(Sumber Foto: Yasin Ghibyran)
Beberapa kali kurefresh timelineku untuk memperbaharui postingan diberanda untuk sekedar melihat fanpage media yang membagikan updatean berita hari ini, postingan ikan asin kambala ini juga selalu ikut muncul.
Seolah menggugat jempolku untuk meresponnya, tak berpikir panjang kuturuti gugatan itu, kubuka memo diaplikasi hapeku, kubuat catatan kecil tentangnya.
***
Saumlaki berada dipulau Yamdena secara administratif adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku, lokasinya berada diujung paling selatan Indonesia berbatasan laut dengan negeri Kanguru-Australia. Kepulauan Tanimbar memiliki potensi laut yang begitu melimpah, dalam sebuah liputan Media Mongabay tahun 2017 menyebut potensi perikanan Tanimbar mencapai 2,4 juta ton (Baca: DISINI).
Jika dilihat dari peta jaraknya membentang sungguh sangat jauh beratus atau mungkin beribu kilo meter dari pulau kecil Kadatua, pulau asal ikan asin kambala itu.
Ada banyak Orang Buton yang sudah berdiaspora sejak lama disana, tak hanya di Kota Saumlaki, dipulau-pulau sekitarnya semisal Larat, Adaut, dll.. juga ada, dan bahkan secara administratif sudah berKTP Tanimbar, disana mayoritas mereka berprofesi sebagai nelayan dan berniaga.
Jika kita berjalan di kawasan pasar lama dekat pelabuhan atau pun pasar baru dekat terminal angkutan darat Kota Saumlaki, berjejer kios-kios yang sebagian besarnya diisi oleh Orang Buton, tak heran celetuk bahasa pancana dan wolio kerap kali terdengar. Pengalaman saya yang pernah kesana, memasuki kawasan itu seperti berada di kampung sendiri (Buton).
Diantara jejeran kios-kios itu satu kios yang terbilang unik, nama kiosnya ia namai dengan nama desa di Kadatua "Toko Mawambunga", jajakan dagangannya tak lazim sepeti toko pada umumnya, selain kelontong biasa, ia juga menjajakan makanan ringan dari Buton, mulai dari Jipang, Kacang Mete, Gola Kaluku, dan yang terakhir ikan asin. Ya ikan asin khas Mawambunga, yakni Ikan kambala atau familiar orang menyebutnya ikan indosiar (karena mungkin kemiripan pada logo indosiar yang siripnya panjang dan bisa terbang) yang sudah dikeringkan, lalu dimasukan dalam kemasan sederhana.
Awalnya ikan asin kemasan ini hanya dijajakan di Kadatua oleh anak muda di Desa Mawambunga dan sesekali dipromosikan via medsos, hingga suatu waktu pemilik toko Mawambunga yang saya sebutkan diatas meliriknya untuk dicoba dijajakan di Kota Saumlaki, dari situlah ikan asin kemasan ini terbang melintasi lautan dan ribuan pulau hingga keujung paling selatan, lalu berakhir dilapak toko Mawambunga.
Sebagian kita mungkin heran kok bisa di Kepulauan Tanimbar yang kaya potensi ikan itu, ada ikan import dari Buton. Tentu ada alasan lain dari pemilik toko ini saya belum mengetahui pasti apa motivasinya, tetapi saya meyakini ada spirit untuk mendukung produk asal kampung halamannya, ia membantu para wirausaha muda untuk membukakan akses pasar.





0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.