Milenial Di Lingkungan Pemerintah Desa

 


Akhir tahun 2021, dengan seragam putih-putih mirip seragam Angkatan Laut (cuma yang membedakan logo topi AL logonya jalesveva jayamahe sedang kades garuda) 14 Kades hasil pemilihan serentak itu dikukuhkan dan diambil sumpah. Empat diantaranya berasal dari kecamatan Kadatua: Banabungi, Lipu, Bansel, dan Waonu. 


Kesemuanya itu mayoritas berlatar dari generasi 60 dan 70. Meski generasi milenial 80 dan 90 turut meramaikan bursa tetapi ternyata mayoritas warga masih menginginkan kepemimpinan dari kalangan bapak-bapak. 


Namun milenial 80-90 tidak serta diabaikan, mereka biasanya ditempatkan pada posisi aparatur, dari kasi, kaur, hingga sekdes. Harapannya terjadi kolaborasi bapak-bapak sebagai nahkoda pemegang kemudi, sedangkan milenial sebagai penggerak mesin. Lambat atau cepat, serta dimana arah kapal menuju tergantung kolaborasi apik mereka. 


Kolaborasi itu beberapa tahun belakangan sudah dilakukan, tetapi hasilnya belum terlihat, ragam kebijakan yang diambil masih jauh dari kata tepat guna dan tepat sasaran, miskin inovasi dan aksi. Yang nampak hanya pameran keki. 


Lalu apa yang keliru? Kolaborasinya kah? SDM aparaturnya kah? Atau Kadesnya yang egois tidak menerima masukan & saran? 


Entahlah... biarkan ini menjadi PR bersama. Tetapi saya berharap para kades yang baru dilantik beberapa hari ini, melakukan upaya terobosan, juga para milenial yang dilingkungan pemerintah jangan pernah bosan terus menambahan pengetahuan & wawasan, terbuka pada kritik dan masukan, agar tercipta ide-ide inovatif sehingga roda pemerintahan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.