Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan

 



Setiap akhir tahun, kita sering kali merenung, merefleksi perjalanan hidup, dan menyusun harapan baru untuk tahun mendatang. Namun, refleksi ini tak hanya sebatas pada kehidupan pribadi. Sebagai bagian dari masyarakat Kadatua, ada baiknya kita juga memikirkan masa depan bersama, terutama terkait pembangunan dan potensi kampung kita, Kadatua.


Kecamatan Kadatua telah melewati babak-babak panjang sejarah pembangunan. Saat ini layanan dasar telah tersebar dihampir 10 Desa. Jaringan listrik sudah terkoneksi kesemua desa meski masih 15 jam, demikian halnya internet walaupun dibeberapa desa koneksinya belum stabil.


Selain itu layanan pendidikan sudah cukup terpenuhi, ada 10 SD, 4 SMP, serta SMA dan SMK. Serya fasilitas kesehatan juga telah tersedia yakni: Puskesmas Kadatua dan Kadatua Timur.


Namun, salah satu pencapaian paling signifikan adalah terbukanya jalur Labulengke-Kapoa. Jalur ini tidak hanya menghubungkan seluruh desa di Kadatua, tetapi juga menciptakan jalan lingkar yang mempermudah akses antar desa. Tidak ada lagi desa-desa yang terisolasi; waktu dan jarak kini terpangkas secara signifikan.


Sebagai generasi 70 hingga 90an, sulit bagi kita membayangkan bagaimana wajah Kadatua di masa lalu dan membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, terbukanya jalur ini seolah membuka harapan baru, memberikan kita gambaran tentang potensi besar yang belum tergarap sepenuhnya.


Kawasan Kadatua Timur, khususnya jalur Labulengke-Kapoa, memiliki pesona alam yang luar biasa. Tebing-tebing indah, sabana yang menyejukkan mata, serta pemandangan sampan nelayan & kapal-kapal besar yang hilir mudik menuju Kota Baubau menawarkan daya tarik wisata yang tidak bisa diabaikan. Apalagi, panorama saat senja di kawasan ini begitu memikat.


Lokasinya yang dekat dengan Baubau dan mudah diakses membuat kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata. Bahkan, sebelum kawasan wisata lain seperti Waburi Park dan jembatan lingkar Wawoangi-Sampolawa menjadi tren, Kadatua sudah menjadi tempat favorit untuk berkemah, terutama oleh warga Baubau diwaktu weekend.


Kita berharap ada terobosan dari pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata di kawasan ini. Fokus utama seharusnya ada pada dua desa, yakni Kapoa dan Banabungi Selatan. Sebab kedua desa ini memiliki keunggulan geografis dan daya tarik wisata yang dapat dioptimalkan.


Tentunya ini akan memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Homestay, warung makan, kedai kopi, transportasi lokal, hingga produk kerajinan bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi warga.



Orang Kadatua sudah lama merantau dan berdiaspora, utamanya di Timur Indonesia; Maluku dan Papua. Tradisi merantau yang telah diwariskan turun-temurun ini mulanya didominasi oleh profesi nelayan dan pedagang. Generasi pertama para perantau Kadatua jarang memasuki dunia birokrasi atau menjadi pejabat publik. Namun, pola ini kini mulai berubah.


Hari ini, kita dapat dengan bangga menyaksikan perubahan tersebut. Anak-anak Kadatua tidak hanya berprofesi sebagai nelayan atau pedagang, tetapi juga merambah profesi yang lebih beragam seperti guru, karyawan BUMN, anggota TNI/Polri, hingga menjadi tokoh politik. 


Salah satunya adalah Herman Gafur, putra Kadatua yang berhasil menembus panggung politik sebagai anggota DPRD Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, dua periode dan juga sekaligus Ketua DPC PBB Kab. Mikikam


Kabupaten Mimika sendiri memiliki populasi lebih dari 300ribu jiwa adalah wilayah yang kompleks secara sosial dan politik. Namun, ia mampu menavigasi tantangan ini dengan baik, membuktikan bahwa anak Kadatua bisa bersaing dan berkontribusi di tingkat daerah yang jauh dari kampung halaman.


Hal ini tentu memberikan insipirasi dan pelajaran yang berharga bagi kita khususnya generasi muda, bahwa batas geografis bukanlah penghalang untuk meraih mimpi besar. Dengan kerja keras, pendidikan, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, anak-anak Kadatua memiliki peluang yang sama untuk mencapai kesuksesan.


Dan tentunya menjadi pengingat bahwa merantau bukan sekedar mencari penghidupan, tetapi juga sarana untuk membangun jembatan kontribusi. Ketika seseorang sukses di perantauan, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat di kampung halaman melalui inspirasi, motivasi, dan bahkan kontribusi nyata seperti dukungan pembangunan.


Namun, cerita sukses seperti ini tidak muncul begitu saja. Tentu ada dukungan yang kuat, baik dari keluarga, lingkungan, komunitas, maupun pemerintah. Pendidikan harus menjadi prioritas utama, terutama bagi anak-anak di Kadatua, agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk bersaing & punya daya juang.


Olehnya itu seharusnya ini menjadi cambuk motivasi bagi seluruh komponen masyarakat dan stakeholder di Kadatua untuk terus mendukung pendidikan dan pemberdayaan generasi muda. Sebab, di balik setiap kisah sukses di perantauan, ada akar yang kuat dari kampung halaman yang mendukungnya. 

 


Tahun 2024 menjadi tahun penting bagi Buton Selatan (Busel), karena untuk kedua kalinya daerah ini akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sejak pemekarannya pada tahun 2014. Pilkada kali ini seharusnya menjadi momen refleksi dan perbaikan bagi seluruh masyarakat Busel, mengingat pengalaman pahit yang telah kita alami selama satu dekade terakhir.


Belajar dari Pengalaman Pahit


Buton Selatan, sejak resmi berdiri sebagai daerah otonom, tidak terlepas dari persoalan yang memprihatinkan. Bupati definitif pertama dan wakilnya yang menggantinya, yang seharusnya menjadi figur pemimpin yang memimpin dan memberi contoh teladan, justru terlibat dalam kasus hukum. Kejadian ini sangat disayangkan karena bukan hanya mencoreng nama baik mereka sebagai individu, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan daerah.


Tidak berhenti disitu, masalah rekrutmen CPNS yang setiap tahun selalu diwarnai dengan isu kecurangan semakin memperburuk citra pemerintahan. Bagaimana mungkin sebuah daerah yang masih muda dan memiliki potensi besar untuk berkembang, terus-menerus dikecewakan oleh oknum-oknum yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya?


Pilkada 2024: Momentum untuk Berubah


Menghadapi Pilkada 2024, masyarakat Buton Selatan harus lebih cermat dalam memilih pemimpin. Pengalaman masa lalu seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 


Kita harus mengingat bahwa Pilkada bukanlah sekadar rutinitas politik lima tahunan, tetapi sebuah proses menentukan arah masa depan daerah. Pemimpin yang terpilih akan menentukan bagaimana kebijakan pembangunan dilaksanakan, bagaimana kesejahteraan masyarakat ditingkatkan, dan bagaimana keadilan ditegakkan.


Pemimpin yang kita butuhkan bukan hanya sekadar mereka yang populer atau memiliki modal besar untuk kampanye, tetapi mereka yang benar-benar memiliki komitmen untuk membangun Busel dengan hati dan integritas. Kita memerlukan pemimpin yang mampu mendengarkan suara rakyat, bekerja dengan transparansi, dan berani mengambil keputusan yang adil meskipun itu tidak populer. Pemimpin yang memiliki visi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat, bukan yang hanya mencari keuntungan sesaat.


Sudah saatnya kita membangun kesadaran kolektif untuk masa depan Busel yang lebih baik. Kita tidak bisa lagi membiarkan daerah ini dijadikan bancakan oleh segelintir orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Pilkada 2024 adalah kesempatan emas bagi kita untuk memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan positif bagi daerah ini.


Memang memilih pemimpin berintegritas bukanlah tugas yang mudah, terutama di tengah berbagai godaan dan tekanan. Namun, kita harus yakin bahwa memilih pemimpin yang tepat adalah investasi terbaik untuk masa depan. 


Pemimpin yang berintegritas akan memastikan bahwa kebijakan yang diambil adalah untuk kepentingan rakyat banyak, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. 


Mereka akan berusaha keras untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel, yang akan membawa Buton Selatan menuju kemajuan dan kesejahteraan.


Kita semua harus mengambil peran aktif dalam menentukan masa depan Busel. Pilkada 2024 adalah kesempatan kita untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan membangun fondasi yang lebih baik untuk masa depan. Dengan demikian, kita tidak hanya mengubah nasib Busel tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang akan mewarisi daerah yang lebih baik dan lebih sejahtera.

 


Menjadi pendidik adalah panggilan jiwa yang mendalam. Mereka yang sejatinya adalah orang-orang yang sejak awal mencintai proses belajar, memiliki keinginan kuat untuk berbagi ilmu, dan merasa resah melihat kebodohan di sekelilingnya. Pendidik sejati tidak melihat profesinya sebagai sekadar pekerjaan atau jalan menuju karir yang lebih baik, tetapi sebagai misi mulia untuk mencerdaskan generasi. 


Sayangnya, fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran motif di kalangan calon pendidik, yang mengkhawatirkan bagi masa depan pendidikan kita.


Banyak orang masuk fakultas pendidikan bukan karena kecintaan pada dunia pendidikan atau panggilan hati untuk menjadi guru. Mereka masuk hanya karena melihat peluang besar untuk diterima sebagai PNS. Motivasi ini, meskipun pragmatis, seringkali tidak berkesesuaian dengan semangat yang dibutuhkan untuk menjadi pendidik yang baik. Alhasil, ketika mereka akhirnya lulus dan menjadi guru, dedikasi mereka sering kali kurang maksimal. Mengajar hanya menjadi rutinitas formalitas yang tanpa makna, dan proses belajar-mengajar pun kehilangan rohnya.


Ketika seorang guru tidak menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, dampaknya tentu saja dirasakan oleh siswa. Siswa adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya ditempa dengan ilmu dan keterampilan yang memadai untuk menghadapi tantangan masa depan. Sayangnya, ketika pengajaran dilakukan hanya untuk memenuhi kewajiban formal, kualitas pendidikan yang diterima siswa menjadi rendah. Mereka tidak mendapatkan inspirasi, motivasi, atau pemahaman mendalam tentang materi yang diajarkan. Akibatnya, proses pendidikan menjadi mandek dan tidak mampu menghasilkan SDM yang kompeten.


Lebih parah lagi, sikap kurang berdedikasi dari para pendidik ini dapat menular kepada siswa. Mereka mungkin saja melihat guru mereka yang tidak bersemangat dan menganggap bahwa belajar juga tidak penting. Rasa malas dan acuh tak acuh terhadap pendidikan dapat tumbuh dan berkembang di kalangan siswa, menciptakan generasi yang kurang termotivasi dan kurang berprestasi.


Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu dari guru ke siswa, tetapi lebih dari itu. Pendidikan adalah proses pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai, dan pengembangan potensi individu. Untuk menjalankan peran ini dengan baik, seorang pendidik harus memiliki panggilan hati. Mereka harus memiliki rasa cinta terhadap profesinya, kesabaran yang tinggi, dan keinginan kuat untuk terus belajar dan berkembang.


Panggilan hati ini tidak bisa dipaksakan. Mereka yang masuk dunia pendidikan hanya karena melihat peluang karir atau tuntutan ekonomi cenderung tidak memiliki ketahanan mental yang cukup untuk menghadapi tantangan dalam dunia pendidikan. Sebaliknya, mereka yang memiliki panggilan hati akan mampu menghadapi berbagai rintangan dengan semangat dan tekad yang kuat, karena mereka merasa bertanggung jawab untuk mencerdaskan anak bangsa.

 


Sadar atau tidak, entah mungkin keliru, satu-satunya kantor pemerintahan di Kadatua yang tidak mengalami perubahan adalah Kantor Camat Kadatua. 


Ketika mendengar Kantor Camat Kadatua akan direnovasi, pikiran seolah kembali ke dua dekade yang silam. Di tempat inilah, seluruh elemen masyarakat kadatua dahulu berkumpul, bergotong royong membabat kawasan belantara untuk dijadikan pusat pemerintahan serta aktivitas warga, seperti lapangan voli dan sepak bola marawali. 


Perjuangan itu menandai dimulainya era baru bagi Kadatua dalam menyambut pemekaran kecamatan tahun 2003, resmi memisahkan diri dari wilayah administrasi Kecamatan Batauga. Dahulu, warga harus menyebrangi lautan untuk mendapatkan layanan publik, namun kini, semua urusan dan aktivitas kecamatan berpusat di Pulau Kadatua.


Transformasi besar juga terlihat dalam layanan pendidikan. Pada masa awal, SD hanya berjumlah tujuh, kini telah bertambah menjadi sembilan. SMP yang dulunya hanya ada satu, kini menjadi empat. Untuk tingkat sekolah menengah atas, yang dahulu harus ditempuh ke Kota Baubau dengan menyebrangi lautan, kini tersedia SMA dan SMK di Kadatua. 


Namun, di balik segala perubahan ini, pendidikan kita masih menghadapi tantangan besar. Pendidikan kita masih berkutat pada formalitas, sementara dunia terus berkembang menuntut inovasi dan kreativitas agar anak-anak dapat berprestasi di segala bidang, tidak hanya akademis tetapi juga non-akademis.


Kualitas pendidik menjadi tumpuan utama. Jika dahulu banyak guru berasal dari luar, kini banyak guru merupakan putra-putri asli Kadatua. Ini adalah perkembangan positif yang harus diapresiasi dan terus didorong.


Melihat masa depan, kita harus menyadari bahwa tantangan dalam dunia pendidikan bukan hanya soal jumlah sekolah atau sarana fisik semata, tetapi juga kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan dengan perkembangan zaman. Harus ada kesadaran kolektif di antara seluruh unsur di Kadatua, baik pemerintah, guru, maupun masyarakat, untuk berkumpul, duduk bersama, dan berdialog tentang masa depan pendidikan dan sumber daya manusia kita.


Kita perlu introspeksi diri. Apakah pendidikan yang kita berikan saat ini sudah memadai untuk menghadapi tantangan masa depan? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa anak-anak Kadatua mendapatkan pendidikan yang tidak hanya memadai, tetapi juga unggul dan relevan dengan kebutuhan zaman?


Salah satu kuncinya adalah kolaborasi. Pemerintah harus menyediakan fasilitas dan kebijakan yang mendukung. Guru-guru perlu terus meningkatkan kompetensinya dan menerapkan metode pembelajaran yang inovatif. Masyarakat harus terlibat aktif dalam mendukung pendidikan, baik melalui partisipasi langsung maupun dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.


Kita juga harus membuka diri terhadap teknologi dan metode pembelajaran baru. Dunia digital menawarkan banyak peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Penggunaan aplikasi pembelajaran, metode pembelajaran jarak jauh, dan alat bantu digital lainnya dapat membantu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.


Selain itu, kita perlu mendorong anak-anak untuk berprestasi di berbagai bidang. Pendidikan tidak boleh hanya fokus pada pencapaian akademis. Keterampilan lain seperti olahraga, seni, dan keterampilan hidup juga harus mendapat perhatian. Dengan demikian, kita bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, inovatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan.


Momentum dua dekade Kadatua ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan perjalanan yang telah kita tempuh dan menentukan langkah ke depan. Kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah arah yang kita ambil sudah benar? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan masa depan Kadatua?


Jika berkunjung disuatu tempat dimanapun jika melihat tulisan besar baik itu tullisan  dibelakang mobil truk, dikaca depan mikrolet,  baliho, spanduk, maupun papan nama, enggan rasanya untuk abai membacanya, kadang tulisannya unik hingga membuat tersenyum tipis dan kadang  juga membuat kita berpikir dan bergumam dalam hati "kok bisa ya" manakala tulisan itu keliru.

Ambil contoh, papan nama diinstansi pemerintah yang notabene pegawainya diisi oleh orang-orang yang pernah menyenyam bangku sekolah, dan tentunya mempelajari PPKN. Sebut saja KANTOR di DESA, KELURAHAN, dan KECAMATAN

Disekolah mungkin dibangku SD diajarkan bahwa ada beberapa lembaga negara dari tingkat pusat, tingkat 1, 2 dan Kecamatan dan Desa.

Dipusat yakni Negara RI dipimpin oleh seorang presiden, tingkat 1 yakni Provinsi dipimpin oleh Gubernur, dan tingkat 2  Kabupaten/Kota dipimpin dipimpin oleh Bupati/Walikota sedang level dibawahnya adalah Kecamatan dipimpin oleh Camat, Kelurahan oleh Lurah serta Desa oleh Kepala Desa.

Masing-masing para pemimpin lembaga ini memiliki Kantor atau tempat ia bertugas, Kantor ini harus disebut kantor pemimpin lembaga tersebut, misal presiden, Kantor Presiden (ada dalam istana mencangkup tempat tinggal dan kantor), Kantor Gubernur dan seterusnya sampai kelevel Kelurahan dan Desa disebut Kantor Lurah/Kantor Kepala Desa.

Jadi keliru jika ada yang menuliskan Kantor Desa, Kantor Kelurahan atau Kantor Kecamatan.

Tahun 2020, mayoritas para kades seolah terjangkit virus "ikut-ikutan" lagi, jika dulunya program pengadaan sampan tanpa motor bagi nelayan yang boleh dibilang tidak jelas pemanfaatannya (Baca: sampan dibawah kolong rumah), kali ini pembangunan SORGA Desa‐-Sarana Olah Raga Desa.

Desa-desa di Kadatua, secara massal membangun sorga, dipoles sedemikian rupa, cantik serupa kekasih sehabis mandi. Indah menawan.

Entah apa yang terlintas dibenak para pemangku kebijakan di desa-desa ini, setiap program selalunya serempak, jika desa yang satu membuat program lalu diadopsi desa-desa lainnya, apakah sudah kehabisan ide, bingung uang banyak mau diapakan, atau mungkin sekedar memuaskan hasrat agar dibilang membangun.

Tidak perlu membuka & membaca banyak literatur tentang bagaimana pembangunan itu, secara garis besar dan umum pembangunan memiliki banyak aspek yang harus dilihat, mulai perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, hingga dampak dan keberlanjutan.

Kalau dilihat kasat mata SORGA yang dibangun oleh para kades ini secara pelaksaannya mantap, lalu bagimana dengan pemanfaatannya serta dampak dan keberlanjutannya?

Disini tentu yang harus diperhatikan adalah perencanaannya sebelumnya!!! Mau dibuat bagaimana modelnya, dan manfaatnya untuk apa nantinya?

Jika hanya jadi ruang bermain bagi pemuda desa untuk mencari keringat, membuat turnamen yang skalanya kecil, seolah ada yang kurang. Habis turnamen, keringat kering. Ya sudah Selesai... Besok ulang lagi, terus-menerus seolah tak ada dampak.

Tapi kan, membikin kampung rame, melatih mental berkompetisi agar tak demam lapangan.

Turnamen di Kadatua sudah tak terhitung jumlahnya setiap tahun ada dan rutin. Ramai dan mental bagaimana lagi yang ingin dicari.

Harusnya sudah naik level, bukan lagi taputar-putar disitu. 

Tapi harus dampak, dampak yang saya maksudkan disini bukan keringat ataupun kumpul-kumpul biar rame.

Namanya saja SORGA, ada kata ORGA didalam, apa itu? OLAHRAGA, BAMBANG!!!

OLAH RAGA itu mindsetnya bukan mencari keringat, tetapi seni dan pretasi.

Kok seni? Ada keindahan disana, keindahan menggiring, menipu lawan dengan teknik, dll..

Terus, Kok pretasi? Ada kompetisi disana, bagaimana mengalahkan tim terbaik diantara yang terbaik itu, membanggakan Bung!!!

Kompetisinya berjenjang ada level, begitupun dengan prestasi bisa skala nasional hinggga internasional. Dan lagi-lagi membanggakan daerah dan negara. Sekali lagi bukan hanya sekedar mau cari keringat.

Tapi ketinggian sekali kalau ngomongnya prestasi tingkat nasional hingga internasional.

Mengutip omongannya Bung besar, mimpi harus setinggi langit, jika kau jatuh, jatuhnya diantara bintang-bintang.

Jika mindset kita SORGA adalah wadah membibit manusia unggul dibidang olahraga seperti saya maksud diatas, mulai sekarang sudah mulai digagas apa-apa yang diperlu dipersiapkan.

Masih bingung lagi?

Mulai kembali membaca literatur bagaimana memasimalkan latihan, sering ikut dalam persahabtan atau kompetisi lintas daerah atau bisa juga menghadirkan pelatih, atau apalah yang intinya fungsi SORGA menjadikan generasi kita bermental Juara. BUKAN MENCARI KERINGAT SEMATA.

"Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan" -Imam Syafi'i-




Quote diatas sengaja saya Bold dan perbesar supaya kita merenungi pesan daripada quote diatas.

Quote tersebut sering mengusik saya, ketika saya terlena dengan aktivitas yang tidak produktif misal game, sosmedan, ngobrol ngalur-ngidul gak jelas, langsung kayak ada perasaan bersalah diusia muda tidak digunakan untuk mengeksplore dan belajar banyak hal.

Padahal sangat penting, manakala kita sedang ngobrol serius sama teman atau guru, ahli atau semacamnya misal yang diobrolin urusan yang menyangkut persoalan background pendidikan kita atau hal-hal umum tentang fenomena sosial, ekonomi atau lingkungan sekitar, yang memancing  kita untuk mengmeukkaan pendapat atau perspektif, jika kita tidak cukup pengetahuan tentu ini jadi momok. 

Saya sendiri pernah mengalaminya, banyak hal, mungkin salah satu contohnya ketika saya ngbrol sama teman-teman disini (malang), sebelum saya kesini (malang maksdunya), mungkin saya terlalu jemawa saya anggap pengetahuan saya sudah cukup, apalagi yang diobrolin soal jurusan saya, nah ketika itu yang dibrolin soal desententralisasi diindonesia yang konon masih banyak persoalan, banyak tumpang tindi aturan, saat itu saya langsung menanggapi seolah-olah hebat dengan persepektif yang hanya menurut pribadi saya, lalu teman ini menyanggah dan menyampaikan dari banyak persepketif dimulai dari histori, kemudian kultur dan perbandingan dengan desentralisasi yang diterapkan negara luar. pengetahuannya luas sekali.

Mau pengen menanggapi dan menyanggah tapi tidak cukup pengetahuan, saya terdiam, sembari ngangguk-ngangaguk. dalam hati saya merasa wahhh ngeri ternyata memang harus banyak belajar, nyesal dulu gak pernah mengasah atau memperharui pengetahuan dengan bacaan, pada akhirnya sangat perih. lagi-lagi betul pesan imam syafii diatas.

Ini mungkin salah satu contoh dari saya pribadi, tapi ketika menengok disekitar kita banyak hal semacam ini, tidak usah jauh-jauh mungkin dikampung kita sendiri, disana banyak warga kampung kita yang dibodoh-bodohi pejabat, ketika ada proyek pengaspalan jalan misalnya, yang kita tau yang penting jalan ini mulus dan bagus, kita tidak melihat secara detailnya, berapa anggarannya, bagaimana bahan-bahannya agar aspal tersebut berkualitas, dll,,,, dan bisa saja kita ditipu atau dibohongi, anggarannya dimark up atau jenis bahannya di manipulasi, pada akhirnya jalan tersebut tidak bertahan lama.

Jika kita cukup pengetahuan akan hal tersebut, tentu kita akan cari tahu semuanya, misalnya jika kemudian pejabat itu tidak transparan kita bisa menuntutnya.

Inilah pentingnya belajar banyak hal, agar kita tidak dibodoh-bodohi, dan ketika kebetulan lagi membahas suatu kasus atau membedah sesuatu masalah kita bisa turut menyampaikan uneg-uneg dengan dalih atau dasar yang jelas, dan tentunya penjelasan atau perspektif kita lebih masuk akal, dari pada sekedar  ngomong gak jelas dan gak berdasar akan membuat kita malu sendiri, dan bahkan perih ketika disanggah.
"Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan" - Tan Malaka-

Quote keren ini harusnya menjadi inspirasi, bahwasannya kaum terdidik itu harus bijak dan peka melihat fenomena yang terjadi disekitar.

Ya saat ini sudah banyak masyarakat Indonesia yang mengeyam bangku kuliahan, bukan hanya orang kaya, maupun orang kota, anak Desa juga walaupun dengan penghasilan seadanya bisa punya kesempatan yang sama.

Tapi yang membedahkan adalah soal kehidupan pasca kuliah, karena banyaknya industri di Kota biasanya orang kota bekerja juga di Kota, beda halnya anak Desa, ia punya tanggung jawab lebih, karena kondisi di Desa masih tertinggal, jadi bukan hanya mencari kerja tapi harus cari cara untuk turut berkontribusi memajukan desa.

Maka dengan bermodalkan ilmu dan pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah, si anak desa pulang, mengisi posisi-posisi kosong misal ada yang jadi guru honorer, tenaga medis honorer, perangkat desa, dan juga sering nyambi kerja proyek desa, atau jadi petugas sensus atau KPPS jika ada. Seiring berjalannya waktu alumni terus bertambah, posisi yang tadinya sudah diisi masih juga ditambah, alhasil jumlah sarjana menumpuk.

Meski sudah menumpuk kayak gitu masih juga bertahan, alasannya supaya namanya masuk dalam SK Bupati atau apalah namanya agar diakui sebagai tenaga honorer yang sah dan berharap diprioritaskan ketika ada kebijakan pemerintah pusat terkait dengan pengangkatan tenaga honorer menjadi pegawai Negeri Sipil.

Hal kayak gitu biasa saja, buka persoalan, mau gimana lagi begitulah realita di Desa,,,
tapi jangan bergantung sama itu juga donk!!! Harus bergerak dan berbuat, apa saja yang bisa dikembangkan di Desa. 

Kuncuran Dana Desa tiap tahun digelontorkan hingga mencapai milyaran kemudian setiap program selalu dimmusyawarakan bersama dengansemua warga desa, disnilah pentingnya keterlibatan para sarjana, tau sendirikan gimana pemahaman kepala desa dan warga desa, programnya itu-itu mulu, jalan setapak. MCK, dan semua yang berkaitan dengan Fisik.

Padahal banyak hal yang bisa dikembangkan, berkaca dari desa-desa yang sukses, misal Desa Pujon Kidul di Kabupaten Malang (Jatim), disana dikembangkan Objek Desa Wisata yang dikelola oleh BUMDES, konon omsetnya per tahun itu mencapai milyaran. Gila kan???

Olehnya itu ini bukan tugas Kepala Desa saja, tapi para sarjana di Desa juga, untuk bagaimana peka terhadap potensi desa, apa saja yang bisa dikembangkan, kemudian diusulkan di musyawarah Desa lalu dieksekusi dan dijalankan bersama. itu baru sarjana desa keren yang membangun, bukan jadi beban negara saja yang menunggu gaji honorer dan mengharap mau diangkat jadi PNS. 
Usai sudah pagelaran pesta demokrasi akbar Republik Indonesia, alhamdulilah prosesnya bisa berjalan dengan lancar, tertib, dan aman……..

Meskipun banyak menyisahkan problem, missal sedikit ada kecurangan, maupun beberapa petugas/penyelenggara di tingkat TPS banyak yang mengelami kelelahan hinggu berujung pada kematian. Tapi inilah realita demokrasi pemilu serantak yang diselenggarakan pertama kali, yang konon katanya pemilu kali ini sebagai pemilu terumit didunia.

Ada banyak ilwuman sosial, hingga wapres JK beberapa hari lalu memberikan keprihatinan dan komentar terkait ini, bahwa kedepannya harus di evaluasi.


Disini saya tidak komentari hal demikian (pemilu serentak yang rumit itu), tapi lebih pada mengeluarkan uneg-uneg saya melalui tulisan di Blog ini terkait dengan apa yang dihasilkan oleh pemilu ini khususnya di daerah saya (Buton Selatan), apakah orang-orang yang terpilih sudah merupakan kader unggul yang bias mengawal dan memperjuangkan aspirasi? Mari ikuti cerita saya! hehehehe

Di Kampung saya Buton Selatan (Busel) Pemilu kali ini sangat berbeda dengan pemilu yang lalu-lau, kalua dulu masih tergabung dengan induknya Kabupaten Buton wilayah busel digabung semua dalam 1 dapil yang terdiri dari 7 kecamatan (Batauga, Kadatua, Siompu, Siobar, Sampolawa, Lapandewa, Batu Atas) ketujuhu kecamatan tersebut sekarang masuk wilayah Busel,.

Maka pemilu kali ini wilayah Busel ini dibagi menjadi 4 Dapil: Dapil 1 meliputi Batauga dan Kadatua, Dapil 2 Siompu-Simpu Barat, Dapil 3 Sampolawa, dan Dapil 4 Lapandewa dan Batu Atas.
Saya menyoroti khusus Dapil 1 spesifik kec. Kadatua yang juga merupakan kampung halaman saya, ceritanya kemarin saya hubungi teman dikampung untuk menanyakan kabar gimana hasil pileg siapa-siapa yang lolos menurut hasil hitung cepat oleh timses mereka, ia menyampaikan sesuai dengan kabar yang beredar dikampung bahwa yang dinyatakan lolos khusus orang asli Kadatua ada 4 orang.

Saya pun terdecak kagum, wahhh luar biasa, dari 6 kursi yang disediakan untuk wilayah daerah pemilihan satu 4 diantaranya diborong oleh orang Kadatua. Tapi setelah teman menyampaikan nama orang-orang tersebut saya langsung lemas pesimis. Saya cukup kenal dengan Ke empat orang tersebut ,mereka adalah yang memang kurang pengalaman organisasinya, ada yang pengusaha, preman, penngguran, dan yang satunya lagi istri bupati.

Lantas dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa mayoritas warga dikampung saya ini belum sepenuhnya menjadi pemilih cerdas, yang mengedepankan rasioanlitas dengan prefernsi memilihnya berdasar pada rekam jejak dan melihat pergaulan sosial masing-masing calon. Padahal kalua ditelaan dan dicari dari sekian banyak calon, ada orang-orang yang memiliki kualitas yang baik, tapi inilah realitas yang terjadi.

Tidak menutup kemungkinan lima tahun mendatang kalau dilihat dari kualitas DPRD hasil pileg 2019 ini akan terjadi hal yang sama seperti yang lalu-lalu, bahwa para legislator Busel masih belum amanah, dan bahkan tidak paham tugas mereka untuk menjadi penyambung lidah rakyat. Hal ini bisa dilihat dari hasil kinenrja DPRD 5 tahun lalu hanya satu perda inisisiatif yang dihasilkan, kebanyakan mereka melakukan studi banding diluar daerah hanya untuk berdarmawisata. Hmmm Kasiannnn Buselku……………………………()

Jika menyebut "KADATUA" tentu terbesit di kepala kita adalah tentang tempatnya para pelaut & perantau ulung, namun tak hanya itu pulau ini juga memiliki segudang potensi lain yang tersembunyi.
Apa itu?
Warisan sejarah, budaya dan Alam yang mempesona.
Sebut saja kekayaan budaya, pekakaua, silat manca, balaba, dan tenun buton.
Juga alam, mulai dari ujung Banabungi hingga Kapoa, pantai one mopute, tebing labulengke, danau teilalo, puncak banawa, kaliliwuto mawambunga, dan lainnya..
Tentu bila dikelola dengan baik akan berdampak positif bagi kemajuan daerah dan ekonomi masyarakat di Busel terkhusus di Bumi Kadatua.
Tetapi selama ini kita abai dan lupa dgn potensi itu, pemerintah kita masih berkutat pada pembangunan fisik (Jalan setapak, talud) dan berulang-ulang sejak digulirkan DANA DESA pada tahun 2014 & bila dilihat tdk terlalu berdampak signifilan terhadap pembangunan ekonomi masyarat. Kadatua tetap stag, dan sepi seperti kota mati.
Apa yang keliru?
Pengelolaannya kah?
Ketidaktahuan pemerintah kah? Atau apa?
Tidak usah saling menyalahkan, sbg orang kadatua yg cinta akan kampung halamannya, kita harus intropeksi diri. Kadatua tak selamanya tidur panjang terus... ia juga punya masa depan yang ingin maju seperti daerah2 lain.
Olehnya Melalui FESTIVAL yang diwacanakan oleh tmn2 melalui Grup ini, saya harap bisa menjadi pijakan awal untuk memancing atensi masyarakat dan pemerintah, untuk kiranya meneruskan & Membumikan Kadatua!!!

*Tulisan ini pernah saya posting di Grup KAMPUNG KADATUA tanggal 24 November 2018 lalu (Lihat DISINI) menanggapi wacana Festival Perairan Kadatua yang beredar di Grup