Geliat pembangunan di Kadatua tak terelekan, pesimisme dahulu bahwa pulau dengan lahan tandus sulit berkembang ini, terpatahkan, kuncuran DD dan ADD dari pemerintah Pusat dan Kabupaten, terus mengalir tiap tahun, hal ini disambut gempita oleh para Kepala Desa, dengan berbagai macam program, mulai dari jalan tani, bak penampungan air, MCK, dll, kemudian belum lagi rencana Pemerintah Kabupaten Buton Selatan mengenai pembangunan jalan lingkar serta pelabuhan ferry. sebagai warga saya sangat gembira dengan rencana-rencana progran tersebut, dengan harapan pulau ini kelak akan muncul dan tumbuh pusat-pusat ekonomi baru.
Namun disisi lain berbagai program pembangunan tersebut ternyata berbanding terbalik dengan upaya pelestarian lingkungan, salah satunya di Desa kapoa, aktivitas penambangan pasir yang melibatkan masyarakat begitu masif dan liar, sungguh sangat memprihatinkan, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi kedepannya, pemerintah seolah menutup mata dan malah bersinergi dengan parah pengeruk tersebut dalam mendukung program pembangunan yang ada di Desa.
Jika hal ini terus-menerus dibiarkan, tatkala nanti akan terjadi abrasi. dan mengancam keberlangsungan hidup apalagi kondisi geografis pulau Kadatua boleh dibilang kecil sangat rentan terhadap bencana khususnya manakala terjadi gelombang laut, bila merujuk pada konsensus global (PBB), telah dirumuskan 17 item mengenai tujuan pembangunan berkelanjutan, poin pentingnya adalah "pembangunan yang berwawasan lingkungan dan partipasi masyarakat" dan juga oleh pemerintah Indonesia telah menetapkan regulasi sebagaimana tertuang dalam Perpres 59/2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Panduan mengenai pembangunan telah terjabarkan dengan jelas, seharusnya menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk membangun dengan tidak asa-asalan, tapi lebih mengedepankan keberlangsungan hidup bersama.



0 Comments:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.