Entah karena apa tiba-tiba obrolan malam itu menyerempat ke hal-hal yang membikin dada ini mengelus.
Ia bercerita tentang oknum Kades dan aparatnya yang baru pulang pencairan Dana Desa tahap satu sekitar 300juta lebih.
Pada saat itu kebetulan ia sedang belanja dipasar tak sengaja bertemu dua orang elit desa itu, karena sekampung dan mungkin sudah akrab dan diyakini bisa menjaga rahasia, ia diajak ke warung makan.
Sambil menunggu makanan datang, kades menanyai aparatnya yang kebetulan duduk bersebelahan "coba cekkan kembali rencana program tahap satu ini sekitar berapa makan anggaran?"
"Paling duaratus jutaaan pak, keuntungan 100 lebih" jawab aparatnya
"Oke kalau begitu pisahkan 10 buat hiburan sebentar malam."
Sebelum ia melanjutkan ceritanya, saya bertanya "maksudnya keuntungan apa? Bukannya dana desa diporsikan untuk semua item kegiatan yang sudah terencana. Tidak ada namanya keuntungan, lagi pula dana itu bukan milik pribadi kepala desa atau aparatnya, tetapi uang negara. Anggaran yang terpakai harus dilaporkan sesuai pembelajaan.
Sampai disini dia tersenyum, lalu dia lanjutkan ceritanya, warga desa itu asal sudah diberikan bantuan atau dibangunkan sesuatu mereka sudah bersyukur, anggap saja itu sebagai pengunci mulut warga untuk tidak bertanya soal kesesuaian harga, kualitas barang dan lain-lain.
Mendengar cerita itu laksana palu godam raksasa yang diturunkan dari langit untuk menghantam dada ini, getir rasanya. Seraya membantin betapa buruknya praktik pengelolaan anggaran di didesa oleh elit desa, parahnya lagi ia memanfaatkan ketidaktahuan warganya.
Apakah tidak ada satu pun manusia didesa yang menyanggah ataupun menanyakan itu?
Apa fungsi BPD sebagai mitra pemerintah untuk melakukan tugas pengawasan?
Bagaimana peran intelektual desa untuk bersuara lantang? Apakah nurani mereka mati, takut atau apa? Entahlah...
(bersambung)



0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.