Sebagai wilayah yang geografisnya dikelilingi lautan, Pulau Kadatua harusnya menjadikan kelautan sebagai leading sector untuk memajukan ekonomi warganya, potensi lautnya khususnya perikanan tangkap cukup tinggi, menurut data BPS Tahun 2021 mencapai 6068 ton dengan total rumah tangga nelayan sebanyak 812, namun geliat ekonomi belum terlihat. Penyaluran bantuan bagi nelayan entah melalui Dana Desa ataupun bantuan DKP Buton Selatan (Busel) masih berkutat pada alat tangkap dan perahu/Kapal, padahal masalah utama nelayan adalah keterbatasan akses pasar, hasil tangkapan nelayan tidak tersentuh dan masih menjadi bancakan para tengkulak.


Revitalisasi Pasar rakyat di Desa Kaofe dan Mawambunga yang puluhan tahun mangkrak oleh Pemerintah Kabupaten Busel belum menjawab persoalan yang dihadapi nelayan, pasar hanya direhabitilasi tetapi tidak ada stimulant dan evaluasi yang dilakukan oleh dinas terkait, setelah dibangun kemudian ditinggal, hanya bertahan beberapa bulan saja setelah itu kembali mangkak tidak ada aktvitas jual beli, pada akhirnya nelayan di Pulau ini menjual hasil tangkapannya kembali kepada para tengkulak (papalele) dengan harga yang relatif rendah atau menjualnya langsung ke Kota Baubau atau ke Pasar Lapara Siompu dengan jarak yang cukup jauh, dan tentu ongkos bahan bakar yang dikeluarkan pun tidak sedikit.


Belum selesai persoalan pasar rakyat, tahun 2022 ini Pemkab Busel kembali melakukan pengembangan Dermaga Desa Kapoa sebagai fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dengan total anggaran yang digelontorkan 1,2 milyar, tentu ini menjadi angin segar bagi masyarakat nelayan di Pulau Kadatua, mengingat TPI mempunyai peranan sangat penting dalam kegiatan perikanan dan juga merupakan salah satu faktor yang menggerakan dan meningkatan kesejahteraan nelayan, keberadaannya bisa membuka akses pasar membantu aktivitas nelayan yang ingin menjual hasil tangkapannya dengan cepat serta harga yang memadai.


Namun agar fasilitas TPI yang dibangun nantinya tidak sia-sia, maka perlu regulasi yang mengatur sebagai pedoman pelaksanaan agar pengelolaannya terarah, dan bisa terus dievaluasi manakala ada kendala. Agar kejadian pasar rakyat yang mangkrak tidak kembali terulang. Dan keberlasungannya terus dinikmati oleh para nelayan.

 


Tahun 2022 ini beberapa tempat di jazirah Buton Selatan akan dibangun beberapa patung. Diantaranya Patung Hatibi Bula dan Lalole di Siompu Barat, Syekh Abdul Wahid di Batu Atas, serta di Pulau Kadatua sendiri yakni; PATUNG WA ODE POGO, yang konon akan menelan anggaran 240 Juta.

Ketika mendengar rencana ini, imajinasi seolah traveling, entah seperti apa visualisasi bentuk dan wajah Wa Ode Pogo itu. Sebab selama ini tidak ada satu pun lukisan maupun cerita mengenai bagaimana ciri dan bentuknya.

Sosoknya dalam memori kolektif orang kadatua, direkam dalam tradisi lisan bahwa ia adalah putri bangsawan kerajaan yang diasingkan lalu kemudian membangun peradaban. Warisannya hingga kini masih bisa dilihat; adat serta peninggalan berupa benteng dan gua bekas hunian.

Kita tahu patung adalah ikon sekaligus sebagai penanda suatu peristiwa maupun tokoh. Agar orang yang melihatnya, mengenang dan mengingatnya. Dan mungkin diejawantah dalam laku kehidupan.

Olehnya itu membangun patung bukan perkara mudah, tidak boleh asal jadi, apalagi sekedar memburu laba proyek. Sebab ia mengandung makna, nilai, falsafah, dan estetika.

Tentu seyogyanya diperlukan kajian secara mendalam terhadap semua aspek yang terlibat dalam pembangunan, apalagi sosok Wa Ode Pogo, sebagaimana saya sampaikan diawal tadi, visualisasinya masih sangat samar.

Maka keterlibatan tokoh adat dan masyarakat sangatlah penting agar patung yang dibangun itu nantinya benar-benar dapat dimaknai secara tepat.

 


Sebelumnya saya belum pernah mengenal, mendengar atau membaca tentang kapal legendaris ini, entah karena buku sejarah saat masih duduk dibangku sekolah dulu tidak mencantumkannya atau karena saya sendiri yang malas baca. 


Kemungkinan paling sahih yang kedua: MALAS BACA!!. Hehehe...


Nanti ketika lanjut kuliah di sebuah kota dingin di jawa timur, kota yang tidak habis-habisnya memanjakan manusianya dengan banyaknya buku murah. Disinilah awal perkenalan saya dengan kapal tersebut.


Tak ada rencana saat itu, disuatu siang ketika pulang dari kampus, kebetulan lewat di Pasar Buku Wilis, saya pun singgah untuk sekedar lihat-lihat, sembari menanti waktu sore untuk balik ke kost.


Beberapa jam keliling dari lapak ke lapak, secara kebetulan, mata saya tertuju pada sebuah buku yang sampulnya berwarna biru muda bergambar kapal layar di kios paling pojok. 


Karena saya asalnya dari Pulau, yang notabene laut dan kapal adalah kehidupan kami sehari-hari, kaki saya pun tergerak untuk  melihatnya buku itu lebih dekat.


Ternyata betul, buku itu sesusai yang tertera disampulnya adalah tentang kapal. Lebih jelasnya berjudul SEBUAH KISAH NYATA DEWA RUCI, PELAYARANAN PERTAMA MENAKLUKAN 7 SAMUDRA. Terbitas Kompas, yang ditulis seorang kadet asal Sulawesi Utara.


Ketika melihat nama penulisnya berasal dari sulawesi dan ceritanya tentang pelayaran. Meski tersegel, tanpa mengetahui isinya, buku itu kuangkut dan langsung pulang ke kostan. Kurang lebih dua hari buku sudah ku lahap habis.


Jarang saya keranjingan membaca buku dalam hitungan hari, biasanya minggu atau bahkan tidak tamat. Saya tipikal orang yang cepat jenuh, apalagi bahasanya berat dan membingungkan. Tapi ketika membacanya buku itu seolah berada dalam cerita.


***


Akhir bulan desember tepatnya tanggal 28 dan 29, tahun 2020, sebuah link webinar zoom bertemakan Jalur Rempah dibagikan di grup WhatsApp.


Jalur rempah? Apalagi nih... (pikirku saat itu). Rempah yang hanya dalam benakku, yang ku ketahui saat masih duduk dibangku SD, bahwa Belanda datang ke Indonesia karena rempah-rempah, itu saja, tidak lebih. Tidak ada kisah lain dibaliknya.


Maka untuk mengobati rasa penasaaranku mengenai tema webinar itu, ku searcing di Google, rupanya tentang alur perdagangan rempah masa lalu yang coba dihidupkan kembali.


Webinar itu seolah membuka tabir yang selama ini ternyata banyak tidak kuketahui, apalagi mengenai sejarah rempah nusantara.


Semenjak itu, saya tak melewatkan manakalah ada link atau artikel tentang rempah, tahun 2021 saya membeli Majalah Natgo edisi khusus rempah, dan juga menonton film dokumenter berjudul Banda: The Dark Forgotten Trail di Netflix.


Ternyata rempah-rempah memuat banyak kisah, bukan hanya tragedi (penjajahan) yang familiar kita dengar dalam buku-buku sejarah disekolah, tetapi disana juga ada akulturasi budaya, agama, dan persahabatan antar nenek moyang kita dari ujung selat malaka hingga banda naira. Dan bahkan bangsa-bangsa dibelahan dunia lain.


***



Saat mendengar akan di adakan ekspedisi muhibah budaya jalur rempah awal bulan juni tahun 2022 menggunakan KRI Dewa Ruci, dan salah satu titik lokasi singgah yang akan dilalui ditahap pertama adalah Pulau Buton. Tak sabar saya menanti.


Hingga akhirnya 8 juni lalu tepatnya, Kapal layar yang memuat para laskar rempah itu pun tiba dipelabuhan Murhum Baubau, salah satu pelabuhan tua yang berabad-abad lalu juga pernah menjadi bagian dalam alur perdangan rempah. Ragam sambutan hangat masyarakat Buton, hingga tarian-tarian penyambutan.


Selama persinggahannya di Baubau selama dua hari, KRI Dewa ruci mengadakan open ship bagi siswa dan masyarakat umum untuk bisa melihat langsung kapal legendaris milik TNI AL itu. Tak mau ketinggalan, saya juga turut serta melihat langsung dan mengabadikannya.