Karena poin traveloka yg bisa ditukarkan dengan akses majalah digital dengan gratis akhirnya punya bacaan menarik untuk bulan ini. ...hehehe..hehehe....

Tadi iseng baca Majalah Tempo edisi mnggu ini (7 sept) yg merilis hasil investigasinya, khususnya soal kebijakan pemerintah tentang swasembada gula yang kemudian diterjemahkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dengan mengundang pengusaha untuk berinventasi membuka kebun tebu dan pabriknya di beberapa Provinsi, salah satunya di Kampung saya Sultra. Tepatnya di Kabupaten Bombana.


Dalam laporan tempo tersebut, investasi pengusa asal Sulsel yang juga merupakan "sepupu" Mentan ini di Bombana sarat akan masalah, tapi demi memuluskan "sepupunya" itu Mentan menabrak aturan (tata ruang).


Saya membayangkan edisi majalah tempo ini bakal heboh besok di kampung halaman apalagi ada banyak pejabat tinggi sultra yg disebut.

Jadi inget kasus korupsi Gub Sultra dulu, gegara laporan Tempo "putar-putar duit nikel" yang semula tertutup rapat jadi terbuka lebar menjadi perbincangan publik semua kalangan di Sultra hingga berujung buih.

Mendengar kata Politik oleh mayoritas kita selalu diidentikan dengan kepentigan dan bagi-bagi kuasa antar elit ataupun dengan konstributor (penyandang dana), kepentingan masyarakat hanya sebatas jargon atau tagline ataupun sebatas pemanis setelah kekuasaan direbut maka pemanis tadi dibuang dan diabaikan. Maka tak heran Politik sering dianggap kotor.

Lalu muncul pertanyaan, kalau kotor kenapa masih ada Jurusan Ilmu Politik di Kampus?
Berarti mahasiswanya belajar yang kotor-kotor donk. Ya... Mungkin ada benarnya.......

Benar karena beralasan, sebagaimana utarakan diawal yakni "KEPENTINGAN ELIT"

Saya sebagai warga biasa saat ini dan pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Sospol, meskipun spesifikasi keilmuan bukan politik, tapi sedikit paham, bahwa politik adalah Muara segala ilmu.

Muara segala ilmu, karena segala gagasan ataupun ide pasti muaranya kesana. kok Bisa? contoj aplikasi transportasi seperti gojek untuk memudahkan masyarakat dalam hal pelayanan jasa. Ide ini tentu bagus, tapi bisa gak langsung diterapkan. ada hal-hal yang harus dilewati. yaitu KEPUTUSAN POLITIK.

Tau sendirikan gimana dulu awal diluncurkan aplikasi Gojek di Indonesia, banyak menuai kritik dan hingga berujung pada konflik antar pengemudi online dan konvensial.

Berarti disini menerapkan suatu inovasi atau ide tdidalam negara ak segampang mengkil tombol smartphone, ada hal-hal yang menjadi pertimbangan. pertimbangannya adalah Aturan agar diterima oleh semua orang. 

Aturan disini adalah domain Pemerintah,
pemerintah itu siapa???

Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, walikota, parlemen. mereka-mereka inilah yang bertugas mengatur. agar inovasi dan ide bisa dilaksanakan dan  tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan (Baca: konflik). 

Mereka adalah pejabat pemerintah sekaligus pejabat yang dihasilkan melalui pentas politik atau pesta demokrasi (Pilkada/Pemilu), keputsan yang diambil untuk mengatur adalah keuputusan politik.

Maka inilah yang saya sebut sebagai muara segala ilmu. tanpa keputusan mereka ide kita akan mengalami kemandekan ataupun tidak terlaksana.

Jadi belajarlah memahami politik, dan pilihlah orang-orang terbaik yang masuk kedalam politik, agar keputusan politik yang diambil oleh mereka bisa benar-benar pro pada keadilan sosial.
Sebelumnya saya ucapkan, selamat bulan september dan selamat tahun baru hijriyah.

Sungguh dibulan agustus kemarin kurang begitu produktif untuk menulis blog hanya beberapa tulisan yang berhasil saya post, ini  karena sesuatu dan lain hal, olehnya untuk mengaktifkan kembali keinginan menulis maka buka dengan ucapakan selamat. heheheh....

dan tema kali ini tentang Papua. Kenapa papua?


Selain karena isunya masih hangat diperbicangkan juga karena baru-baru ini saya mendapatkan komentar atau boleh dibilang semacam kritikan pedas dari teman, kakak, dan sekaligus sedaerah sama saya saya yang kebetulan bertugas sebagai pengaman di papua.

Ceritanya saat itu ada postingan yang intinya kurang lebih NKRI HARGA MATI!, sayapun membalas dengan komentar PAPUA MERDEKA! disambung dengan kalimat Merdeka dari Gizi Buruk, kelaparan, represif.

Tidak lama kemudian masuk notifikasi balasan yang bukan dari si pemosting tapi dari akun lain yang pemiliknya seperti yang sudah sampaikan diatas, ia mengomentarinya dengan kalimat JIKA BELUM PERNAH KESANA MENDING KAMU DIAM!

Kaget, seolah membungkam saya.
saya hanya tersenyum mungkin ia tidak memahami inti yang saya maksud.

Bisa jadi kata merdeka saya sampaikan itu dia pahami sebagai kata untuk melepaskan diri dari Negara, dan ingin membuat negara sendiri.

Perhatikan baik-baik, saya ulangi PAPUA MERDEKA! MERDEKA DARI GIZI BURUK, KELAPARAN DAN REPRESIF. Dalam KBBI ada 3 arti salah satunya bahwa merdeka itu adalah BEBAS! Jika dikaitkan dengan komentar saya maka maksudnya adalah Bebas dari Gizi Buruk, Kelaparan, dan Represif.

Seharusnya ini yang harus dipahami. Ketika sodara-sodara kita teriak MERDEKA! harusnya kita semua intropeksi diri kenapa sih ada teriakan itu? Ndak usah harus kesana, googling aja dengan kata kunci masalah papua, akan banyak artikel yang keluar, intinya soal ketidakadilan.

Jangan seolah-olah ada teriakan itu kita langsung menjudge bahwa mereka semua adalah separatis, dan lain-lain. apalagi dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak mengenakan bagi mereka. bodoh, primitif dan sepatutnya di perangi dengan senjata. Jangan Ferguso! Biar bagaimana Mereka adalah sodara kita! mereka adalah warga biasa sama dengan kita.

Tapi kan dana banyak digelontorkan hingga pembangunan infrastruktur yang begitu masif disana.
itu hanya sebagian penyelesaian masalah. 

Ada hal yang belum selesai, apa itu?
Kalau berdasar dari hasil temuan lipi, disebutkan bahwa ada 4 akar masalah papua:
1. Marjinalisasi dan diskriminasi terhadap penduduk asli Papua, 2. Tidak Optimalnya Pembangunan, 3. Masih ada kekerasan dan pelanggaran HAM, 4. Pro-Kontra mengenai proses integrasi Papua ke Indonesia yang belum selesai.

Dari ke 4 poin diatas mana yang belum tuntas??? Jawab dan renungkan Bung dan Nona!