Lemahnya Partisipasi Warga dan Glomournya Kehidupan Elit Desa (Bag. 2)


Suhu kota malam itu dingin sekali, menusuk hingga tulang belulang, saking dinginnya dagu juga ikut tremor bak mesin jahit.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, kopi nyaris tandas, rokok juga sisa sebatang. Tetapi obrolan kian seru.

"Kita cari rokok dulu, baru lanjut" ajaknya
Oke gas...

Disepanjang jalan mencari kios yang buka, kami melewati kafe remang-remang, konon katanya tempat ini surga bagi para manula yang rindu belaian belia. Menurut teman yang pernah bekerja disana ketika musim "proyek" tempat ini ramai pengunjung.


Sesampai dirumah sepulang berkelana mencari alat pengasapan, ia melanjutkan ceritanya.

***

Selama warga terus diam, para elit desa ini akan terus menggarong dana desa.

Mereka ini kerjanya senyap bak mafia yakuza, berbagai cara dilakukan. Mulai dari manipulasi nota pembelajaan dan kwitansi yang harga barangnya sudah dimarkup diseusaikan dengan RAB,  serta pemalsuan tantandangan pejabat berwenang, hingga menduplikat stempel-stempel toko penyedia barang, tujuannya agar  LPJ keuangan benar-benar sesuai.

Disitulah kenapa ada "keuntungan" seperti yang dimaksud aparatnya. Mereka ini jahat, bak firaun. Ditengah kesusahan warga, mereka berpesta pora, hidup glamour.

Mungkin kita sering kali mendengar kata "keuntungan" proyek pembangunan fisik atau pengadaan barang didesa, tetapi kita mafhum saja berpikir bahwa itu uang capeknya, tanpa sadar mereka telah menipu kita semua. Padahal mereka sudah digaji.

Untung-untung kalau uang capeknya hanya 300ribu atau 500ribu mungkin kita bakal memaklumi, tetapi realita angkanya fastatis mencapai puluhan bahkan ratusan juta.


Tak heran kualitas bangunan fisik ataupun barang begitu-begitu saja, dua tiga tahun dipake rusak dan roboh karena lagi-lagi barang tidak sesuai rencana pembelajaan.

Mereka tertawa dibelakang meja-meja kafe remang sambil meneguk air soda ditemani para belia malam, sembari melihat kebodohan kita. Mereka berpesta tanpa sedikitpun merasa bersalah.

Ketika pilkades kita mati-matian membela mereka setelah menjadi, kita dijadikan pesakitan. Sungguh betapa biadabnya.

***

Langit nyaris terang, sebentar lagi matahari memancarkan sinarnya, tak terasa obrolan kami malam itu menembus pagi.

"Sudah mo pagi, kita rehat.. lain waktu baru kita koja-koja lagi" tandasnya..

Sayapun membunyikan kuda besiku, pamit pulang lalu memacunya membela jalan kota yang sudah ramai lalu lalang dan hilir mudik penjual sanggara bandang dan nasi kuning.

SELESAI.

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.