Pulau Kadatua secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Buton Selatan, pulau ini banyak menyimpan keindahan alam yang mempesona yang masih tersenbunyi dan belum banyak orang tahu. Bila teman-teman kebetulan berada di Buton (Baubau) ada baiknya mengunjungi pulau ini untuk merefresh pikiran dan melihat-lihat keindahan ciptaan Tuhan.

Transportasi ke Pulau ini tidak begitu rumit, jika dari Pusat Kota Baubau, teman-teman bisa naik angkot diterminal Pasar Laelangi atau naik ojek atau becak motor (bentor) lalu menuju Pelabuhan Topa (Sulaa), tarif angkot kurang lebih Rp. 10 ribu, sedangkan naik Ojek/Bentor 20ribu, jarak tempuh sekitar 15 menit sampai ke Topa. setelah itu naik Kapal atau Ojek laut menuju pulau Kadatua, tarif ojek laut kalau reguler menunggu kapal penuh baru berangkat tarfnya per orang Rp 5ribu, tapi kalau teman-teman gak mau nunggu lama bisa langsung carter, biayanya lumayan mahal sih sekali carter kapal/ojek laut Rp. 50 ribu,  jarak tempuh dari Pelabuhan Topa menuju Kadatua kurang lebih 15 menit.

Berikut 4 wisata keren yang bisa teman-teman kunjungi di Pulau Kadatua:

1. Tebing Labulengke
2. Pasir Putih Banabungi
3. Danau Teilalo
4. Jembatan Warna Kaofe

Mudik memang menjadi hal yang paling dinanti bagi setiap orang khususnya bagi perantau jauh yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya, apalagi momentumnya lebaran. Sungguh bahagia, karena akan bertemu sanak familiy dan teman-teman kecil yang sudah lama tak bersua. seolah kerinduan dan susahnya hidup dirantau terbayar sudah.

Saya menulis soal mudik ini karena kebetulan tadi, lihat postingan sepupu saya yang mudik lebaran menggunakan kapal laut, ia mengunggah foto kondisi penumpang kapal yang padat merayap dengan tumpukkan barang-barang yang dibawa, mereka pada umumnya perantau Buton yang merantau Maluku dan Papua. Luar biasa, betapa semangatnya para perantau ini untuk pulang berlebaran dikampung halamannya

(Suasana penumpang Kapal Laut)

Lebaran kali ini berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini keluarga saya semua pulang bapak, ibu, adik, sepupu, tante, om dan seluruh perangkat keluarga lainnya.  Memang sudah lama merantau ada yang 3 hingga 6 tahun, olehnya mereka berencana berkumpul dikampung tahun ini.

Oh ya, tempat keluarga saya merantau tuh di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Prov. Maluku, teman-teman pembaca blog saya yang budiman penasaran dimana lokasi tersebut, mungkin bisa cek di Google Maps, lokasinya cukup jauh, di wilayah terselatan Indonesia masuk Daerah 3T, berbatasan laut dengan negara Australia. kalau kampung halaman saya di Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Jauh kan?

Mungkin teman-teman akan bertanya, kok bisa merantau kesana??? Nanti lain waktu saya akan ceritakan.

Lanjut soal mudik, sebelum mereka pulang sekitar bulan lalu memang saya sempat ditelpon ditanya, mau pulang gak? saya jawab kayaknya gak, soalnya urusan disini belum kelar. Ya dengan keadaan terpaksa lebaran lagi di kampung orang dan jauh dari keluarga.

Ya berlebaran dirantau memang bukan hal baru bagi saya, tahun kemarin juga saya berlebaran disini (malang), maka untuk kedua kalinya berlebaran dirantau jika tidak mudik lagi tahun ini. Tapi ya itulah risiko perantau yang menuntun ilmu di daerah orang.

Akhir-akhir ini saya sangat keranjingan mengikuti isu politik yang berkaitan dengan pilpres apalagi setelah demo yang berujung kerusuhan di jakarta tanggal 22 kemarin. Video-video serta opini saya kepoin untuk sekedar mengetahui bagaimana sih kondisi politik negri ini di Mata Para Tokoh maupun akademisi.

Cari-cari tulisan yang pas buat saya baca, eh nyarar di salah satu situs berita kepunyaan om Paloh, MEDIA INDONESIA.COM, nemu tulisan keren dari seorang intelektual terkemuka, Burhanuddin Muhtadi yang berjudul "Setelah Polarisasi (semoga) Terbit Rekonsiliasi", ia sedikit mengulas apa yang terjadi pada lanskap politik kita hari ini.

Disebutkan bahwa yang terjadi pada politik kita hari adalah KETERBELAHAN/POLARISASI yang begitu tajam hal ini karena disebabkan oleh Narasi yang dibangun saat Kampanye kemarin, yakni populisme dan politik identintas yang dikawinkan dengan strategi post trtuth (Pasca Kebenaran) dimana algoritma rasa dianggap lebih bertuah ketimbang data dan fakta sehingga melahirkan polarisasi tersebut.

Politik Identitas Ini memang bukan barang baru, tapi fenomena global, terjadi juga dibeberapa negara, bisa dilihat dari kemenangan Donald Trump di AS, Bolsonaro di Brasil, Brexit di Inggris, dan lain-lain.

Dalam tulisannya ini Burhanuddin menyajikan fakta menarik tentang gambaran polarisasi di Indonesia, ia kutip hasil exitpol yang dilakukan oleh Indikator Politik, hasilnya terjadi  kecendrenyngan memiloh berdasar pada identitas, misal dari segi agama, Muslim Tradisionalis dan Non Muslim cenderung memilih Jokowi sedang Muslim Modernis cendrung lebih memilih Prabowo.

Kalau dari segi etnis, orang Batak dan Jawa mengalami peningkatan 11% dibanding tahun 2014 memilih jokowi, kemudian pemilih Prabowo di masyarakat yang beretnis sunda mengalami stagnasi atau penurunan, tapi di Masyarakat Minang, Melayu dan Madura justru meningkat.

Banyak data-data yang disajikan dalam hasil exitpol di tulisan burhanudin tersebut, tapi saya lebih tertarik tentang gambaran data pemilih yang mendukung paslon capres/cawapres sebagaimana digambarkan diatas, betapa terbelahnya masyarakat kita, preferensi memilihnya bukan lagi pilihan rasional tapi soal kecendurangan, hal ini karena tidak terlepas narasi para tokoh yang selalu mengeborkan-gemborkan isu identitas, ini sangat mencederai demokrasi dan melupuhkan nalar kritis. Yang harusnya Pemilu itu dijadikan untuk perang ide dan gagasan justru dialihkan masuk dalam perdebatan sampah.

Begitulah tulisan singkat saya, mencoba mereview tulisan dari Burhanudin, meskipun keliatan tidak begitu mendalam, tapi mencoba, itung-itung belajar mengonmentari tulisan orang dan menangkap isi pesannya. hehehehe.... 

Oh ya hampir lupa diawal opininya itu,, Burhanuddin mengutip juga salah satu buku terbarunya yang berjudul POPULISME, POLITIK IDENTITAS, DAN DINAMIKA ELEKTORAL (2019), buku yang dilauncing bulan Maret kemarin. kayaknya menarik, cek isi ATM dulu ntar, klo semisal mencukupi mungkin langsung OTW gramedia besok, cari bukunya,,,,, dan Insya Allah nanti saya coba ulas di Blog ini.