Jeda Membikin Tumpul

Setelah terlepas dari ruang akademik formal, dan memasuki rimba publik  yang sarat akan santuy, jiwa yang sebelumnya menggebuh-gebu ingin terus belajar kian memudar. Ruang publik itu begitu wenak.

Saya merasakan itu, apalagi kelasnya baru ingin memulai mengembangkan diri atau memoles potensi, seperti yang saya ceritakan dalam postingan diblog ini sebelunya bahwa tahun ini saya baru memulai belajar nulis.

***

Menjadikan menulis sebagai kebiasaan perlu konsistensi, tapi alangkah rumitnya ketika masuk ruang nyata yang tidak ada lagi yang bisa menyemangati. Diluar ternyata  banyak sekali godaaan atau hal yang membikin kita malas, kerjaan nongkrong atau membincang hal-hal yang gak jelas dan tidak penting, pengennya santuy truss. dan tidak mau membebani otak dengan berpikir atau berlatih lagi.

Tapi kadang dirasuki juga pikiran, sayang sudah dimulai kalau gak dilanjutin, sepertinya inilah potensi bung, kerjakan!

Maka untuk mengembalikan keinginan untuk berlatih, saya memilih merantau kembali, menjauh dulu dari lingkungan yang membikin tekad menjadi ambyar dan tumpul itu. 

0 Comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, berkomentarlah dengan bijak, baik dan tidak spam.