Jika menyebut "KADATUA" tentu terbesit di kepala kita adalah tentang tempatnya para pelaut & perantau ulung, namun tak hanya itu pulau ini juga memiliki segudang potensi lain yang tersembunyi.
Apa itu?
Warisan sejarah, budaya dan Alam yang mempesona.
Sebut saja kekayaan budaya, pekakaua, silat manca, balaba, dan tenun buton.
Juga alam, mulai dari ujung Banabungi hingga Kapoa, pantai one mopute, tebing labulengke, danau teilalo, puncak banawa, kaliliwuto mawambunga, dan lainnya..
Tentu bila dikelola dengan baik akan berdampak positif bagi kemajuan daerah dan ekonomi masyarakat di Busel terkhusus di Bumi Kadatua.
Tetapi selama ini kita abai dan lupa dgn potensi itu, pemerintah kita masih berkutat pada pembangunan fisik (Jalan setapak, talud) dan berulang-ulang sejak digulirkan DANA DESA pada tahun 2014 & bila dilihat tdk terlalu berdampak signifilan terhadap pembangunan ekonomi masyarat. Kadatua tetap stag, dan sepi seperti kota mati.
Apa yang keliru?
Pengelolaannya kah?
Ketidaktahuan pemerintah kah? Atau apa?
Tidak usah saling menyalahkan, sbg orang kadatua yg cinta akan kampung halamannya, kita harus intropeksi diri. Kadatua tak selamanya tidur panjang terus... ia juga punya masa depan yang ingin maju seperti daerah2 lain.
Olehnya Melalui FESTIVAL yang diwacanakan oleh tmn2 melalui Grup ini, saya harap bisa menjadi pijakan awal untuk memancing atensi masyarakat dan pemerintah, untuk kiranya meneruskan & Membumikan Kadatua!!!

*Tulisan ini pernah saya posting di Grup KAMPUNG KADATUA tanggal 24 November 2018 lalu (Lihat DISINI) menanggapi wacana Festival Perairan Kadatua yang beredar di Grup

Membincang Peran pemuda di Jaman OLD dalam mengisi perjalan bangsa tak pernah habis dibahas, dari Sumpah pemuda 28, Malari, hingga Reformasi 98, perannyapun selalu dilandasi dengan semangat juang dan ingin berkontribusi nyata untuk indonesia lebih baik.
Namun pertanyaannya gimana dengan Pemuda(i) Zaman NOW Indonesia, khususnya di Pulau KADATUA?
Jika dilihat, sampai saat ini perannya belum begitu signifikan padahal warga yang berusia Muda dan berpendidikan cukup banyak, dan Paguyuban (organisasi Kepemudaan/OKP) juga ada, dan terstruktur misal: HIPMIKAD, FESMAK, Karang Taruna, dan lain-lain. Ide gagasan, tindakan dan suara bungkam. Seolah mati dan tak berdaya melihat beragam potensi dan permasalahan yang di Kadatua.
Maka sebagai antitesa dari OKP yang mati tersebut, HIMALAKA hadir sbg repsentatif kegelisahan. Upaya perlahan dilakukan berbagai macam giat-giat ditunjukkan. Seperti Oase ditengah gurun pasir, ternyata masih ada anak-anak muda yang peduli dengan kampung halamannya.
Harapannya kehadiran mereka ditengah kegelisahan tersebut menjadi titik awal dan tamparan keras bagi kita semua. Bahwasannya sebagai pemuda pemilik estafet perubahan zaman. Maka kita harus turut turun tangan bersama dan berkontribusi nyata. Apapun itu! Untuk membereskan dan menunjukkan eksistensi kita bahwa Pemuda Kadatua Bisa!

*Tulisan ini pernah saya posting pada tanggal 30 Oktober 2017, lalu di Grup FB KAMPUNG KADATUA adalah merupakan bentuk dukungan saya kepada teman-teman HIMALAKA yang melakukan kerja-kerja kreatif.
Geliat pembangunan di Kadatua tak terelekan, pesimisme dahulu bahwa pulau dengan lahan tandus  sulit berkembang ini, terpatahkan, kuncuran DD dan ADD dari pemerintah Pusat dan Kabupaten, terus mengalir  tiap tahun, hal ini disambut gempita oleh para Kepala Desa, dengan berbagai macam program, mulai dari jalan tani, bak penampungan air, MCK, dll, kemudian belum lagi rencana Pemerintah Kabupaten Buton Selatan mengenai pembangunan jalan lingkar serta pelabuhan ferry. sebagai warga saya sangat gembira dengan rencana-rencana progran tersebut, dengan harapan pulau ini kelak akan muncul dan tumbuh pusat-pusat ekonomi baru.

Namun disisi lain berbagai program pembangunan tersebut ternyata berbanding terbalik dengan upaya pelestarian lingkungan, salah satunya di Desa kapoa, aktivitas penambangan pasir yang melibatkan masyarakat begitu masif dan liar, sungguh sangat memprihatinkan, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi kedepannya, pemerintah seolah menutup mata dan malah bersinergi dengan parah pengeruk tersebut dalam mendukung program pembangunan yang ada di Desa.

Jika hal ini terus-menerus dibiarkan, tatkala nanti akan terjadi abrasi. dan mengancam keberlangsungan hidup apalagi kondisi geografis pulau Kadatua boleh dibilang kecil sangat rentan terhadap bencana khususnya manakala terjadi gelombang laut, 
bila merujuk pada konsensus global (PBB), telah dirumuskan 17 item mengenai tujuan pembangunan berkelanjutan, poin pentingnya adalah "pembangunan yang berwawasan lingkungan dan partipasi masyarakat" dan juga oleh pemerintah Indonesia telah menetapkan regulasi sebagaimana tertuang dalam Perpres 59/2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Panduan mengenai pembangunan telah terjabarkan dengan jelas, seharusnya menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk membangun dengan tidak asa-asalan, tapi lebih mengedepankan keberlangsungan hidup bersama.