Jumat malam yang gabut, cuaca saat itu juga kurang bersahabat, cerah lalu gerimis.
Tiba-tiba notifikasi pesan WA bergetar, "merapat kita ngopi santai diteras rumah" seorang teman menyeru. Tak berpikir panjang kutancap gas. Menorobos tajamnya air langit.
Sesampai disana tepat diteras rumahnya dibilangan Jalan Erlangga kopi sudah tersedia bersiap untuk diseruput. Obrolan pun dimulai, dari soal remeh temeh, hingga sesekali merambah ke yang serius.
***
Ada berapa jumlah mahasiswa Kadatua yang berstudi di Kota Baubau? Tanya seorang teman seraya memantik diskusi.
"Sekitar tujuh puluh, ini data yang diketahui, yang belum teridentifikasi masih banyak" sahut salah satu mahasiswa.
Mendengar jawaban itu, saya tercengang. Secara kuantitas berarti potensi sumberdaya Manusia Kadatua sudah sangat banyak. Kalau misal di hitung kotor mulai dari tahun 2010 hingga 2021, dengan rata-rata 70/angkatan berarti sekitar 700an lebih. Angka yang begitu fantastis!
Meminjam omongan Bung Karno Jika 10 pemuda saja bisa menggunjang dunia apalagi 700?
Namun sayang 700 itu hanya sebatas angka, Kadatua belum terguncang, masih tertatih-tatih. Hal ini bisa dilihat dari peran dan partisipasi dalam pembangunan di desa yang cenderung pasif.
Musyawarah dan rapat-rapat desa masih diwarnai kata setuju, tidak ada lalu lintas nalar yang bekerja untuk melakukan silang pendapat, kritik, gagasan serta tawaran-tawaran program yang membangun.
Belum lagi ruang kreatif yang senyap, masih berkutat pada wilayah otot, dalam hal ini senam dan futsal yang ujungnya hanya mencari keringat bukan menumbuhkan talenta untuk bagaimana bisa berprestasi.
Lalu apa yang keliru Bung?
Tanyakan pada domino kabuki yang dikocok.
Apalah arti angka 700 kalau hanya huruf singkatan gelar yang bertengker dibelakang nama tanpa isi!
Seharusnya ini menjadi intropeksi kolektif, bukan lagi berkutat pada kuantitas, levelnya sudah harus dinaikkan ke kualitas.
Yang masih aktif berstudi, perbanyak belajar membaca menulis, temui orang-orang baru, berorganisasi dan berdiskusi. Yang sudah alumnus mengevaluasi dan bersuara lebih lantang!
Karena Kadatua sudah harus seribu langkah lebih maju, dan itu bergantung pada potensi manusianya!



0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.