasa.
Generasi usia belasan SD-SMP selalu luput, bakat mereka terpendam dan terkubur, tidak adanya ruang-ruang bagi mereka untuk membumikan skill & talenta, pada akhirnya liar hingga terjerumus hal-hal negatif.
Sudah beberapa kali pergantian generasi tidak ada talenta kadatua yang menembus skala daerah ataupun nasional, selalu berputar pada tarkam (Baca: antar kampung). Nah memang turnamen yang sering diadakan selama ini tujuannya hanya sekedar cari keringat dan rame-rame kampung.
Maka sudah seharusnya generasi kadatua disiapkan dengan matang sejak usia dini, dilatih dan dibiasakan ikut dalam kompetisi diturnamen, agar skil dan mentalnya terbentuk. Kemudian lapangan-lapangan yang dibangun oleh pemerintah difungsingkan, bukan jadi pajangan yang kosong melompong.
Ketika Futsal Kids Kapoa Cup diadakan lagi tahun ini, saya turut senang, seolah ada kebangkitan, ternyata masih ada pemuda desa yang peduli, pada generasi dibawahnya.
Ini menjadi preseden baik, yang harus dibumikan bukan hanya di Kapoa, tetapi semua desa dikadatua tanpa terkecuali.
Kita bisa belajar dari Apriani Rahayu Juara Badminton Olimpiade Tokyo baru-baru ini, seorang anak yang tinggal dipelosok desa anggaberi Konawe, bisa berprestasi dan membanggakan nama daerah dan negara.
Saya meyakini, jika generasi muda kadatua, skillnya terus diasa. Tak menutup kemungkinan beberapa tahun kedepan akan ada apriani-apriani baru di Kadatua.




0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.