Pilkades di KAPOA tuh menarik untuk ditelaah karena selisih tipis, kalau disengketakan ini mempengaruhi suara.

Jadi kalau mau gugat. Cari dulu kasusnya. Dimana GAP antara REGULASI dan IMPLEMENTASI.

Pelajari semua pelaksanaannya mulai dari proses pendaftaran, penetapan calon, DPT, dll.. dan tentunya harus mengacu pada regulasi, jika ada GAP berarti itu temuan. Bisa digugat. 

Maka pihak tergugat disini adalah PANITIA sedangkan penggugat adalah Tim yg merasa dirugikan. Disitu nanti pihak panitia, dan para Calon akan dimintai keterangannya, lalu bola panasnya akan dilempar ke BUPATI. Terserah nanti apa putusannya. Hanya beliau dan bapak diatas yang tau.

Cuman ini memiliki dua konsekuensi, pertama, bagi masyarakat yang memahami proses demokrasi, ini pelajaran penting & berharga serta mencerdaskan karena adu bukti, argumen & tafsir atas regulasi & implementasi, kedua, bagi warga yang kurang memahami mekanisme seperti itu, siapa-siap saja di CAP NEGATIF, tidak legowo, ambisi dan lain-lain. 

Dan kalau tidak mau ada sengketa, serta mau menerima hasil pilkades dengan lapangdada ini luar biasa. saya angkat topi dan satu kata KEREN.

Gimana kabar kalian semua dikampung yang baru saja memilih?
Kami harap ketika kalian membaca surat ini dalam suasana penuh kegembiraan dan sehat wal'afiat.

***

Jujur waktu mendengar kabar bahwa tahun ini dibeberapa Desa akan melaksanakan pilkades, perasaan kami bahagia bercampur cemas, bahagia karena akan ada sirkulasi kepemimpinan di Desa melalui pesta demokrasi, para calon ditantang kembali, yang petahana akan diuji kinerjanya dan penantang akan diuji tawaran programnya lalu warga akan menentukan pilihannya dimana yang terbaik diantara yang baik.

Kemudian cemas karena takut akan terjadi polarisasi (keterbelahan) di tengah warga, mengingat pilkades tahun ini jaraknya sangat dekat dengan Pileg yang dilaksanakan bulan april lalu.

Sebagian dari kami perantau memilih pulang, ada yang jadi timses dan pendukung, ada juga yang hanya sekedar  pulang lebaran untuk bertemu keluarga sekaligus melihat situasi, yang kebetulan jarak waktu antara lebaran dan pilkades hanya berselang 21 hari. 

Kami yang tidak sempat pulang dan memilih bertahan dirantau mengikuti terus tahapan dan perkembangan jalannya pilkades serentak dikampung, membaca informasi yang dipublikasi dimedia online atau posrtingan teman-teman di media sosial, maupun menelpon langsung disana untuk sekedar menanyakan kabar.

Hingga hari pencoblosan tiba Tanggal 24 Juni kemarin, kami terus memonitor, HP terus kami genggam ditangan, menunggu informasi yang terjadi disana, sebelumnya saat pagi hari itu kami mendengar kabar bahwa pilkades akan di kawal dan dijaga ketat oleh pihak kepolisian dari Polresta Baubau dan Polres Buton, perasaan kami saat itu sedikit legah, berharap tidak akan terjadi apa-apa.

Dan saat jam 3 sore informasi hasil penghitunganpun datang, keluarlah nama-nama Kades terpilih, dan alhamdulilah berjalan lancar dan damai. kamipun dirantau bersyukur.
Sungguh luar biasa.......!!!

***

Setelah berjalan damai dan lancar itu, Lalu muncul pertanyaan, apakah Pilkades selesai maka selesai juga perbedaan?

Jika berkaca dari yang lalu-lalu, pasca pilkades biasanya masih menyisahkan luka dan kekesalan bagi sebagian warga, khususnya bagi mereka yang dukungannya kalah dan tidak mau menerima ataupun bagi mereka yang menang dan merasa jumawa (sombong), hingga berujung pada kerenggangan antar keluarga  dan tidak mau bertegur sapa.

Apakah hal seperti itu yang diinginkan? tentu tidak donk.

Pilkades hanya ajang 6 tahunan, dan ini sudah sering dilaksanakan dikampung, harusnya kita semua belajar, bahwa politik itu hanya alat untuk mencapai suatu tujuan, sebagaimana pisau yang pada dasarnya netral. tergantung siapa pengguna alatnya, bisa jahat, bisa baik. Jahat dalam artian menghalalkan segala cara dan menyimpan dendam, baik kalau digunakan  dengan santun, waras dan akal sehat.

Lalu dititik manakah warga kita dalam berpolitik sudah mapankah hidup berdemokrasi? Entah, Tergantung masing-masing individu.

Tapi harusnya kita memilih opsi kedua, politik secara santun, mengedepankan logika dan akan sehat serta menerima semua konsekuensi yang ada. apapun hasilnya, hingga nantinya tercpai kemapanan dalam berdemokrasi.

Kalah secara kuantitatif elektoral bukan berarti kalah total, ia bisa dikonversi menjadi kekuatan kualitatif, mengawal, menawarkan ide  serta kritis. Dan bagi pihak yang menang seyogyanya siap mendengarkan masukan, agar terjadi keseimbangan, agar pemerintahan berikutnya terus berjalan diatas rel yang benar.

Begitulah harapannya.

Sekian surat kegelisahan ini,
Peluk, Cium dan Rindu dari Kami yang jauh dirantau buat kalian semua disana.
SALAM HANGAT DAN SALAM PERSAUDARAAN
Menyantap sarapan pagi sembari membuka facebook untuk mengecek timeline dan notifikasi, muncul postingan FB diberanda saya Tasrifin Tahara tokoh akademisi asal buton yang juga berprofesi sebagai dosen Antropologi Unhas. dalam postinganya itu tertera Foto sertifikat berupa penghargaan yang diberikan kepada "La Ode Malim" oleh Perkerabatan Masyarakat Kepulauan Buton (Perekat Kepton) di Kendari,  yang ditandatangi pelindung lembaga tersebut yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur Sultra, Ali Mazi.

(Sertfikat Penghargaan)

Tokoh dalam sertifikat ini memang tidak asing bagi kalangan mahasiswa di Sulawesi Tenggara (sultra), khususnya di Kota Kendari dan Baubau, namanya selalu muncul jika ada kegiatan mentoring (Mata kuliah pendidikan agama islam) di Masjid kampus ataupun Wisuda, namanya diabadikan sebagai nama Masjid di Uneversitas Halu Oleo (UHO) dan Gedung/Baruga di Universitas Dayanu Ikshanuddin (Unidayan).

Saya yang pernah berkuliah di UHO, sempat penasaran tentang tokoh ini, singkat cerita waktu jadi maba dulu dibagikan buku panduan pedoman pembelajaran, dalam buku pedoman tersebut ada bab yang membahas tentang sejarah singkat berdirinya UHO, disitu terpampang nama beliau, bahwa ia merupakan salah satu peendiri kampus dan juga sekaligus sebagai rektor pertama UNHOL (nama lama dari UHO sebelum berubah) disitulah pertama kali saya mengenal tokoh ini. Dan lebih mencengangkan dan bikin bangga beliau juga ternyata putra Asli Buton. Dalam hati waktu itu saya berkata "Luar biasa kontribusi orang terhadap dunia pendidikan di Sultra, keren"

Tak hanya itu beliau juga sebagai penulis buku, salah satu karya bukunya yang terkenal adalah "Membara di Api Tuhan" buku yang mengulas tafsir sastra "Kabanti Bula Malino" karangan Sultan Buton ke 29, Muhamad Idrus Kaimudin. Buku (Membara di Api Tuhan) ini sangat familiar kususnya dikalangan akademisi dan pecinta sastra di Sultra. Salah satu peneliti dan juga blogger Yusran Darmawan yang pernah berkuliah di negeri Paman Sam, pernah memosting diblognya, bahwa buku ini dijadikan koleksi di Perpustakaan Ohio, AS.


(Buku Membara di Api Tuhan , download DISINI)

Luar biasa kisah perjalanan tokoh ini, sebagian hidupnya dihabiskan dalam petualangan dijalan pendidikan dan literasi. Sungguh menginspirasi. Bagi kita generasi muda sultra yeng sedang atau ingin  fokus menggeluti dunia literasi, tokoh yang satu ini patut diteladani, dan dijadikan motivasi.